Minggu, 09 September 2012

Menengok Perjalanan Bali - Lombok - Sumbawa September 2012



Jam 08.15 hari Minggu 2 September kami berangkat dengan motor menuju pelabuhan Padang Bai di ujung timur Bali. Dua jam jarak tempuh dengan istirahat minum. satu jam kemudian, pukul 11.15 kapal penyeberangan Marina Primera menyeberangkan kami ke Pelabuhan Lembar di P Lombok. Waktu penyeberangan empat jam seperempat sejak kapal berangkat sampai kami mendarat.

Berpapasan dengan si Cantik Ravelia 2 di Padang Bai

Pemandangan dermaga tidak banyak yang istimewa, kecuali melihat-lihat kapal penyeberangan antarpulau. Membaca Semboyan yang tertulis di lambung kapal dan mengenali nama-nama kapal.
Peyeberangan ini memakan waktu empat jam sampai mendarat. Cuaca cerah dan tidak berombak.


We Serve The Nation


Meneruskan perjalanan darat setelah keluar Pelabuhan Lembar, kami berbelok ke kiri menuju ke desa Sekotong. Desa di Lombok barat yang terkenal dengan tambang emasnya. Desa ini tampak miskin,kering dan tandus dengan jalan pesisir pantai ke arah kanan yang melingkari bukit sampai ke pusat desa Sekotong. Selanjutnya mendaki perbukitan sampai di puncak. Tampak dari puncak  lembah desa yang hijau. Kami menyusuri jalan menurun sehingga ketemu lagi dengan persimpangan pertama.



Pemandangan dari Puncak Bukit Sekotong

Sesampainya di kecamatan Gerung jalan macet karena dua kali berpapasan dengan iring-iringan panjang pengantin adat setempat yang berjalan kaki lengkap dengan bawaan dan musik serta penyanyi sekaligus penarinya.


Payung pertama Pengantin Wanita, Payung kedua Pengantin Pria

Penjaga Keamanan Mirip Pecalang di Bali

Selanjutnya beberapa menit kemudian bertemu iringan pengantin lagi.


Barang Bawaan


Iringan Pengantin Pria

Jam 18.00 WITA kami sampai Mataram, langsung menuju hotel Puri Indah, hotel yang pernah kami inapi. Ternyata hotel ini sudah naik kelas. Lalu kami ke hotel Victor, penuh. Kami minta dicarikan hotel lain, hingga kami sampai ke SunShine Hotel, hotel melati namun nyaman, bersih, lengkap fasilitas dan murah .



Breakfast Hari Kedua


 Malam ke dua di Mataram kami sulit tidur. Penghuni kamar sebelah, Chinese muda menelepon berteriak-teriak hampir semalaman,sepertinya sedang berantem.
Di Mataram kami hanya jalan-jalan dan mengunjungi famili serta kerabat.Mampir toko buku di Mataram Mall.


Taman Sangkareang Mataram




Taman di Jalan Pejanggik Mataram



Mampir Mencari Buku dan Peta NTB


Hari ketiga bergabung dengan adik yang akan kembali ke Taliwang dari Jakarta. Kami berangkat berempat dengan bus Tiara Mas jurusan Mataram-Taliwang jam empat sore. Tiket bus seharga Rp 60.000 perorang. Perjalanan darat dari Mataram ke pelabuhan Kayangan Lombok Timur diperlukan waktu dua setengah jam dilanjutkan dengan penyeberangan Selat Alas satu setengah jam.


Tiga Crane sedang Antre  Bongkar Muatan


Suasana di dalam Kapal
Jam sembilan malam kami mendekati kota Taliwang. Suasana pinggiran kota ini terasa berbeda dengan Taliwang pada tahun 2005 saat kunjungan saya yang pertama.  Dari kejauhan lampu sudah menerangi pinggiran kota. Dan aktifitas kota juga lebih ramai. Yang tidak berubah adalah sebuah rumah panggung di jalan Pasar baru.





Malam hari udara juga sedikit panas namun saya tidur lelap karena capai.



Perjalanan hari Keempat

Hari keempat, tgl lima September kami pergi ke kebun di desa Bertong,  arah selatan Taliwang jalur menuju tambang emas Newmont. Kebun kelapa dan pisang yang sangat luas, dari tepi jalan raya Bertong ke belakang dan berakhir di muara. bagian belakang kebun adalah petak-petak tambak yang dihuni berbagai macam ikan dan udang tanpa ditabur benihnya. Benih ikan dan udang masuk dari muara saat air pasang, melewati pipa pralon yang dipasang di sisi tambak yang menghadap muara. Kami mengambil ikan dan udang dengan tangan saja karena ikan dan udang itu berada dan terperangkap di sela-sela akar bakau yang sengaja ditanam Abi (ayah) di sana. 


Kebun dan Tambak di Bertong



Keponakan  dan  Udang


Udang di Tangan saya




Membelakangi Muara bersama Adinda


Pulang dari kebun, penjaga kebun menghidangkan teh dan kopi, kacang goreng dan jeruk bali serta sirsak hasil kebun sendiri. Sambil berseloroh Umik (sebutan ibu) berkata,"Ayo kita makan kacang arab". Kami tersenyum, maksudnya  butir-butir kacangnya besar.
Bisa juga mereka bercanda begitu, saya geli mendengarnya karena mereka semua adalah keturunan arab kecuali saya dan adik perempuan yang menikah dengan salah seorang anak Umik yang keturunan arab.








Iyan dan raka sedang mengukir kenangan masa kecilnya





Sepulang dari kebun kami jalan-jalan mengenali kota baru, pusat pemerintahan yang ditata dengan rapi. Tujuh tahun lalu daerah ini merupakan area persawahan yang cukup subur. Ketika kota ini berubah status menjadi kabupaten  pilihan yang paling mudah dan murah ( mungkin) adalah menjadikan area ini sebagai pusat kota. Karena sebagian besar wilayah kota Taliwang adalah perbukitan yang hanya ditumbuhi  perdu dan pohon bidara yaitu pohon berduri dan berbuah kecil yang hanya tumbuh di daerah panas dekat pantai. Jarak pusat pemerintahan ini dari kota  kecamatan lama hanya kurang dari 2 km.



 
Graha Fitrah, Kantor Bupati Sumbawa Barat di Taliwang



Dilihat dari Google tampak jalan-jalan kawasan ini dibuat dalam bentuk crop dua segi empat yang bergeser diagonal sehingga membentuk bintang delapan. Bagus, seperti sebuah lambang yang bernuansa Islam. Di antara jalan-jalan bersilangan adalah bangunan-bangunan penting yang bergaya perpaduan Eropa Timur dan Timur Tengah. Semua kantor kementerian ada di sini dan dibuat dengan bentuk dan luas yang sama dalam satu komplek. Sepertinya bangun bangunan di sini bentuknya up to date. Rancangan bangunan yang nyaman untuk bekerja.



Masjid Darussalam Taliwang


Hotel Berbintang






Pasar dan Terminal taliwang

Terminal dan pasar Taliwang juga menjadi bagian dari tata kota. Kedua tempat umum baru ini, letaknya  berdampingan. Ada pintu tembus yang menghubungkan sehingga lalu lintas kedua tempat ini  pendek dan sangat praktis. Dan yang lebih menarik letak pasar induk berada jauh di dalam sehingga tidak mengganggu lalu lintas.



Terminal dan Pasar


Sarana transportasi yang ada di Taliwang  adalah bus untuk  transportasi antarkota, pick up untuk angkutan pedesaan dan dokar untuk angkutan dalam kota. Bus-bus kecil yang relatif nyaman karena semuanya dilengkapi AC, musik dan bersih. Trayek bus ini hanya dua jurusan yaitu ke Sumbawa Besar dan Mataram.
 Empat bus yang saya ingat yaitu Tiara Mas, Damri, Balong Niat dan Fajar Putra.


Bus Fajar Putra Jurusan Sumbawa Besar



Bus Balong Niat Jurusan Mataram



Dokar di Pasar Taliwang



Pasar Taliwang dibangun di area yang luas, tidak sebanding dengan jumlah pengunjung sehingga terlihat sepi.
Saya hanya mengunjungi pasar induk tempat penjualan bahan kebutuhan dapur.  Ada beberapa bahan makanan dan jenis sayuran yang unik. Saya membelinya demi mendapatkan gambarnya.


Lalapan Mentah


Semacam Krokot


Krokot Gambas dan Pare kecil



Kerang Kali



Kerang Laut dan Kelor


Tradisi Mencari Batu Kali Untuk Pemakaman

Istirahat Makan Setelah mengambil batu kali




Pemakaman Orang Arab di Taliwang



Kami juga mengikuti upacara pemakaman cara Arab yaitu semua kerabat almarhum mencari batu di sungai kemudian meletakkannya ke makam beramai-ramai. Kuburan arab hanya menggunakan nisan batu yang diletakkan di bagian kepala dan kaki saja. Tidak ada tanaman atau tempat tabur bunga.



Malamnya suami adik membuat sepat, yaitu ikan dan udang yang dibakar lalu disobek-sobek kecil dicampur bumbu dan sayur yang juga dibakar serta lalapan lalu dituangi air matang dingin dan diaduk-aduk. Rasanya aneh mirip rujak juga. Sepat merupakan makanan khas Sumbawa. Kami juga membuat singang dan kerang campur kelor.
Hari ini acara kami padat dan menyenangkan. Selanjutnya kami harus tidur awal untuk acara ke Sumbawa Besar esoknya.

Perjalanan Hari Kelima

Postingan saya tanggal enam September lalu merupakan postingan langsung pada hari H, hari yang menjadi agenda utama perjalanan saya ke P Sumbawa. Yaitu mencari teman semasa kuliah. Saya sudah lama mencari namanya di internet. Dan saya menemukan nama yang sama berulang-ulang di beberapa postingan website yaitu Gaung NTB. Website resmi pemerintah Sumbawa Besar. Nama itu adalah Dra Hj. Masdalifah. Dan di beberapa tulisan nama itu ditambah Al-Arasyi di belakangnya. Nama akhir tersebut adalah nama wakil bupati Sumbawa Besar. Sedang Hj Masdalifah jabatan terakhirnya adalah Kepala Badan Kepegawaian Kependidikan dan Latihan Daerah atau BKKD, sepertinya sama dengan  BKD di kabupaten lain. Mulanya saya ragu. Tetapi saya menjadi begitu yakin ketika saya tanya  seorang kawan kemana saya harus mencari alamatnya, ia bilang tanyakan di kantor BKD Sumbawa Besar.

Pagi-pagi kami berangkat berempat. Sangat senang bertemu dengannya dikediaman wakil bupati saat itu. Kami mengikuti jamuan makan siang bersama tamu dari jakarta dan tamu DPRD. Tentunya di meja terpisah. walau begitu kikuk juga. Saya sekeluarga di meja dengan ibu dan ajudan serta beberapa pegawai dari DPRD satu meja. Saya tidak sempat mengambil gambar karena asyik ngobrol dan bersenda gurau.  


Sehabis Jamuan





Mencuri Pose

Hari itu sulit untuk dilupakan, bisa menemukan teman satu kamar 34 th lalu.  Saya baru tahu jika usia teman saya sebaya dengan suami saya. Pensiun PNS 2010. Karena saat kuliah dia di bawah angkatan saya. Kami berbeda Uni. Dia Universitas Brawijaya dan Saya IKIP Malang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar