Minggu, 27 Maret 2016

Baluran Adventure

Kami meninggalkan Tabanan pukul sebelas siang berenam dengan Avanza menuju P jawa, tepatnya tujuan ke Taman Nasional Baluran, Situbondo. Rencana ini rencana dadakan untuk mengisi libur tiga hari pada hari Paskah tambah Sabtu Minggu. Kurang lebih jam empat sore kami sudah sampai di pintu gerbang kawasan Taman Nasional karena penyeberangan cukup lancar dan kami makan siang nasi bungkus di kapal. Setelah beli tiket kami langsung memasuki kawasan Kami memang berencana menginap di kawasan karena itu ketika penjaga mengingatkan agar kami tidak menginap karena villa sudah full. Kami katakan kami membawa tenda tetapi penjaga mengatakan tidak boleh berkemah dan akhirnya penjaga itu mengijinkan kami juga asal tidur di ruang tertutup.

Kami mulai memasuki hutan yang tidak terlalu rimbun, jarak pintu gerbang sampai ujung terjauh yaitu pantai Bama adalah 15 Km. Jalanan aspal yang sudah rusak membuat perjalanan sangat lambat. Suara satwa mulai terdengar. Suara burung beraneka ragam sangat enak didengar, juga suara ayam hutan yang seringkali terdengar. Semakin ke dalam semakin sering suara-suara itu terdengar, dan terkadang ayam hutan berkokok bersahutan.
lebih kurang 7 Km perjalanan kami mulai memasuki kawasan yang diberi nama Ever Green. Kawasan rimbun sepanjang 4 Km dengan vegetasi semak-semak belukar dan pohon besar bercampur palem berdaun kipas yang sangat besar. Kami sempat melihat biawak kecil melintas juga melihat ayam hutan berada di jalan.
Selanjutnya kawasan dengan pepohonan yang mulai berkurang sehingga Gunung Baluran tampak lebih jelas.

Rambu menunjukkan bahwa kami sudah hampir sampai di tujuan, yaitu pusat taman yang disebut Bekol. Beberapa bangunan kelihatan, perkantoran dan penginapan. Ada juga villa yang terbuat dari kayu bergaya rumah panggung khas rumah-rumah  perhutani peninggalan Belanda.i
Mendekati kompleks itu tiba-tiba kami mendapati pemandangan alam terbuka yang sangat luas. Inilah kawasan Savana yang menjadi habitat banteng. Banteng adalah ikon wisata taman ini. Kami turun untuk menikmati pemandangan yang sangat indah dan udara yang nyaman ini. Tampak latar belakang G Baluran yang runcing. Kami juga menaksir-naksir tinggi gunung itu serta membayang-bayangkan trekkingnya. Kira-kira tinggi gunung ini 2000-an mdpl saja. Tetapi melihat gerigi lerengnya sepertinya tidak mudah untuk didaki, lagi pula nama gunung Baluran juga tidak populer.





Matahari hampir tenggelam di balik gunung, saya mengambil momen itu tak ingin kehilangan setiap menit dari suasana petang yang indah ini. Banyak orang berf oto-foto dan memandangi keindahan lokasi ini.

Tetapi kami tidak bisa terlalu lama di sini karena tujuan utama hari ini adalah Pantai Bama untuk melihat suasana sunsetnya walaupun pantai itu ada di sebelah timur. Dan akan melihat sunrise untuk esok harinya. Mata saya mengelilingi semua tempat berharap melihat satwa yang ada di sini. Kami melihat sekawanan rusa warna coklat di kejauhan. Tampak juga dua ekor burung merak sedang merunduk seperti sedang makan rumput.

Tidak lama kemudian kami melanjutkan perjalanan ke Pantai Bama. Lima belas menit kami sampai setelah memasuki kawasan hutan jarang dengan tumbuhan pohon bercabang bonsai berwarna keputihan berdaun kecil, cantik. Sementara pohon palm sejenis pohon lontar menyebar tinggi menjulang. beberapa pohon sudah tidak berdaun dan pucuknya tumbuh seperti bunga keras berwarna sama dengan batangnya mengurai kekiri-kanan memenuhi pucuk pohon yang gundul. Sepertinya pohon itu menunjukkan bahwa dirinya adalah pohon yang tak pernah mati oleh panas yang sepanjang tahun.

Sampai di tujuan, pemandangan pantai di balik hutan belukar. Di pantai ini juga terdapat beberapa bangunan perkantoran serta rumah dinas. mengelilingi halaman parkir yang luas. Beberapa kendaraan sudah berada di sana termasuk minibus yang tadi bertemu di Bekol. Kami langsung ke pantai mengejar waktu sebelum gelap.
Sisa-sisa cahaya matahari lembut. pohon bakau tampak sangat rimbun menghijau menutup tepian pantai.
Air laut sangat tenang dan suara ikan-ikan kecil berkecepukan di air yang dangkan dan jernih. Ada dua perahu kecil tertambat. Sepertinya jarang digunakan. Tetapi ini cukup menambah keindahan tempat ini.

Hari mulai gelap dan perut mulai lapar. Ada kantin di sudut. Bangunan kayu dan bambu yang rapi dengan sirkulasi udara yang tampaknya nyaman.Kami ke sana mengisi perut sambil berpikir menginap di mana. Sehabis solat magrib di musola kami memutuskan menginap di lokasi ini. Ada satu tempat yang masih kosong yaitu semacam villa, dengan sewa Rp 200.000.00 satu malam.
Ternyata villa itu letaknya agak terpencil di kelilingi semak dan pepohonan walaupu viewnya langsung ke laut.
Ah tidak mengapa itung-itung uji nyali kata saya lalu kami ke sana. Begitu dibuka pintunya, puih panasnya udara dari dalam dan pengab baunya. Lantai kayunya berdebu dan kelihatannya lama tidak ditempati. Saya berani katakan tidak. Lalu saya minta pada petugas lebih baik kami diperbolehkan tidur di kantor dan menggelar tikar demi kenyamanan. Setelah bernegosiasi cukup lama sehabis solat isya saya diberitahu adik bahwa kami diijinkan tidur di rumah dinas penjaga tetapi tiket sewa villa tidak bisa ditawar. oh lega rasanya.
Rumah dinas ini cukup luas. Ada dua kamar tidur satu ruang kantor lengkap dengan kursi tamu.

Kami menyatu dengan penjaga taman yaitu dua pria dan seorang mahasiswi jurusan Biologi Universitas Gajah Mada yang sedang melakukan penelitian. Kami ngobrol di teras tentang situasi di hutan Baluran. Tentang adanya harimau kumbang, ular kobra dan binatang berbahaya lainnya. Karena itu kami tidak diizinkan berkemah dan harus menginap di villa.Sementara kami mandi bergantian adik saya membuat teh dan kopi di teras juga merebus mie. Terasa seperti sedang berkemah juga, kami bercerita lagi dan bercanda sementara komplek ini berada di lokasi yang jauh dan terpencil di tengah hutan. Yang pasti suasana malam ini menghangatkan mereka yang ada di sana yang kesepian setiap malam. Apalagi setelah jam sebelas lampu harus dimatikan. Ya di sini semua penerangan menggunakan genset bukan listrik.
Tetapi justru ini lebih menguntungka karena kami bisa mengintip suasana terang bulan di luar.
Dan benar, tampak ada setitik merah seperti bara. Saya berpikir itu nyala dupa, Tetapi ternyata itu bulan yang muncul di permukaan laut. Bagusnya, kami pun berlari ke pantai untuk mengambil gambar.
Hei penjaga taman pun datang dan ikut mengambil gambar pula.

Saya mulai mengantuk,sebelum jam sebelas kami sudah bergegas tidur karena kami tidak ingin kehilangan momen matahari terbit.

Jam setengah empat kami semua sudah bangun, mandi lalu solat subuh. Dari jendela tampak fajar  menuju  sudah menyingsing. Kami segera ke pantai terus menerus mengamati cahaya di horison. Pandangan kami tertuju ke arah cahaya yang paling terang di sebelah kiri. Eh ternyata mataharinya tertutup awan dan lambat laun menyembul di bagian tengah. Ya sudah terbit dan bercahaya. Tetapi masih beruntunglah dia masih tetap dalam katagori sunrise yang indah. Karena di dampingi siluet awan-awan yang lucu dengan latar cahaya kuning keemasan.





Pasukan kera mulai berlompatan turun dari pohon. Ternyata di atas villa kami yang tertinggalkan di pohon dan di atap kera berlompatan dengan suara berisik. Bisa dibayangkan bagaimana seandainya kami tidur di sana. Bisakah kami tidur? Ada sepasang kera turun dari pohon. Sang induk berjalan sambil menggendong anaknya. Mereka kemudian duduk di pasir sambil yang hanyat oleh sinar matahari. saya tertegun melihat mereka seperti keluarga kecil yang bahagia. Sang induk mendudukkan anaknya di depannya lalu mencium dahi dan wajah anaknya setelah itu membelai-belai kepalanya sementara sang jantan duduk di sebelah kiri betinanya sambil memandangi anaknya juga. Apa yang dibisikka ibu kera itu di telinga anaknya, kemudian anaknya rebahan di pangkuan ibunya seolah meminta sang ibu terus membelainya. Keluarga ini ya mungkin yang patut disebut keluarga yang sakinah mawaddah warohmah.


Saya tidak bisa melupakan pemandangan itu, mereka kera yang lembut hati dan penuh cinta kepada keluarganya. Satu sama lain mengasihi yang sesungguhnya.
Kami menggelar tikar dan bersiap memasak. Satu dari kami mengawasi situasi dengan tongkat siap di tangan, berjaga-jaga karena para kera sudah mengintai dari segala penjuru.
Kami mulai memasak instan. Nasi, telur dadar, nuget dan ada juga mie goreng dan mie rebus. Standar backpakeranlah. Ngeteh, ngopi dan cemilan. Syukurlah si kera pada menjauh melihat orang memasak. Ternyata masakan ini tidak menarik minat mereka.


Selesai beres-beres, sesuai rencana kami berjalan kaki kembali ke post Bekol kecuali yang nyopir. Sepanjang jalan tak henti-hentinya kami menikmati panorama dan mengambil foto. Sampai di post Bekol satu jam kemudian. Matahari sudah cukup panas.Kami ke menara pengintai tetapi pada siang ini tidak ada binatang yang tampak kecuali kerbau liar dan burung yang berterbangan dari pohon ke pohon.








Setelah puas, perjalanan dilanjutkan. Kali ini tujuannya ke objek wisata Taman Suruh. Taman dengan kolam renang dari sumber air alam yang sangat segar dan tak berbau. Ada beberapa kolam di sini dengan tiket masuk berbeda. Kami mengambil kolamVIP. Karena perawatan kolam ini ekstra bersih dan nyaman. Ternyata keadaan kolam ini belum berubah dari kedatangan kami pertama kali lebih darilima tahun lalu.
Tak sabar menunggu lagi kami langsung terjun dan brrrr, dingin sekali. Kami perlu adaptasi dulu jadi kami naik lagi, bergerak-gerak sebentar di air, selanjutnya uji kemampuan lagi hahahah sampai lemes.










Belum puas rasanya tetapi waktu sudah habis dan taman tutup setengah jam lagi yaitu pukul 16.30. ya sudah kami bergegas pulang ke Bali dan jam 23.00 WITA sampai di Tabanan lagi; Sangat menyenangkan.








Kamis, 24 Maret 2016

Nikmatilah Hidup Anda

Selamat pagi. selamat bertemu lagi, semoga pekerjaan Anda hari ini lancar, rezeki Anda mengalir seperti sungai yang tak bermuara mengalir dan menggenangi sawah-sawah tandus, kebun-kebun kering dan menjadi sumber penghidupan bagi banyak orang.
Bersyukurlah kita bisa menikmati kehidupan yang penuh dengan warna ini. Seperti sebuah taman yang sangat luas dan di dalamnya terdapat aneka bunga dan pepohonan yang mengelilingi danau- danau berair jernih, yang airnya juga mengalir kecil melintasi belukar dan semak-semak. Berbagai kehidupan lain juga ada di setiap sudut rumit yang ada di taman itu.
Sahabat, terkadang kita tidak habis mengerti mengapa sebagian dari kita lupa bahwa sesungguhnya kita itu hanyalah kita, manusia yang terdiri dari raga dan jiwa. Yang diberi kesempatan untuk mengalami pa yang namanya hidup dan bergerak mengikuti keinginan jiwa dan raga. Sehingga yang terjadi adalah pergerakan itu melebihi kapasitas jiwa kita sehingga timbul keruwetan dalam hidup. Kelebihan gerak hedonisme membuat ketidakseimbangan antara jiwa dan raga. Lupa bahwa sesungguhnya kenikmatan hidup itu ada pada keseimbangan dan keserasian. Gerak pertumbuhan hedonic yang diimbangi dengan keinginan untuk berbagi dan memberi arti pada orang lain adalah cara untuk menyeimbangkan antara kelebihan dengan kekurangan dengan tidak mengurangi kenikmatan yang kita rasakan.
Begitu pula pekerjaan yang menyita waktu sebenarnya mengurangi kesempatan kita dalam hidup. Kehilangan waktu tidak akan terganti kecuali kita bisa membaginya, antara rutinitas pekerjaan dan selingannya.
Dan selingan yang dibutuhkan adalah hal baik yang menyenangkan kita. Bukan hal yang menyenangkan tetapi tidak baik untuk kita.


Ah saya melantur Tuan. Baiklah saya katakan saja bersenang-senanglah selepas bekerja agar Anda terbebas dari tekanan. Berdekatlah dengan rasa syukur setiap hari dan berjauhlah dari rasa keluhan setiap hari. Nikmatilah potensi alam untuk membangkitkan gairah dan semangat hidup. jika tidak bisa berwisata cukuplah dengan merasakan sejuknya suasana pagi dengan secangkir teh atau menyempatkan diri menghirup udara malam di teras sambil melihat bulan di sela-awan atau bahkan menghitung rasi bintang he he, seperti masa-masa kecil saya dulu. Kami menggelar tikar di halaman pada malam hari lalu bermain tebak-tebakan atau berdongeng. Dan itu sangat mengesankan sampai saat ini.
Baiklah Sahabat sampai di sini salam pagi dari Taman Sari.







Sabtu, 19 Maret 2016

Setia

Sebenarnya mata ini sudah mengantuk tetapi saya harus setia untuk berkabar berita kepada siapa saja terutama pada diri saya sendiri. Saya lebih merasa tak berguna jika tak ada yang bisa saya tulis karena tinggal kebiasaan ini yang perlu dipertahankan. Komunikasi satu arah namun cukup membuat saya merasa nyaman setelahnya dan tidur saya akan lebih nyenyak.
Tak terhingga terima kasih saya kepada Blogger.com untuk bantuannya mempublikasikan tulisan saya dan tentu saja juga terima kasih saya kepada pembaca yang mau meluangkan waktu untuk membaca tulisan ini.

Saya sudah kehilangan beberapa teman ngobrol di messenger, kecuali Hassan Cecilia. Gadis yang sangat setia terhadap komitmen seorang teman. Sayang sekali perbedaan waktu sudah membatasi chatting kami sehingga tidak jarang kami chatting terpotong-potong. Tetapi meskipun begitu kami saling setia dan menghargai setiap kata yang kami ucapkan.
Waduh ngantuk ga ketulungan, sampai besok.

Jumat, 18 Maret 2016

Tamansari Sebuah Taman Yang Paling Indah







Selamat malam dari Tamansari. Taman yang banyak membawa cerita tentang apa saja selama tiga dekade yang saya lewati..
Dimulai dari kontrakan kamar berdua lalu berpindah ke kontrakan rumah tua kecil dan selanjutnya rumah bagus kecil dan terakhir di rumah sederhana berplafon anyaman kulit bambu. Malangnya keluarga kecil saya saat itu. Perpindahan setiap tiga tahun sekali dengan pilihan terpaksa karena rumah_rumah itu selalu berpindah tangan dari pemlik satu ke pemilik lain.
Dan rumah terakhir membuat saya trauma untuk berpindah lagi maka ketika induk semang menyatakan rumahnya dijual. Saya bilang saya akan beli. Hanya keberanian, dan ini muncul dari ketakutan akan perpindahan.
Syukurlah, tiba-tiba induk semang menyatakan akan menggagalkan jual beli yang sedang dibicarakan dengan  orang lain dan memilih saya sebagai penghuni terakhir. Begitulah keberuntungan dan perjodohan rumah ini. Keberuntungan selanjutnya adalah ketika induk semang menyatakan  kami diberi waktu untuk mengangsur pembayaran dalam tempo satu tahun, luar biasa bagi kami. Saya segera membayar  sebanyak uang yang saya punya yaitu tujuh puluh persen dari harga. Sisanya suami yang mengangsur.
Masih saya ingat malam hari setelah transaksi terjadi kami tidak bisa tidur merasakan kenikmatan yang luar biasa karena memiliki rumah. Itulah cerita tentang Tamansari taman saya, taman yang paling indah pada 20 tahun yang lalu.



Kini cerita di taman saya sudah mencapai belasan episode he he, dari kami berdua yang menjadi  aktornya berkembang menjadi anak-anak sebagai penerus ceritanya. ya sama saja cerita tentang kehidupan memang cuma dua tema yaitu kemurungan dan kegembiraan. Seperti halnya sandiwara ada tragedi ada komedi dan pada akhirnya kembali ke hal yang biasa. Begitulah apa yang saya alami juga dialami anak saya. Mungkin saja di dalam kehidupan orang lain. Karena itu tidak perlu berpikir kalau seharusnya hal yang menggembirakan saja yang kita kenal. Bukankah kegembiraan itu terasa karena kita sudah merasakan ketidakgembiraan? Bukankah kebahagiaan itu hanya bisa kita rasakan setelah lama kita tidak memilikinya?
Jadi kesimpulannya bahwa Tamansari menjadi legenda kehidupan kami yang penuh suka dan duka.
Selamat malam.





Selagi ada Warna



Dalam hari yang tak bermakna
masih ada warna yang harus dilihat
di antara detik-detik yang bergerilya
di antara matahari bulan dan bintang yang beredar pada rotasinya

Jika saatnya semuanya berhenti
Tak ada lagi warna
Dan tak kutahu apakah waktu akan bertahan
apabila detik sudah selesai jalankan tugasnya

Selagi ada warna
kita bisa memilihnya
putih, kuning atau semua warna
sebelum menyesali kesempatan yang hilang warna




Kamis, 17 Maret 2016

Hanya Aku yang Tahu



Seperti yang kukatakan bahwa senja ini hanya senja hampa
segala tak punya jiwa, biasa saja
seperti yang aku rasakan aku ingin yang biasa saja
karena satu-satunya yang luar biasa sudah terlewati
bertahun lalu

aku hanya tak ingin lupa
aku sendiri
bukan siapa-siapa

aku baru saja melihat lembayung di langit yang sama
baru saja menyusur jalan yang hampir sama
tetapi aku tak mendapat apa-apa
karena segalanya sudah tidak ada
cahaya emas dan kilau menjelang malam hanya ulangan dari hari-hari kemarin
bukan hari itu
satu kali kita bertemu dalam seulas senyum
dan setelah itu kita melambai dalam jalan berbeda
Senja telah berlalu
hanya aku yang tahu
tidak untuk kamu




Rabu, 16 Maret 2016

Kita Telah Bersua






                               
                               Jika mentari senja masih ada di sana cahayanya tidak akan seindah kala itu
                               Jika jalanan masih hiruk pikuk, potretnya tak sejelas kala itu
                               Di antara semburat warna jingga dan silau lembut keemasan yang mengakhiri senja itu
                               Aku pulang dengan tangan membentang oleh bahagia
                               berteriak pada langit tentang berita kita
                               Kita telah bersua