Sabtu, 10 April 2010

Hotel Azzahra

Hotel Azzahra

Jam dua belas malam waktu setempat kami tiba di kota Madinah. Pemandangan di daerah pinggiran kota suci kedua di negeri King Abdul Aziz ini muram dan beku. Suhu udara berada di bawah 20 derajat celcius membuat tubuh terasa kaku karena kedinginan. Kami menunggu pemeriksaan paspor dan imigrasi di dalam bis. Tak banyak orang yang ada di terminal pemeriksaan itu . Tidak terlalu sibuk. Beberapa orang laki-laki berdiri menunggu petugas imigrasi selesai memeriksa kami.Pakaian mereka sangat berbeda dengan penduduk kota Mekah yang memakai jubah dan gamis. Di sini cara berpakaian mereka sama dengan pakaian orang pada umumnya yaitu celana panjang,dan tentu saja kemeja yang ditutup dengan mantel, jas, atau sweater.
Selesai pemeriksaan perjalanan dilanjutkan menuju pusat kota Madinah. Jalan-jalan raya yang lebar bersilangan tampak lengang. Penerangan di kota ini tidak seterang di kota Mekah. Sekalipun lampu berderet rapat di sepanjang jalan yang kami lalui.
Perjalanan darat yang melelahkan sejauh kurang lebih lima ratus kilometer melintasi padang pasir, gurun dan oase yang kerontang itu menjadi pengalaman tersendiri. Dan mengajarkan kepada kita tentang sebuah keberuntungan apabila kita terlahir di negeri yang tanahnya subur. Indonesia ,Tanah Air kita tempat tumpah darah kita. Perjalanan seharian tadi berbicara kepada kita bahwa di sini semak-semak pun enggan bernafas karena tidak lagi punya daun, tiggallah ranting yang meranggas dibakar matahari. Dan ketika senja tiba, Bola matahari yang menyala perlahan-lahan membenam telanjang ke balik gurun tak diselimuti kabut.
Larut malam kami tiba di hotel Azzahra Flower yang berada di sebelah barat pusat kota Madinah. Hotel berbentuk kotak di sudut jalan tak jauh dari jalan raya itu tidak begitu besar. Tidak ada pegawai dengan pakaian necis berdasi serta ramah seperti di negeri kita. Hanya ada tiga orang pekerja berpakaian biasa menyambut kami, rombongan bis terakhir yang menempati hotel itu. Kami berebut memasuki lift dengan barang bawaan kami. Di lantai tiga kami kelompok yang berjumlah dua puluh orang ditempatkan.
Lantai tiga ini memiliki 20 kamar saja yang mengelilingi ruang makan, dapur dan kamar mandi. Walaupun tidak baru lagi hotel ini bersih dan nyaman dengan kamar-kamar yang memiliki jendela menghadap ke jalan yang mengelilingi hotel itu. Mereka yang berpasangan sepakat menempati kamar besar berisi delapan tempat tidur. Kami yang sendiri tanpa suami bergabung memilih tempat di kamar sudut berisi empat tempat tidur. Kamar Cantik dengan pemandangan luas menghadap jauh ke jalan raya utama
Aku mengambil tempat tidur depan jendela itu, di kejauhan tampak lampu-lampu berkedip putih dan kuning bergantian seperti berlomba menerangi Jalan yang sudah sepi. Beberapa mobil berlalu lalang tampak lincah dan cepat meluncur di kejauhan. Tiang-tiang listrik dan kabel-kabel serta bayangan gedung-gedung bertingkat di sekitar Azzahra tertidur dalam dingin malam.
Ketika kami sedang asyik menikmati panorama malam sudut kota Madinah sambil beristirahat, ketua kelompok kami datang dan memberitahu kami bahwa para perempuan digabung di kamar besar dan para lelaki di kamar-kamar ideal.Tentu saja kami menolak dan kesal. Kami berdebat sengit dan salah seorang teman menangis sambil menggerutu.Tetapi akhirnya kami para perempuan menerima dengan terpaksa dan sedikit sakit hati. Kami perempuan,datang duluan memilih tempat duluan dan tanpa suami diperlakukan begitu mudah.
Kamar besar berisi tujuh orang ini menjadi penuh sesak. Hanya sedikit ruang tempat ngobrol,makan dan solat di tengah kamar. Seluruh lantai tertutup karpet merah berbunga. Dipan-dipan ditutup bed kafer dan selimut tebal warna merah juga.
Kami masih kesal. Duduk di pinggir dipan masih membicarakan ketua kelompok yang ternyata egois. Dia sendiri yang ingin menempati kamar ideal di sudut sedang teman yang lain tidak ada yang mempersoalkan di mana mereka tinggal.
Teman tadi masih menggerutu dan masih menangis ketika tiba-tiba ketua kelompok, laki-laki 35 tahun itu muncul di kamar melihat kami.
“Maaf, Ibu-ibu” Katanya berdiri di tengah kamar.Melihat siapa yang datang,teman itu bangkit;
“ Saya ini orang tua, saya sudah capek kok Pak Iip tiba-tiba mengusir saya” Kata teman tadi kepada ketua kelompok itu.
“ Ya biar Ibu-ibu berkumpul.” Jawabnya ragu-ragu dan mungkin malu.
“ Masih ada beberapa yang tidak berkumpul juga . Saya nelongso bener.” Teman tadi menangis lagi.
“ Bapak harus tahu bahwa kami tidak ikhlas dengan penggusuran ini .” Aku menambahkan. Kemarahan ini tidak bisa disembunyikan lagi. Laki-laki itu Cuma minta maaf lagi lalu permisi pergi.
Akhirnya kami harus menenangkan perasaan. Setelah itu mandi air panas dan bersiap-siap pergi ke masjid Nabawi yang menjadi tujuan kami.
Ternyata udara di kota ini sangat dingin. Badanku menggigil sekalipun berada di dalam kamar. Tengah malam itu kami makan nasi katering dalam kemasan kotak foam. Nasi dan sedikit sayur buncis serta sepotong ayam manis. Setelah makan menjelang dini hari itu kami bergegas ke masjid Nabawi .
Ketua kelompok memimpin kami dini hari itu. Udara di luar sungguh sangat dingin dan sedikit berembun. Kami berjalan cepat untuk mengusir dingin. Di trotoar yang mengapit jalan raya banyak pejalan kaki yang juga berjalan terburu-buru. Sekelompok orang kulit hitam dengan langkah-langkah panjangnya menerobos kami. Mereka tidak peduli dan terus berjalan sambil bercakap-cakap. warna pakaian mereka tampak menyolok walau pada malam hari dengan bunga-bunga besar dan modelnya seperti daster panjang dan besar. Sedang yang perempuan dengan model rok berploi sepanjang bawah betis.Penutup kepala seperti topi model sorban. Beberapa mereka tidak menggunakan alas kaki.
Sepuluh menit meningalkan hotel Azzahra kami sampai di jalan yang diapit pertokoan yang sudah tutup. Hanya ada satu dua toko makanan dan kurma yang buka. Toko itu menjual roti fresh serta minuman dan kopi panas. Letaknya persis di sudut ujung pertokoan. Sisi depannya yang menghadap ke areal yang sangat luas terbuka. Itulah halaman masjid Nabawi.
Sungguh fantastis, bangunan masjid yang sangat megah dan indah berdiri di tengah-tengah area yang sangat luas. Halaman masjid dilengkapi dengan lampu-lampu klasik bertiang, berderet-deret memenuhi seluruh halaman yang berlantai batu granit. Sekalipun begitu cahaya lampu-lampu itu tidak mampu menerangi areal yang begitu luas sehingga sedikit remang.
Di bagian depan masjid dari arah Hotel Azzahra terdapat sebuah bangunan kecil dengan atap kubah warna emas berdinding ornamen yang didominasi warna hijau. Berikutnya kami tahu bahwa bangunan itu merupakan bangunan asli masjid Nabawi yang dikenal dengan Arraudah.Artinya kebun,yaitu taman tempat Nabi Muhammad saw disemayamkan.
Subuh masih dua jam lagi. Tetapi tempat itu sudah mulai didatangi jamaah. Kami masuk melalui pintu sebelah kanan masjid. Melewati pintu pertama yaitu pintu Abu Bakar, disusul pintu Umar Bin Khattab, Pintu Usman Bin Affan dan Ali Bin Abi Talib. Pintu keempat,pintu masuk jamaah perempuan. Pintu itu dijaga oleh dua penjaga perempuan bercadar. Pakaian dan kerudung hitam menutupi seluruh tubuhnya. Kami berdesakan memasuki masjid setelah kami diperiksa mulai dari barang bawaan,t as dan dompet. Hp dan kamera tidak diperbolehkan.
Menginjak lantai marmer dinginnya luar biasa. Kami masih mendapatkan tempat berkarpet di antara pilar-pilar masjid yang besar dan kokoh. Tak bosan-bosannya aku mengamati seluruh ruangan masjid nabawi yang indah. Lampu-lampu kristal berbentuk sangkar burung menggantung melingkar di setiap penjuru masjid dengan cahaya kuning redup di antara cahaya lampu-lampu penerangan utama yang putih terang cahayanya. Pilar-pilar yang menyangga atap bangunan yang kokoh dan besar dihiasi dengan ornamen dan relief berwarna emas di ujung atas dan bagian bawahnya di pokok-pokok pilar itu digunakan sebagai ventilasi pendingin udara.
Azan subuh sudah terdengar, segera kami bersiap setelah mengawali dengan solat Takhiyatul Masjid dan solat sunah sebelum subuh. Nada suara azan itu sedikit aneh di telingaku. Temponya pendek-pendek seolah tanpa apresiasi.Sangat berbeda dengan azan di Masjidil Kharam.Terlebih lagi jauh berbeda dengan suara azan di mesjid Bakhutmah. Azan di Mesjid Bakhutmah tak ada yang menandingi kemerduannya. Belum ada yang menandingi dalam pendengaran kami selama ini. Sungguh suara azan yang bisa membuat aku menitikkan airmata keharuan. Dan bisa membuat kami terus membicarakan suara azan dekat pemondokan kami itu.
Selesai subuh kami pulang.
Cuaca berkabut, dingin udara pagi seperti menyusup sampai ke tulang sumsum. Hotel Azzahra menyambut kami dengan sedikit kehangatan. Di lemari pendingin tersedia susu, teh dan kopi instan siap seduh. Kami tinggal merebus air dan menyeduhnya di dapur itu. Kami membuat teh bersama-sama dengan suasana gembira penuh rasa syukur akan kehangatan pagi itu.
Ini pagi pertama kami di hotel Azzahra. Di Kamar, nasi kotak dan sebuah apel serta minuman kemasan sudah tersedia. Kami makan bersama. Tetapi seperti hari-hari yang telah lewat aku tidak punya nafsu makan.Karena itu aku sarapan dengan sangat memaksa. Makanku hampir selalu tersisa. Kadang-kadang tidak kumakan sama sekali dan kuberikan pada teman. Aku memandangi luar jendela . Kabut begitu tebal memasuki ventilasi dan memberi dinginnya ke seluruh kamar seluas enam kali lima meter persegi ini.
Di kamar ini sesaat hanya sepi ketika teman-teman sekamar keluar untuk belanja oleh-oleh. Aku tenggelam dalam pikiranku yang selalu diisi oleh kesedihan dan kemarahan kepada suamiku. Aku menangis lagi. Menyesali mengapa aku memilih dia menjadi suami. Makin lama hidup bersamanya makin banyak sifat menyimpangnya yang muncul . Ini tidak pernah kuduga sebelumnya. Sebenarnya sejak mengenal dia duapuluh sembilan tahun lalu aku sudah mengetahui ada tanda-tanda yang menunjukkan dia bukan laki-laki yang setia dan punya rasa tanggungjawab. Tetapi aku berusaha memahami itu sebagai kekurangan biasa yang akan bisa kututupi dengan apa yang bisa kulakukan. Namun ternyata hal itu tidak mudah. Dan perkawinanku menjadi permulaan aku memasuki kehidupan yang berat .
Beban hidup mulai kurasakan. Aku meninggalkan kemerdekaanku untuk bisa menikmati hidup dengan cinta dan kasih sayang.Tetapi aku justru mulai meninggalkannya karena terbebani dengan tanggung jawab dan kewajiban yang melampaui apa yang seharusnya kujalankan. Aku bekerja secara fisik dan membelanjai hidup kami.Mengurus anak-anak dan hampir semua urusan lain.
Semua itu kurasakan sebagai beban karena aku tidak pernah mendapatkan perhatian atas semua yang kulakukan. Sebaliknya aku selalu menjadi istri yang tidak sempurna di matanya. Aku sering dihina dan direndahkan hanya karena hal-hal yang sepele. Apabila aku dalam kesulitan dan kesalahan sepertinya dia puas untuk bisa mensyukuri kesalahanku. Aku kehilangan cinta yang ingin kuraih, sekalipun sebenarnya aku belum pernah mencintai dia.
Rasanya belum ada yang bisa membuat aku bisa menyintai dia.
Perkawinanku dulu memang belum didasari rasa cinta. Tapi aku berani memilihnya dengan pertimbangan aku sudah waktunya menikah, umurku duapuluh enam tahun. Dia sudah bekerja dan dari keluarga baik-baik. Aku berpikir seperti yang dikatakan orang bahwa cinta bisa tumbuh dalam perkawinan. Aku dikenalkan oleh seorang teman yang mengatakan bahwa dia sedang mencari seorang istri. Atas dasar itulah aku berani memutuskan menikah. Sungguh aku tidak menyangka sekarang apabila ia mengkhianatiku dan anak-anak dia selalu mengatakan bahwa aku dulu menjebaknya. Dia lupa bahwa aku pernah pergi darinya dan akan melupakannya, tiba-tiba dia mengirim telegram bahwa keluarganya akan melamar aku. Dia tidak pernah tahu sebenarnya saat itu aku sedang dalam status perjodohan dengan orang lain, kerabatku , orang yang lebih baik darinya dari pendidikan, pekerjaan dan kesiapan.
Apa yang bisa aku katakan dan kuperbuat sekarang. Tidak ada lain hanya penyesalan dan sakit yang terlalu sakit. Kecewa yang terlalu kecewa.Aku hanya bisa menahan semuanya menjadi kesedihan yang mendalam dan terkadang aku tidak bisa menahan perasaan lalu aku mengumpat dalam hati :”Tuhan tunjukkan kebenaran dan keadilan padanya.Berilah dia pelajaran atau bahkan hukumlah dia atas apa yang telah ia lakukan padaku “
Aku mengakhiri lamunanku dan menghapus air mataku yang berderai. Kamar hotel ini hanya bisu menyaksikanku menangis.
Sekarang aku menyadari bahwa merubah nasib tidak bisa kulakukan lagi. Hidupku tinggal kurang dari setengah yang sudah kujalani. Aku sudah bisa menerima bahwa ini adalah takdir dan dia adalah jodohku.
Siangnya kami berenam berangkat ke masjid Nabawi tanpa ketua kelompok. Kabarnya ketua kelompok sakit. Selesai sembahyang dzuhur teman-teman kembali ke Azzahra dan aku memutuskan untuk tinggal sendiri di Nabawi sampai sembahyang isya nanti.
Sambil menunggu saat-saat solat berjamaah aku mengikuti jamaah Indonesia yang ada di sana berziarah ke makam Nabi Muhammad SAW, yang disebut dengan Arraudah itu. Melalui antrean selama hampir dua jam baru kami bisa memasuki Arraudah. Tempat itu berada di bagian yang menyatu dengan masjid Nabawi. Menyerupai sebuah bangunan rumah kecil di dalam masjid. Pintunya yang tertutup rapat dari kayu berukir motif daun-daunan dan bunga warna hijau dan kuning keemasan.
Makam itu tidak tampak hanya bangunan indah dengan berbagai hiasan ornamen dari kayu dan terali serta tiang-tiang yang bernilai seni tinggi yang bisa kami lihat dan tumpukan kitab suci AlQuran yang tertata rapi diberbagai tempat. Kami solat sunah di sana sebentar dan berdoa di bawah pengawasan ketat lasykar perempuan yang ada di sana. Salah satunya berkebangsaan Indonesia.
Waktu kami di sana sangat terbatas dan kami harus segera keluar melalui pintu sebelah kiri masjid. Lalu kembali ke dalam masjid untuk mengikuti solat waktu berikutnya.
Sampai usai isya aku tidak bertemu dengan seorang teman pun dari Azzahra. Hari sudah malam lalu kuputuskan minta bantuan ke KBRI untuk mengantarku ke hotel Azzahra. Jam sembilan aku diantar sukarelawan, mahasiswa Indonesia yang belajar di Arab Saudi dengan mobil ,bersama sepasang suami istri dan dua orang ibu. Malam itu aku bisa tidur walau sering bangun karena kedinginan.
Hari-hari berikutnya kami mencari teman sendiri untuk pergi, ketua kelompok masih sakit di kamar ideal itu.
Suatu pagi setelah solat subuh aku dan seorang teman tidak langsung kembali ke hotel. Kami mampir ke sebuah toko kecil atau mungkin hanya warung yang menyiapkan roti, teh dan kopi panas.
Seorang pembuat roti sedang membalik-balik roti berbentuk lebar itu di sebuah wajan yang datar. Sudah ada dua orang laki-laki dan sepasang suami istri di sana menghadapi teh mereka sambil ngobrol. Kami bergabung di meja dekat mereka. Meja itu terletak di halaman warung di pinggir jalan. Mereka senang melihat kami. Mungkin mereka berpikir kami perempuan pemberani atau perempuan aneh. Para pekerja di warung itu juga menaruh perhatian pada kami. Semua menyapa dan berbasa-basi dengan pertanyaan berbahasa Arab. Saya sedikit mengerti dan menjawab dengan ramah dan membuat mereka tampak senang.
“ Good morning ! From Indonesia?” Tanya seorang pengunjung dengan berbahasa Inggris.
“ Yah. We are from Indonesia” jawab kami hampir bersamaan.
“ I’m Iran.” dan ” Indonesian good..” Kata lelaki dengan wajah berbulu itu sambil mengangkat kedua jempolnya. Kemudian mereka berbicara sedikit tentang jamaah haji Indonesia dengan bahasa Inggris. Kami bercakap-cakap dengan bahasa Inggris yang asal-asalan sambil menunggu pesanan datang. Selembar roti panggang dan dua gelas teh panas.
Sungguh pagi itu menjadi kenangan hingga saat ini. Kami menghirup teh susu hangat dengan regukan yang paling nikmat. Dan menghabiskan sepotong roti panas berdua. Kami enggan meninggalkan suasana pagi yang istimewa itu. Bercakap-cakap dengan lain bangsa di tempat yang jauh dari negeri kami.
Jalanan mulai ramai. Setelah cukup puas kami meninggalkan tempat itu dan bertanya pada pelayan toko dengan bahasa gak karuan “ Where is the mosque near from here?
“ O..masjid. yes “ jawab pelayan itu sambil menunjuk jalan lurus menjauhi hotel Azzahra ke kanan.
Kami ke sana. Masjid itu tidak jauh, kurang lebih hanya tigaratus meter dari hotel.Kami mengambil air wudlu di kran yang tersedia di tepi jalan depan masjid itu. Airnya sangat dingin melebihi air es. Lalu kami berdua sembahyang sunah di sana berdoa di sana memohon apa saja yang kami inginkan.Terasa betapa nikmatnya berada di tempat ini,di kota ini dan hari ini. Aku telah melupakan hari-hari kelam di tanah air.
Hari terakhir di Madinah tiba. Jam empat pagi kami sudah bersiap ke Masjid Nabawi. Kali ini ketua kelompok sudah bisa pergi ke masjid. Rasanya sangat berat meninggalkan tempat ini.Saya merasa berada di tempat yang paling damai berdekatan dengan Rasulullah. Aku menangis berkepanjangan di Masjid Nabawi. Air mataku tak bisa kubendung sedikitpun. Aku merasa akan kehilangan cinta.Cintaku pada Allah dan Rasulullah.
Kami berdua masih betah berlama-lama berada di dalam masjid selesai sembahyang subuh. Memandangi semua benda yang ada di dalamnya. Menunggu saat-saat bagian atap masjid yang menjadi pengatur sirkulasi udara bergeser perlahan-lahan dan membuka. Tampak di langit mega yang berjalan melintas lalu hilang. Tinggal langit biru yang kosong. Kami mau menikmati pemandangan di dalam masjid ini untuk yang terakhir kali.
Aku masih ingat pagi itu burung-burung merpati memasuki masjid dekat kami duduk membaca AlQuran. Burung-burung itu hinggap di karpet berjalan-jalan sambil menggerak-gerakkan kepalanya lincah sekali. Aku terpesona dan ingin mengabarkan itu pada suamiku namun itu berat kulakukan. Karena aku tahu suamiku sedang apa di tanah air.Aku hanya menarik nafas menahan tangis.Dan selanjutnya memang menangis.Temanku sepertinya turut bersedih dan dia pun menangis. Mungkin ia sedih akan meninggalkan tempat ini sebentar lagi.
Selesai sembahyang sunah aku dan sahabatku berjalan-jalan seputar masjid Nabawi. Melihat tempat-tempat bersejarah seperti rumah sahabat nabi Ali bin Abi Talib, makam para sahabat dan makam para jamaah haji yang meninggal di Madinah. Serta melihat bangunan-bangunan tua di dekat Masjid Nabawi. Setelah itu kami membeli sepotong baju untuk oleh-oleh ibu kami, baju panjang warna hitam berhias bordiran warna emas. Temanku juga membeli beberapa buah cincin emas untuk keponakan dan saudara-saudaranya. Kami berbelanja murah karena temanku pandai menawar dengan bahasa Inggris.
Di toko perhiasan aku menunggu temanku memilih dan menawar cincin emas, sambil duduk menikmati kesibukan pertokoan di seberang masjid Nabawi. Seorang pedagang mengerling padaku sambil tersenyum.Aku tidak sempat membalasnya karena aku masih berpikir apa yang membuat dia tersenyum, Apakah karena aku mengunakan tasbih kayu zaitun sebagai kalung ataukah karena mataku yang masih sedikit sembab aku tidak tahu. Tetapi pandangan mata Arabian itu menyadarkanku bahwa aku sedang berada di Madinah bukan di Indonesia.
Aku igin secepatnya kembali ke hotel untuk bersiap-siap. Setelah semua barang bawaan ditimbang kami membawanya ke lift untuk diturunkan ke lantai bawah. Di bawah petugas pengangkut barang sudah siap menaikkan koper-koper dan tas ke bagasi bus yang akan mengangkut kami ke Bandara.
Hari itu terasa melelahkan. Berat badanku turun drastis dan tenagaku seperti sudah habis. Aku mimisan. Tak terasa darah itu menetes dari hidung membuat kerudung putihku kena bercak-bercak darah. Sementara itu batuk yang menyerang sebagian besar jamaah haji juga masih kuderita. Yah Hotel Azzahra sesaat lagi kami tinggalkan dengan banyak kenangan. Jendela-jendelanya setiap tahun akan menjadi saksi bisu semua yang terjadi di dalamnya.
Jam empat sore kami meninggalkan hotel Azzahra. Aku memandangnya terus dari dalam bus. Hotel tua berbentuk kotak bujur sangkar berdekatan dengan rumah-rumah kotak tidak jauh dari kebun kurma.
Kami melambaikan tangan kepada orang-orang yang ada di sekitar Azzahra. Tak peduli mereka siapa. Beberapa jamaah haji dari Timur tengah atau mungkin Eropa atau Afrika menyambut lambaian tangan kami. Dan sesaat sebelum bus belok ke jalan raya aku melambaikan tanganku ke Azzahra Flower. ”Azzahra...Azzahra kami akan merindukanmu selamanya.” Kataku.


Tabanan, akhir Maret 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar