Minggu, 26 Juni 2011

Mengunjungi Istana Siak di Kabupaten Siak Riau








Jam enam pagi saya bangun dan menelpon teman,ingin mengabarkan bahwa pagi ini bahwa saya sedang berada di Pekan Baru. Tetapi tidak ada sambutan. Namun setelah saya berangkat lagi ada panggilan tak terjawab, adik dan teman di Denpasar.Saya membalas dengan SMS saja saat sudah berada satu jam meninggalkan Pekanbaru menuju Istana Siak, kurang lebih sembilan puluh kilometer dari Pekanbaru.
Jam dua belas kami istirahat di Jembatan panjang Sungai Siak. Jembatan ini mempunyai dua menara tinggi menjulang yang di atasnya berupa bangunan tempat beritirahat.Yaitu cafe, berada pada ketinggian lebih dari duapuluh meter dari permukaan sungai.Terdapat lift untuk mencapai cafe tsb.
Kami turun mengambil gambar serta memandangi panorama Sungai Siak. Sungai ini mengalir tenang membelah hutan mangrove, semak dan perkebunan kelapa sawit yang subur. Sejauh mata memandang perkebunan sawit ini menutup permukaan areal dan perbukitan.
Jalan lintas Pekanbaru-Siak sangat bagus dan lebar.Tidak banyak tikungan bahkan jalan lurus berkilo-kilometer yang mengingatkan kita pada film-film Nevada sering kami lewati sehingga kecepatan kendaraan kami rata-rata jalan seratus.
Jam satu kami tiba di Istana Siak.Istana ini berada di kota kabupaten Siak yang sepi. Dibangun di tepi Sungai Siak.Siak belum lama menjadi kota kabupaten sehingga jalan besar yang belum selesai ditata ini masih agak sepi. Walaupun begitu perencanaan tatakotanya bagus dan rapi,sama dengan kota Pekanbaru.
Istana ini memiliki bangunan yang terdiri dari istana sultan,merupakan bangunan inti
yang memiliki dua lantai.Lantai pertama dimulai dengan tangga kanopi menuju teras. Ada ruang besar , berisi beberapa meja dan almari dan meja bundar dengan empat kursi di tengah ruangan. Di dinding kiri kanan terpasang cermin yang sangat besar dan tinggi dengan pigura berukir yang indah.Tirai-tirai bagus masih menghiasi jendela-jendela besar di kiri kanan pintu masuk dan dinding samping ruangan depan ini.
Ruang kedua dibagi menjadi dua ruangan besar. Bagian tengah terdapat meja panjang dengan kursi-kursi indah tempat persidangan atau rapat. Di sini Sultan menerima keluarga kesultanan. Ruang ini dihiasi dengan korden-korden cantik juga benda-benda keramik dan perunggu yang tersimpan di almari-almari kaca yang berpasang-pasangan di kiri kanan pintu dan dinding samping.
Bagian samping ruang ini terdapat ruang besar menyamping keluar dan berpintu langsung ke teras samping depan. Di sini kursi singgasana sultan menghadap samping kiri istana membelakangi ruang tengah, singgasana ini berupa kursi besar model Eropa minimalis namun anggun. Tidak sama dengan singgasana para sultan yang lain termasuk istana Maimun. Di depannya terdapat meja menyerupai meja makan yang sangat panjang dikelilingi kursi makan yang indah. Sepertinya ruang ini digunakan untuk perjamuan. Perabotan di istana ini hampir semuanya berwarna keemasan. Di sini juga dihiasi cermin-cermin besar berpasangan di kiri kanan jendela dan pintu.Pintu-pintu saling berhubungan di setiap ruang.
Di belakang ruang tengah adalah ruang penghubung. terdapat dua tangga melingkar, sebelah kanan pintu untuk naik dan sebelah kiri tangga turun lantai dua. Tangga ini indah terbuat dari kayu berukir warna kuning merah. Melingkar-lingkar rapat dan nyaman untuk berpijak, menandakan bahwa pembuatan tangga ini dilakukan dengan cermat bentuk dan ukuran-ukurannya.
Dalam ruang penghubung terdapat berpasang almari besar untuk penyimpanan perabot besar, seperti belanga perunggu keramik dan sebagainya.
Dan ruang terakhir adalah ruang belakang yang pendek berpintu lebar di tengah menampakkan koridor keluar istana menuju bangunan-bangunan lain di belakang dan kiri kanan istana.
Lantai dua adalah bangunan kayu merupakan kamar-kamar yang cukup luas dan menjadi ruang berkumpul di bagian depan tengah. Lantainya dibuat dari kayu. Memiliki jendela-jendela besar di setiap kamar. Dari jendela ini kita bisa melihat taman-taman luas sekeliling istana dan bangunan lainnya yaitu masjid, makam, rumah-rumah panggung tradisional dan rumah-rumah mungil bergaya Eropa serta Gedung pertemuan dengan gaya eropa juga. Ada juga sumur besar dan benteng pengintaian yang berbentuk menara kecil di bagian belakang istana.Dinding-kamar dipenuhi oleh foto-foto Sultan dan keluarga serta kolega. Dari foto-foto itu tampak adanya kedekatan hubungan Sultan dengan bangsa Belanda.Foto Ratu Wilhelmina juga ada di sana, perkawinan keluarga dengan bangsa belanda dan keturunan mereka juga terpampang di sana.
Semua bangunan yang berada dalam kompleks istana tidak ada yang letaknya sejajar sehingga tidak saling menutupi satu dengan yang lain. Posisi Kompleks istana yang berada tepat di bibir sungai seperti mengekslorasi Sungai Siak untuk kebutuhan akan air, untuk keindahan pemandangan dan untuk pertahanan keamanan. Sungai ini membebaskan pandangan ke semua penjuru, juga halaman istana yang sangat luas sekeliling istana menunjukkan kesan istana ini menjadi pusat perhatian serta pusat pengintaian. Rumah-rumah penduduk tampak dengan jelas dari semua tempat di istana terutama dari lantai dua dan dari rumah panggung tradisional yang berada di sebelah kanan istana.

Kami sempat sembahyang dzuhur di masjid istana, dan meninggalkan istana satu jam kemudian. Kami makan siang di depan RSUD Kabupaten Siak, ikan mujair bakar dengan sambal lado yang menjadi favorit saya selama di Sumatera.
Jam delapan malam kami tiba di rumah setelah memesan tiket untuk keberangkatan ke Jambi besok.Saya diberi tanda mata oleh kerabat saya sepotong kain bordir Riau berwarna merah, warna kesukaan saya.
Sampai di sini laporan perjalanan saya, selamat malam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar