Minggu, 22 Agustus 2010

kolam di belakang rumah

Saya seperti anak kecil yang sangat sedih menunggu ibu yang pergi entah kemana.Suasana pagi yang dingin dengan hembusan angin yang kurang bersahabat di antara gerimis sejak tadi malam telah menciptakan kesan indera yang melemahkan semangat.Terlebih lagi saya mulai terbawa lagi ke dalam tautan harapan semu yang tidak memberi kebahagiaan sejati.

Sekali lagi saya seperti anak kecil yang hampir berkaca-kaca menahan kecamuk perasaan sedih karena ditinggal ibunya. Lalu anak itu menunggu di tepi kolam hias memandangi ikan-ikan yang bersliweran di balik bayang-bayang teratai dan melati air. Dan anak itu duduk memeluk lutut di tepi kolam sambil terus memandangi bayangan benda-benda yang tersimpan di dalamnya.


Ada beberapa menit sinar matahari muncul menerawang gerimis halus seperti kilauan jutaan jarum di udara. Semangat !!!
Sayang baru saja ujung kedua kaki yang merasakan kehangatannya sinar itu redup lagi. Dan tinggallah sepi yang memagut pagi hari ini. Dan melahirkan rasa benci.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar