Kamis, 03 November 2011

Hentakan Hujan yang Sama

Hentakan suara hujan di atap fiber glass sore ini masih sama dengan hujan tahun lalu. Bedanya suasana hujan sore ini tidak lagi berarti apa-apa.Hujan enggan berlama-lama bisa dinikmati.Beberapa menit saja berlangsung kemudian meninggalkan basah di dedaunan dan ranting pepohonan. Butir-butirnya berjatuhan ketika udara kembali bergerak.
Indahnya butiran air hujan yang masih menempel di pucuk daun dan di sudut-sudut ranting, sebenarnya tidak ada istimewanya, hanya perasaan rindu yang membuat pemandangan ini menjadi indah.
Betapa manusia mempunyai rasa rindu, rindu akan apa yang kadang-kadang tidak kita tahu.
Tidak kurang-kurang penyair yang meratapi kerinduannya kepada sesuatu yang samar, seperti Amir Hamzah dalam Buah Rindu, Y.E. Tatengkeng dalam Rindu Dendamnya. Berpuluh-puluh sajak Perancis Jacquez(?) juga berbicara tentang rindu akan Hujan yang Turun di Bress.Belum lagi Kahlil Gibran dalam Sayap-sayap Patahnya.
Kerinduan kepada kekasih yang tidak pernah dilihatnya sampai akhir hayat.
oooooh

Tidak ada komentar:

Posting Komentar