Minggu, 27 November 2011

Tak Sepadan


Perlahan-lahan ter-eja dalam ingatan, sepotong puisi :

Aku kira
beginilah nanti jadinya
Kau kawin, beranak dan berbahagia

Sedang aku mengembara
serupa Ahasveros dikutuk disumpahi Eros
Aku merangkaki dinding buta
tak satu jua pintu terbuka

Jadi, baik kita padami unggun api ini
karena kau tak kan apa-apa
Sedang aku terpanggang tinggal rangka


Tak sepadan, puisi ini berulang-ulang menggema di dalam memori saya. Menguatkan jiwa serta mempertegas batas antara khayalan dan kenyataan yang saya lihat. Hanya pikiran gila yang berlebihan saja yang menyadap puisi ini sebagai tameng untuk menutup kegalauan.
Namun nyatanya ....kini terjadi bahwa kata-kata penyair ini telah menguatkan dan menyingkirkan rasa kecewa berkepanjangan.

Bahwa ada orang lain, bahkan mungkin jutaan orang lain punya pengalaman yang sama dan mengambil sikap yang sama, adalah wajar. ya, pengalaman memang bersifat universal.
Sedangkan pengambilan keputusan adalah kemandirian. Tidak ada campur tangan orang lain yang bisa menghasilkan keputusan tepat bagi seseorang.
Ouuu saya ngelantur.
Intinya prinsip yang termuat dalam puisi di atas ada baiknya ketika seseorang berada dalam posisi seperti penyairnya, Chairil Anwar.

Sabtu, 26 November 2011

Murung


Saya lupa hari ini hari sabtu,tadi pagi saya bangunkan teman.dan hal ini menajdikannya hari yang amat murung bagi saya.Sore saya mendapati panggilan tak terjawab. Saya tak bisa menelepon balik.Baru menjelang maghrib saya bisa melakukan.
Namun..
dengan cepat kegembiraan berubah menjadi kekecewaan. Cerita teman membuat semangat saya padam perlahan-lahan.Apalagi percakapan itu putus lagi sebelum cerita selesai
Saya hanya bisa tercenung dan merenung lagi. Apa sebenarnya maksud cerita itu, sengajakah ia yang beberapa kali mengulangnya. Hampir saya menghentakkan kaki menahan kesal. Kegembiraan yang saya dapat sehari bersama Kusuma Dewi tertimbun oleh munculnya cerita kosong, cerita murahan yang selalu merusak suasana hati saya.
Sebenarnya malam Minggu ini saya mau menikmati malam dengan rileks dan menyenangkan. Ternyata yang saya dapatkan hanya kecewa dan kesal saja.
Masih adakah kekesalan setelah ini. Saya tak mau lagi mendengar.

Kamis, 24 November 2011

Bagaimanapun Saya Bisa Menerima


Pada mulanya sangat kesal, ketika lepas dinihari tadi saya kecewa berat.Mimpi itu mencampakkan saya. Saya tak habis mengerti kenapa saya tercampakkan oleh impian saja.Impian yang dibangun oleh imajinasi hampa. Namun saya harus menerima karena saya sadar bahwa impian untuk saya tidak selamanya indah.

Ada satu yang saya dapatkan semalam, bahwa saya menjadi lebih bisa menyelami relung kehidupan dan bisa lebih tahan terhadap pukulan dan campakan perasaan saya sendiri.

Cukup lama saya merenungi lintasan mimpi yang tumbuh dari suara bisik angin yang menerobos dinding kamar.
Namun pada akhirnya saya hanya bisa tertegun sampai subuh menjelang. Dan diam-diam saya tersenyum sendiri lalu terlena kembali dalam dekapan selimut pagi.

Dan saya tak bisa mengucapkan selamat pagi pada matahari dan bumi telah melindungi saya semalam.

Selasa, 22 November 2011

Sapaan Ohashi Miki


Yang istimewa dari komunikan di fb saya saat ini adalah sapaan Miki dari Fukushima.Ia mengucapkan selamat untuk keluarga, lalu saya kabarkan acara saya di Jatim selama seminggu tengah November lalu. Ia senang dan selanjutnya ia meminta saya untuk mengirimkan gambar. Selalu setiap acara jalan-jalan atau apapun ia akan meminta saya untuk mengirimkan gambar.
Miki masih cinta Indonesia.Obsesinya untuk mengetahui lebih banyak tentang Indonesia belum surut.
Hari ini saya akan email dia dengan foto-foto acara keluarga dan acara jalan-jalan saya.Seperti dia sering mengirim foto-fotonya kepada saya.Acara keluarga, jalan-jalan dan musim yang berganti di Fukushima. Ketika semuanya tertutup salju, rumahnya, pohon-pohon dan jalanan semuanya putih dan pucat. Atau daun-daun yang bersemi kemerahan saat musim panas dan semarak bunga sakura yang menutupi kotanya.

Saya tersenyum sendiri mengenang kata-kata Takashi saat kami berpisah, bahwa apabila nanti dia kaya dia akan mengundang saya ke Fukushima lalu saya mendoakannya semoga dia cepat kaya sebelum saya terlalu tua untuk jalan-jalan ke sana. kami tetawa gembira bersama.

Senin, 21 November 2011

Perpisahan dengan mahasiswa bimbingan

Senin sore kemarin merupakan hari terakhir bimbingan praktik mengajar mahasiswa di sekolah saya. Bersama dosen pembimbing ujian praktik dilaksanakan di kelas selama delapan puluh menit. Setelah itu berakhirlah sudah kegiatan mengajar bersama selama tiga bulan. Dan selanjutnya sepenuhnya kelas saya pegang kembali.
Pagi tadi Kusuma Dewi datang ke sekolah mengembalikan buku yang saya pinjamkam kepadanya. Dia tampak lebih cantik dan segar dengan pakaian bebas, tidak berjaket almamater.Menemui saya yang sedang mengajar di kelas IPA6. Sayang kami tidak sempat berbicara banyak, ia pergi setelah mengucapkan terima kasih.
Kusuma Dewi, biasanya dia selalu bercerita seputar kebiasaan hidup di desanya. Termasuk keyakinannya terhadap hal-hal yang tidak masuk akal seperti penyebab sakitnya, arti mimpi-mimpinya, kesalahpahaman yang terjadi di antara keluarga dan kerabat selalu dikaitkan dengan adanya orang lain yang membuatnya begitu.
Begitulah Kusuma Dewi, sekalipun ia sudah menempuh pendidikan tinggi pola pikirnya masih dipengaruhi keyakinannya akan hal yang tidak jelas.
Dan kini Kusuma Dewi sudah berlalu.

Bangun semangatku!


Manusia menemui kelahiran setiap hari, yaitu kala terbangun pada waktu subuh. Menghirup udara baru, yang bersemi di antara perpisahan kegelapan dan cahaya, di antara dingin malam dan sejuknya pagi.

Ada saatnya saya perlu menunggu beberapa menit lagi untuk menarik selimut matahari dan menjemputnya dengan senyum.
Dan membiarkannya menggeliatkan energi untuk memulai tugasnya sepanjang hari. Begitulah, bersamanya segala kehidupan akan berjalan.

Pagi, daun cempaka berserakan di luar pintu gerbang memberi tugas baru, tugas pertama saya hari ini. Sementara kelopak bunga kuning belum rontok karena semalam angin menyelinap diam-diam.

Selamat pagi! Bangun matahariku, bangum cintaku, bangun semangatku. Di balik bukit bulan sabit sudah menggelincir ke kaki langit.

Minggu, 20 November 2011

Selamat Pagi Matahari


Senin,21 November 2011
Jam 05.50 saya mengawali hari dengan ragu apakah saya akan melakukannya atau tidak. Namun saya harus mengalahkan kepengecutan saya sendiri. saya harus melakukannya.Bangunlah matahari!
Dan matahari, apakah hari ini akan bercahaya atau tidak, saya tidak peduli.
Kelopak bunga kuning berguguran memenuhi jalanan depan rumah serta dedaunan kering memanggil untuk dibersihkan.
Pagi yang sepi...para pegawai kantor pemerintah belum memarkir mobilnya sepanjang jalan. saya membuka pagar dan memberi senyum pada neighbour yang sedang menyapu juga.
Betapa nikmat pancaran lembut matahari menghangatkan punggung saat saya berjemur di rerumputan.
Sudah lama saya tidak menikmati pagi seperti ini. Baru kali ini saya bisa memulai rasakan suasana pagi hari di rumah.
Namun,..
Sepi begini membuat saya sedih, saya sudah terbelenggu oleh perasaan sedih yang menggila. Saya meratapi kesedihan saya. Kebahagiaan yang saya temukan ternyata menyimpan derita. Saya menderita sekarang. Saya sudah terjatuh ke dalam jurang perasaan yang dalam.
Malam sudah memberi saya kecewa. Malam memberi saya kemarahan. Malam mengharuskan saya menerima.
Malam telah meninggalkan kesedihan untuk saya.