Senin, 09 November 2015

Saya Menyintai Hidup



Sepertinya saya sudah memerlukan perjalanan baru ke alam bebas. Seandainya saja saya tidak mengajar lagi mungkin saya sudah terbang entah kemana. Seperti yang dulu saya bayangkan bahwa saya harus menikmati kehidupan ini sebanyak mungkin sebelum kesehatan saya menurun.
Saya ingin kembali ke gunung atau pantai.
Sedikitnya jam kerja saya membuat saya jenuh. Kejenuhan ini tidak membangkitkan gairah seperti yang saya gambarkan dulu. Bahwa jika saya punya banyak waktu saya akan menyelesaikan tuntutan  hobi saya. Ternyata nol. Saya sebenarnya malu  pada diri sendiri dengan kemandekan gairah hidup seperti ini. Saya ingin menjadi tua dengan memberi arti pada kehidupan ini  minimal bagi saya sendiri. Barangkali ini ego saja tetapi sesungguhnya saya memang menyintai hidup saya sendiri. Saya menyintai semua yang melekat pada kehidupan saya. Masa kecil yang indah, masa remaja yang membanggakan dan masa muda saya yang menyenangkan.
Saya menyintai hidup saya yang sanggup menghadapi gelombang dan badai, Selamat dari api yang membakar dan bisa menyembuhkan semua luka.

Hari-hari terakhir saya sangat manis, Ketika senyum dan airmata menjadi hal yang manis untuk dirasakan. Di dada saya telah saya tanam benih yang bisa merubah segala yang saya rasa menjadi manis dan nikmat.
Tidak ada yang bisa menghalangi benih itu bersemi dan tidak ada pula yang merekayasanya,  benih itu bersemi sepanjang musim.
Ini alasan saya untuk menyintai hidup saya, saya bisa menanam bunga ketika badai datang dan saya menikmati wanginya setelah badai reda.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar