Kamis, 11 Oktober 2012

Menghadiri Perkawinan Kawan di Karangasem

Jam sepuluh pagi kami bersiap berangkat dengan bus Pariwisata. Saya duduk di depan agar bisa mengambil gambar. Sayang tidak ada yang istimewa untuk difoto.
Perjalanan ini menyenangkan, kami melupakan sejenak semua beban dengan bercanda dan bernyanyi-nyanyi mengikuti musik yang diputar oleh awak bus.
Ada Bapak Kepala Sekolah dan wakil juga tetapi suasana sudah larut sedemikian rupa sehingga kami melupakan itu. Seru, tidak kalah dari murid saat pergi bersama, walau semua penumpang bus ini hanya guru.



Melewati Kabupaten Klungkung



Serunya lagi mencari alamat. Ternyata jalan menuju alamat tidak cukup untuk bus besar. Terpaksa kami berjalan kaki. Agar jarak tempuh tidak terlalu jauh, kami menerobos jalan setapak melintasi lembah dan menyisir tebing hutan bambu. Sungguh mengasyikkan dan bakalan menjadi cerita nanti.


Villa di Puncak Bukit Jambul Karangasem


Mendekati Desa Menanga Karangasem



Jam lima sore kami sampai di Tabanan, dan di meja kami, tugas untuk murid sudah dikerjakan. Wah jadinya harus koreksi ekstra. Tetapi ini lebih menyenangkan daripada mereka yang tidak ikut.

Setengah Hati

Dari setengah hati saya akan menjadikannya sepenuh hati. Kabar malam itu cukup menyenangkan  walaupun kabar itu hanya setengah hati. Mengubah sesuatu yang kurang menjadi cukup tidak terlalu sulit bagi saya.

Pagi, Rabu saya tidak mengajar. Jadi saya bisa berekspresi sesuai dengan rasa saya.
Walau hanya setengah hati....
Pekerjaan saya terasa begitu mudah dan cepat. Seperti keinginan yang datang mengalir dan sampai ke tujuan tanpa kesulitan. Saya patut mensyukuri itu seberapapun nikmat saya dapatkan.
Saya ingin hari berjalan lamban agar semakin banyak yang bisa saya kerjakan. Namun, waktu selalu bisa mengalahkan kita. Ada yang tidak selesai, dan saya juga yakin semua pekerjaan kita tak akan pernah selesai sampai kapan pun.

Dari setengah hati saya mengerti bahwa ada kesia-siaan yang kita ciptakan. Tetapi  kesia-siaan itu masih memberi manfaat daripada tidak ada apapun yang kita buat.
Dan biarlah kesia-siaan ini menjadi khazanah yang memperkaya hati kita.


Pelabuhan Ikan Muncar

Minggu, 07 Oktober 2012

Hanya Bayangan

Saya merenung ketika pagi tiba, seperti saya mau membangunkan matahari tetapi hanya seperti. Saya tahu kabut sudah mendahului  memberinya ruang dan waktu untuk bersinar.

Saya memandang langit-langit. sekilas saya melihat cahayanya namun ternyata itu hanya bayangan yang sedang mengembara di atas imajinasi saya saja.
Yang tertinggal hanyalah suara angin  musim kemarau yang  melintasi pepohonan dan tiang-tiang di atap-atap rumah. Kemana dia pergi tak ada seorangpun tahu. Dari mana dia datang kita juga tidak tahu. Yang kita tahu dia akan datang dan pergi selamanya.
Hmmmmm
Hanya angin yang tak bisa bersinergi dengan manusia.
Tetapi tanpa angin penyair akan kehilangan kekuatannya.



Danau Bratan Bedugul 2012

Kamis, 04 Oktober 2012

Segenggam Racun, Kenapa Dipertahankan?

Saya begitu terkesan membaca kalimat-kalimat ini.                                                                                         
Mengapa kamu mempertahankan racun dalam genggaman? Apakah ia terlalu bernilai bagimu? Ataukah kamu yang membiarkan dirimu tidak berharga ?

Kalimat di atas seperti sebuah peringatan, bahwa manusia memang seringkali kehilangan akal sehat.  Orang sehat tentu akan memilih gula karena ia tahu gula itu manis tanpa perlu dicicipi. Sedangkan orang sakit akan memilih racun ketika ia meyakini bahwa racun itu akan menyembuhkan  sakitnya.

Kalau dipikir-pikir kalimat di atas memang benar,  ada saatnya kita harus menyadari kesalahan kita. Membiarkan diri terbelenggu oleh satu hal yang hanya kita yakini saja. Padahal sebenarnya hal itu tidak ada.





Senin, 01 Oktober 2012

Senandung Rindu


Itu hanya judul lagu juga, lagu lama ciptaan A.Riyanto. Hmm kerinduan memang puitis untuk diungkapkan setiap saat dari masa ke masa.
Kerinduan memang bisa datang tanpa sebab dan menghampiri siapa saja dan kepada siapa saja.

Tetapi tidak semua kerinduan harus berakhir dengan pertemuan. Ada kerinduan yang tidak akan berakhir selamanya, yaitu kerinduan terhadap kenangan. Karena kenangan tinggallah kenangan. Absurd.
Walaupun sebenarnya semua yang terjadi dalam kehidupan ini akan menjadi kenangan.

Ketika kita menjadi manusia sempurna, akal kita, tidak ada salahnya kita merindukan kenangan itu sebagai manifestasi empati manusia terhadap kodratnya. Sebaliknya ada benarnya juga kita mengubur kenangan untuk memberi kemerdekaan kepada jiwa yang terbelenggu.

Kerinduan yang sejati adalah kerinduan yang bisa menyembuhkan lukanya sendiri




Following the River of Death Downstream

Saya suka dengan lirik lagu itu. Suka saja walau tidak sepenuhnya bisa memahami maksud penulisnya. Hanya suka membayangkan sesuatu yang terus bergulir mengikuti waktu.


Saya seringkali berkata pada suami bahwa saya ingin meninggal semasa saya masih kuat. Dan dia juga selalu mengatakan bahwa umur tidak bisa ditolak ataupun diminta. Lalu saya menjawab, saya tidak memaksa karena takdir tidak bisa dipaksa, sebaliknya takdir yang memaksa kita.Begitulah.
Jadi memang lebih baik kita menyerah.

Bright eyes burning like fire.
Begitukah?
Namun semangat tidak selalu mencerminkan harapan. Sebab semangat seringkali kalah cepat dari perubahan yang terjadi.








Jumat, 28 September 2012

Hujan Turun di Bangli

Ketika hujan turun di Bangli sore tadi, dengan cepatnya segala kegembiraan berubah menjadi sepi. Sepi yang menikam. 
Hujan turun di bangli, membasahi jalananan saat rombongan kami kembali dari perjalanan wisata untuk mengisi kegiatan tengah semester.
Sejak berangkat tak henti-hentinya kami bersenda gurau di dalam bus. Lucu-lucu murid saling mencari perhatian dengan percakapan konyol-konyolan. Sampai-sampai perut kami terasa kaku dan mengempis karena tertawa. Ada saja. Mulai cowok yang menggoda teman cewek, menggoda guru, saling mengolok sampai koor mengikuti lagu-lagu dan berebut pesan lagu kepada awak bus.



Penjelasan Pengelola Museum Purbakala Gianyar



Hampir sehari kami mengunjungi objek wisata di kabupaten Gianyar dan Bangli.Kunjungan pertama adalah Museum Purbakala Gianyar
Museum ini menyimpan benda purbakala zaman Paleotikum dan Megalitikum.Berupa benda-benda kecil dari perunggu, batu dan gerabah. Ada juga keramik dinasti Sung berupa piring dan tempat bedak. Juga benda-benda ekskavasi situs Gilimanuk berupa guci tanah liat.Sayang benda-benda ini tersimpan di almari kaca dalam ruang sempit kurang cahaya.

Berikutnya adalah peninggalan purbakala berupa penyimpan abu jenazah yang terbuat dari batu padas.

Sarkopagus dari Jembrana dan Gianyar



 Sarkopag dari Celuk Gianyar


Sarkopag dari desa Celuk Gianyar



Dari desa Beng Gianyar


Dari Tampaksiring dan Bangli



Tampaksiring


Gianyar


Gianyar, Bitra, Tegallalang



Dari Desa Keramas Gianyar



Blah Batuh Gianyar



Bagi-bagi Uang Transport, Maaf Kawan Mempermalukan Anda



Kunjungan Kedua, Pura Kebo Edan
Pura ini juga menjadi wisata purbakala. Berjarak sekitar seratus meter dari museum.
Di dalamnya terdapat beberapa arca purbakala. Yang paling besar bernama arca Kebo Edan.





Kepingan Arca di Pura Kebo Edan






Arca Kebo Edan



Arca Ganesha



Berteduh Sebentar



Kunjungan Ketiga, Pura Pusering Jagat
Lokasi pura ini juga berdekatan dengan kedua tempat sebelumnya. Pura ini juga menjadi cagar budaya, di dalamnya terdapat batu Pejeng. Juga dilengkapi arena sabung ayam. Berupa arena dikelilingi tribun penonton. Di sudut kanan depan ada tempat wasit yang berupa ujung tangga selebar kira-kira 1,5 m2






Arena Sabung Ayam






Gerbang  Pura



Arena Tanpa Laga


Kunjungan Keempat, Candi dan Pura Gunung Kawi
Objek wisata yang sangat menarik untuk dikunjungi. Jika Anda ke Bali saya menyarankan kunjungan ke tempat ini. Selain pemandangan lembahnya yang mempesona, Warisan budaya yang berupa pahatan-pahatan pada dinding tebing batu padas berbentuk candi Hindu cukup menarik. Pahatan itu berada di dua sisi tebing yang mengapit sebuah sungai.



Bergaya



Pemandangan Gunung Kawi


Pahatan di Tebing  sebelah kiri  Sungai


Sungai Membelah Dua Sisi Tebing


Dari Seberang Sungai


Pahatan di Tebing Kiri Sungai


Kerajianan Tempurung Kelapa


Tebing dari sisi Kanan Sungai


Sembahyang di Pura Gunung Kawi


Pahatan Candi di Tebing Kanan Sungai
Pemandangan Gunung Kawi



Pemandangan di Gunung Kawi


Kunjungan Keempat, Desa Baliaga Penglipuran
Desa adat bernama desa Penglipuran berada di kabupaten Bangli. Desa adat ini merupakan desa kecil yang terdiri dari beberapa rumah tradisional yang berderet rapi dan kembar susunan bangunan dan bentuknya. Aslinya bahan bangunan rumah di desa ini adalah batu padas dan tanah liat untuk dinding dan pagar. Serta beberapa bagiannya beratap sirap bambu. Tetapi sekarang tinggal beberapa rumah saja yang masih asli.



Bergaya di Desa Penglipuran



Bogenfil  sedang Berbunga


Bangunan Asli



Hasil   Modifikasi



Terong Imajinatif



Bersiap Pulang



Desa Adat Penglipuran
Selamat Tinggal


Hujan rintik meninggalkan Penglipuran dan mulai membasah di Bangli kota. Murid-murid bercanda lagi tetapi ada rasa sepi di hati.