Jumat, 11 April 2014

Dua Mata Pisau

Angin terus berdesir di dedaunan sepanjang malam ini membawa suasana menjadi tidak menentu. Terkadang hujan merintik lalu sunyi kembali.

Bagaimanakah sebagian jiwaku yang di awang-awang, apakah ia bisa melihat orang-orang yang merana dan dipukul sepi ? Rasanya kesepian itu sudah merambat di sini melebihi dari kesepian yang sebenarnya.

Kawan, perubahan mood seseorang seringkali terlalu mudah dan cepat. Bahkan bisa hanya dalam hitungan detik, ketika ada sesuatu yang telah melampaui kecepatannya.
Barangkali hati manusia itu seperti mata pisau. Satu sisi tajam dan sisi lainnya tumpul. Sisi yang tajam dengan cepat akan mengiris, namun begitu kita balik....tak ada sesuatu yang terpotong.  Apakah dua mata pisau itu menggambarkan kemunafikan perasaan manusia?


Berubah Pekat karena Belerang tidak Diambil

 Perubahan  bukan kemunafikan, perubahan adalah kepastian yang terjadi dalam hidup ini.
Hari ini saya tahu saya gelisah setelah hari kemarin saya merasakan damai. Begitu juga hari esok mungkin saya akan bergembira dan lusa saya pun belum tahu. Tetapi saya yakin akan berubah.                                     

Tidak ada komentar:

Posting Komentar