Sabtu, 10 April 2010

sebuah taman di Bakhutmah

SEBUAH TAMAN DI BAKHUTMAH

Suatu hari nanti aku akan kembali ke taman itu.Taman segitiga yang terletak di titik pertemuan tiga jalur jalan raya di kawasan Bakhutmah kota Mekah. Pemandangan senja itu menjadi begitu menawan.sekali pun tidak banyak keindahan yang bisa dilukiskan. Hanya belasan pohon kerdil berdaun kecil yang mengisi taman dan pohon-pohon kurma yang tampak kaku mengelilingi taman kecil itu.

Aku bersandar di pagar tua yang terbuat dari terali besi setinggi setengah badan, memandangi hiruk pikuk kendaraan yang lalu lalang di jalan raya Bakhutmah. Airmataku berderai tiada henti. Ada kesedihan yang teramat dalam , yang tak mampu kuungkapkan dengan kata-kata. Beberapa pasangan berkebangsaan Turki melihatku sepintas , lalu mereka kembali menikmati senja memerah di antara ramainya kesibukan taman itu.

Di taman itu aku terus menerus mengenang Tanah Air. Segala peristiwa yang mendera rumah tanggaku di Tanah Air tak dapat kulupakan walau sesaat saja. Namun Tanah Airku telah melupakanku, membiarkan aku dipagut kesunyian yang teramat panjang.Tak satu pun kabar dikirimkan suamiku. Sedangkan dia telah membekaliku dengan beban berat . Memaksaku membawanya sampai pada saat itu. Ia tidak pernah memikirkan apakah aku akan kuat memikulnya sekalipun ia sudah meyakinkanku bahwa aku harus kuat.

Senja itu Langit utara memerah memberi sapuan jingga lereng-lereng perbukitan , Bukit batu itu bisu terbengong terus menerus memandangi aku . Seakan -akan ingin menyayati dadaku dan mengeluarkan gumpalan kata-kata, keluh kesah dan sumpah serapah dari dalamnya.

Aku tertunduk berusaha sembunyikan dukaku ketika segerombolan jemaah haji Indonesa memasuki taman. Aku kenal mereka, penghuni pemondokan haji yang sama dengan pemondokanku. Aku segera menyelinap di antara orang-orang yang duduk-duduk tidak jauh dari tempatku, menghindar dari mereka. Ada perasaan takut mereka akan tahu aku sedang menangis berkepanjangan.

Airmataku tak pernah berhenti mengalir sejak aku meninggalkan rumah. Di taman Bakhutmah ini aku membiarkan galau perasaanku menebar sesukanya. Karena kamar pemondokan menjadi belenggu yang membenamkan aku dalam lembah kengerian membayangkan semua kisah kelam di rumahku. Hari-hari yang diisi dengan kehidupan rumah tanggaku yang aneh. Suamiku tak sedikit pun mau peduli perasaanku, siang malamnya diisi dengan kata-kata cumbuan terhadap banyak perempuan lewat sms. H ari-hari sempatnya ia gunakan untuk pertemuan dengan mereka. Keberadaanku sebagai istrinya tak menjadi halangan untuk melakukannya. Melakukan apapun yang ia dan perempuan -perempuan itu kehendaki. Sedikit-demi sedikit ia membuat jarak dengan keluarganya. Ia bagai orang asing yang berkuasa atas segala maunya. Anak-anakku menderita.

Rasa letih hari itu adalah manifestasi dari keletihan pikiranku memikirkan semua itu. Berbagai persoalan rumah tanggaku dan ibadahku menjadi dua mata ujian yang sangat berbeda bobotnya.

Angin datang menghembus ranting-ranting berdaun kecil di sudut-sudut Jalanan Bakhutmah.Angin juga menghempaskan debu-debu di taman itu , yang kemudian beterbangan mengotori semua yang ada di sana. Seorang pedagang pakaian berkulit gelap dengan jubah menutupi badannya yang besar sedikit pun tak terganggu dengan angin itu. Dagangannya yang terhampar di rerumputan dibiarkan dihinggapi debu.

Tidak jauh darinya seorang anak Afrika terlentang di atas sebilah papan beroda. Anak itu cacat. Kedua tanggannya terpotong sampai siku dan kedua kakinya hanya sampai setengah paha. Aku tersentak ,tak ada kesedihan di wajahnya. Ada tas pinggang melilit badannya, penuh dengan uang pemberian para dermawan . Pemandangan itu memberi sedikit sentuhan perasaanku. Bahwa hidup ini memiliki banyak persoalan. Persoalan Anak Afrika yang cacat sepertinya telah diselesaikannya hari ini dan mungkin juga seterusnya.

Empat orang pria Turki mengeluarkan uang masing-masing dua real dan memasukkannya ke dalam tas pinggang anak itu. Sejak tadi aku sangat ingin melakukannya. Akhirnya aku mengambil satu real dan memasukannya ke dalam tas itu. Lalu aku menarik nafas dalam-dalam dan melanjutkan lagi lamunanku.

Begitu banyak kepahitan dalam hidup ini.Tiap helaan nafas terasa menyengat dan setiap regukan rasa seperti menusuk dada. Allahu Rabbi, panggilan ini tak henti kuucapkan setiap kali aku digempur kenangan buruk tentang Tanah Air. Wajah suamiku menjadi momok yang menakutiku. Wajah dengan topeng kepalsuan dan pengkhianatan itu memburuku dengan taring-taring yang terus bertumbuh untuk menyakitiku. Dan aku dipaksa pasrah menerima perlakuannya. Ia seperti setan atau iblis dan kemunafikan. Ia melepas kepergianku dengan sebuah sandiwara.Dia mengkhianatiku setelah kepergianku.

Persoalanku tidak pernah ada akhirnya. Duapuluh delapan tahun berumahtangga belum cukup untuk mengetahui akar masalah itu. Yang kutahu aku terus disakiti. Dengan pongahnya suamiku berkata, yang salah adalah terjadinya perkawinan ini. Namun tidak pernah menjelaskan apa yang salah dalam perkawinan ini. Ketiga anakku telah meninggalkan kami dengan kehidupan masing-masing. Serasa aku hanya sendiri menjalani hidup ini.

Senja itu taman Bakhutmah menjadi pelabuhan sementara segala perasaanku. Dan ketika suara azan magrib menyentakkan kesadaranku, kutinggalkan taman untuk memenuhi panggilan solat.

lampu-lampu jalan dan pertokoan jalan-jalan Bakhutmah mulai menyala berpacu dengan sisa-sisa cahaya matahari senja yang redup di puncak -puncak perbukitan. Ratusan ekor burung merpati menjelajah gedung-gedung bertingkat, hinggap di sudut-sudut bangunan, dan tingkap-tingkap jendela yang beku.

Aku berjanji suatu hari nanti aku akan kembali menghabiskan senja di taman Bakhutmah. Aku ingin kembali bercerita padanya tentang peristiwa yang terjadi kini.Tentang mimpi buruk yang pernah terjadi pada suatu malam di Bakhutmah . Ya taman Bakhutmah. Tabanan, 22 Desember 2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar