Senin, 23 September 2013

Asal Ada Perubahan

Selamat malam Pembaca,
Hari ini banyak hal yang saya kerjakan untuk mempersiapkan laporan tengah semester. Nilai Pengetahuan, ketrampilan dan sikap dalam laporan tidak lagi dalam bentuk angka, tetapi dalam bentuk Predikat A, B, C dan D. Menentukan predikat tersebut menggunakan skala interfval dengan bentangan yang cukup jauh. Sedangkan nilai sikap menggunakan skala juga lalu dituangkan dalam kata dan frase Amat baik, Baik, Cukup dan kurang.

Sistem penilaian ini memang sudah lama dipergunakan di perguruan tinggi. Tetapi untuk sekolah tingkat SMA ya baru digunakan pada kurikulum 2013 ini, yang saya katakan kurikulum tidak bermutu. Termasuk sistem penilaiannya yang seperti ini. karena menurut saya memberi nilai dengan standar predikat, sulit bagi siswa untuk mengukur kemampuan individu mereka karena tidak tampak perbedaan kemampuan antara siswa yang pandai dan yang biasa saja. Hal ini disebabkan nilai mereka berada dalam interval yang sama.

Sebenarnya perubahan-perubahan sistem ini hanya mengada-ada saja dan tidak begitu penting. Boleh jadi ini juga hanya asal ada perubahan kurikulum saja, makanya semuanya juga asal-asalan.

Sabtu, 21 September 2013

Selamat Beristirahat!

Selamat pagi dari kamar saya, saya sedang mengutak atik blog saya yang lain dan pada akhirnya saya tinggalkan karena ada masalah yaitu tidak jelasnya alamat blog yang sudah saya tinggalkan sejak tiga tahun lalu. Blog khusus untuk kegiatan sekolah dan kerjaan.
Semalam saya sudak mengutak atik tata letak dan memperbaiki penampilannya sedemikian rupa lalu menulis panjang lebar tentang gambaran kota kelahiran saya Bojonegoro, sebagai bentuk partisipasi saya untuk memperingati Hari Jadi Kota kelahiran itu. Tetapi hari ini saya hanya bisa membukanya lewat daftar bacaan di situs blog lain yaitu blog Ini yang aku Tulis.
OH, padahal kalau bisa selesai maunya akan saya ikutkan lomba Ngeblog Jonegoroan. Tetapi sudahlah saya akan mencoba lagi di Blog ini saja nanti.

Halo Pembaca, apakah hari Minggu ini Anda juga bisa menikmatinya, istirahat sejenak dari rutinitas pekerjaan? Saya berharap begitu. Bagaimanapun juga diri kita adalah yang terpenting. Menjaga kesehatan dan memenuhi kebutuhan rokhani dan jasmani adalah keharusan. Jiwa raga kita adalah Rahmat yang harus dijaga. Semua yang kita miliki akan terlepas dari kita pada suatu saat, tetapi raga dan jiwa kita tak akan pernah kita tinggalkan dalam situasi apapun.

Jadi mari kita beri apa yang dibutuhkannya. Beristirahatlah sekarang untuk bekerja lagi esok hari.  Jiwa raga sudah memberi arti pada hidup kita dan hari ini kita harus memberi arti pada keduanya. Membiarkan mereka menikmati relaksasi agar besok mereka bisa bekerja lagi untuk kita.
Selamat beristirahat!


Jumat, 20 September 2013

Biar saja Waktu Terus Bergulir

Biarkan saja waktu terus bergulir karena tak ada satupun kekuasaan yang bisa menghentikannya selain Sang Pencipta.Yang tidak boleh kita biarkan adalah membiarkan waktu bergulir tanpa menghasilkan apa-apa.

Manusia adalah karyanya, apapun itu, berguna atau tidak berguna bagi orang lain adalah nomor dua.Yang pertama adalah apa karya kita. Tetapi perlu diingat  kita harus belajar dari kata-kata bijak bahwa sebaik-baik manusia adalah mereka yang berguna bagi orang lain.

Maaf Saudara, saya suka menggurui.
Sebenarnya saya ingin mengatakan kalau saya memang sangat senang menggurui diri sendiri. Karena terlalu banyak kekurangan saya pada masa lalu. Antara lain membiarkan semua kesempatan saya banyak terbuang  sia-sia sementara waktu terus bergulir meninggalkan kita.
Dan sekarang...
Banyak peluang untuk melakukan perubahan menuju perbaikan  masa lalu. Namun selalu timbul pertanyaan masih bergunakah itu.

Pembaca muda,
Ketajaman ilmu pengetahuan dan teknologi yang dihasilkan oleh para pemikir adalah bantuan  untuk mengejar ketertinggalan  orang-orang sebelum Anda.
Karena itu tidak ada alasan untuk mengulang kesalahan yang sama seperti yang terjadi pada generasi sebelum Anda.
Andai saja saya bisa mengulang masa muda, saya tak akan membiarkan waktu saya berjalan sendiri. Kalau bisa saya ingin berjalan dengan seribu kaki untuk menyertainya dan bekerja dengan seribu tangan untuk mencapai keinginan saya, sebelum waktu melampaui.
Dan saya ingin berguna untuk orang lain.

Pantai Pede Labuan Bajo 2010

Pantai Tanjung Bunga Makasar 2013


Kamis, 19 September 2013

Apa yang Saya Tunggu?

Yang sebenarnya saya menjadi orang yang sedang menunggu. Selalu menunggu dan menunggu. Mungkin juga  banyaknya orang lain yang merasakan hal yang sama.
Terkadang hidup ini memang untuk menunggu dan berharap.
Tetapi sebenarnya harapan tidak pernah ada di belakang ya. Harapan selalu ada di depan.
Jadi  menunggu itu tidak ada artinya tanpa melakukan perubahan untuk mencapai harapan.

Tetapi persoalan menunggu saya ini lain dari yang lain. Dan ini menjadi rahasia hidup saya. Di sini saya hanya ingin menegaskan bahwa emosi jiwa manusia itu tidak sama tua-nya dengan raga. Tidak sebanding dengan tanaman yang tumbuh segar, dan layu sebelum  mati. Harapan, keinginan dan cita-cita manusia ternyata tidak pernah layu sebelum kita benar-benar mati.
Barangkali itulah yang menjadikan kehidupan ini penuh dengan  perjuangan dan ambisi.
Tetapi pada akhirnya kita akan bisa menerima kenyataan bahwa proses regenerasi kehidupan akan terus berlangsung tanpa perlu ditunggu.

Puncak G Kelimutu 2010

Rabu, 18 September 2013

Menjadi Guru Sangat Menyenangkan

Hari ini saya sedikit lega karena program untuk satu semester ke depan tinggal print out. Selanjutnya mempersiapkan nilai tengah semester. Pekerjaan ini menjadi rutinitas yang berirama bagi saya. Harmonisasi antara gerak badan dan olah pikiran, begitulah. Dan yang terpenting inilah jalan menuju sehat rokhani dan jasmani hmm hmm hmm, kata siapa, paling-paling kata saja. Gpplah.

Pembaca,saya tersinggung ketika pada rapat kemarin wakasek urusan kurikulum mengatakan bahwa teman-teman menjadi semangat bekerja setelah diingatkan kalau uang honor tidak akan dibagikan jika tidak menyetor program. Saya bertanya bolehkah tidak membuat program? Saya katakan juga sebaiknya uang honor dihapus dan kami tidak perlu membuat program. Padahal semua tahu membuat program adalah kewajiban.
Wakasek tertegun ketika saya katakan juga bahwa kewajiban tidak ada korelasinya dengan uang. Dia hanya tersenyum dan menjawab 'terserah'. Jawaban orang bodoh.
Begitulah kalau menjadi orang hanya bekerja dengan ego, dengan model kepemimpinan yang bersifat memaksa padahal itu tidak ada artinya sama sekali.

Menjadi guru memang menjadi bawahan yang harus bisa mengikuti apa mau yang kita layani. Dari kemauan Kepala Sekolah, Wakasek, dan Guru Bimbingan Konseling. Mereka sering menganggap guru sebagai pegawai serabutan. Mereka suka menegur guru jika ada masalah murid nakal, murid ribut, murid melakukan pelanggaran,  tidak disiplin dll. Dengan mengatakan guru melakukan pembiaran. Guru terlambat masuk kelas menjadi pembicaraan sedang mereka mau datang jam berapa ga ada yang tahu karena ga ada yang mencari.

Setan merah, Guru mengajar itu bukan menghadapi benda mati. Saya pernah membantah dengan membalik pernyataan, Sudah begitu keras wakasek dan Guru Bimbingan konseling mendidik dan menghukum murid yang bermasalah, apa Anda merasakan hasilnya? Lalu saya katakan juga kenapa salah seorang wakasek dengan berapi-api dalam rapat mengatakan hal itu terjadi karena tidak ada guru yang mendukungnya sambil menangis? Para Guru bimbingan Konseling hanya diam.

Saya berkeberatan dipandang tidak peduli murid. Sehari-hari makanan guru di kelas adalah menghadapi kenakalan murid. Belajar tidak akan berlangsung maksimal tanpa terus menerus mengingatkan dan menegur murid yang membuat masalah di kelas.
Mereka hanya tahu masalah-masalah besar di luar, tak pernah tahu masalah sehari-hari di dalam kelas.
Tetapi semua ini hanyalah serba-serbi yang mewarnai pengalaman seorang guru.
Yang jelas menjadi guru itu sangat sangat menyenangkan.

Penutupan Masa Orientasi Siswa 2013

Hasil Perjalanan di Nusa Dua

Perjalanan yang krodit antara Tabanan dan Nusa Dua pada Sabtu kemarin memudarkan keinginan untuk mengulanginya. Semula agenda perjalanan itu hanya untuk melihat kondisi secuil tanah yang tak pernah saya tengok lebih dari sepuluh tahun lalu. Tanah itu dulu hanya lerengan bukit kapur yang tandus dan panas. Itulah yang tidak menarik saya untuk mengunjunginya dan menganggapnya sebagai simpanan tak berharga.
Lalu kenapa tiba-tiba saya ingin melihatnya? Karena seorang teman adik, dosen Sekolah Tinggi Pariwisata meminta kami menjualnya, dan harganya sudah hampir kelipatan sepuluh sejak saya beli.

Namun, begitu kami melihatnya, kami tidak tergiur lagi dengan harga. Padahal teman itu sudah yakin untuk membelinya, bahkan batas tanah sudah ditandai dengan cat pilok merah.
Apa yang saya lihat? Tanah yang tak berharga itu sekarang berada di kawasan elit pembangunan hotel berbintang dan villa yang bakal bertumbuhan di sekelilingnya. Waduh saya tidak menyangka, lokasi tanah itu menjadi sangat strategis tidak jauh dari portal kawasan yang sedang dibangun melingkari bukit. Jadi jalan yang dulu hanya seperti jalan air pada musim hujan itu sudah menjadi jalan mulus dan sepi selebar tujuh meter menuju puncak bukit kecil di depan. Sedang di latar belakang adalah pemandangan lembah dengan jalan kapur yang berliku. Sudah ada beberapa rumah bertingkat di kejauhan.

Pengalaman itu membuat saya ingin merancang bagaimana secuil lahan  itu bisa menjadi lebih berharga suatu saat nanti. Dan bisa dinikmati oleh siapa saja yang datang. Dan tentu saja juga bisa menghasilkan uang.
Tidak lama lagi saya pensiun, saya pasti perlu sumber penghasilan baru untuk menjamin kelangsungan hobi saya, he he he. Uang pensiun jelas tidak cukup untuk menyalurkan hobi.
Kini saya jadi menghayal bagaimana cara mendapatkan uang. Menjual sesuatu yang lain atau mencari pinjaman di Bank atau mencari pemodal, keluarga? Atau bahkan......warisan? hahahahah....maaf saudara-saudara saya cuma menghayal.





Jumat, 13 September 2013

Apa yang Membuat Guru Marah?

Kemarin saya tidak ada jam mengajar tetapi saya jaga piket. Ada tiga orang namun yang satu orang tidak masuk sudah dua kali piket untuk kemarin dan yang satu lagi karena saking enerjiknya kali keliling terus.
Dan pada saat bel istirahat banyak siswa yang minta ijin meninggalkan sekolah untuk satu keperluan atau karena sakit.
Ada seorang murid laki-laki mengantar temannya minta ijin karena sakit. Anak itu bicara sambil mengunyah permen karet. Saya pandang dia kuat-kuat, "Buang permennya!" Kata saya. Anak itu membuang permen dari mulutnya lalu bicara " Yang minta ijin bukan saya, ini teman sakit."
" Kamu tidak pantas bicara di hadapan guru  dengan mengunyah permen!" Saya sedikit marah.
Anak itu tampak menyerah dan menerima.
Begitulah, hal kecil tetapi bisa membuat kemarahan besar bila itu terjadi pada waktu yang tidak tepat.
Apalagi sudah banyak kali diam-diam murid membuka handphone pada saat kita mengajar. Saya tidak mau lagi bicara banyak tentang itu. Saya minta mereka menaruh HPnya di meja saya dan saya hajar dengan pertanyaan tentang apa yang baru saya jelaskan dan pasti mereka tidak bisa menjawab.

Saya tidak mengerti apa ini dibenarkan atau tidak, menghukum dengan mempermalukan. Tetapi ini untuk menyelamatkan emosi saya dari rasa marah kepada kelas. Dan mengamankan saya dari tipuan mereka yang saya yakin tidak akan bisa melepaskan diri dari keranjingan membuka handphone. Kalau sudah begitu barulah situasi kelas bisa tenang, aman dan terkendali he he he.