Selasa, 07 Oktober 2014

Yang Baik bagi Mereka

Cahaya bulan memenuhi cakrawala. Pemandangan bangun atap-atap gelap tegas di bawah warna abu-abu. Malam jadi sunyi walaupun semilir musim kemarau sudah memberi kelembutan.
Rasanya hidup ini sudah berabad-abad saya jalani tetapi tidak sampai juga di ujungnya.
Saya memang merasa belum siap mencapai ujung. Terlalu banyak kesalahan yang belum saya perbaiki.

Jika suatu hari saya mati, mungkinkah saya akan sampai pada-Nya?


Bibir Kawah G Ijen 2014
Saya sering menanya, kesalahan saya yang manakah yang membuat peruntungan saya terkadang menyakitkan. Saya seperti mengangkat beban yang lebih berat dari tubuh saya. Berjalan dengan kaki penuh luka tetapi terus melangkah.

Begitu lama saya berharap ada perubahan, tetapi rasanya semua percuma. Saya tetaplah saya yang tak pernah terlihat ada.

Karenanya saya merasa sepi dalam ketidakadilan hidup saya. Rasa iri sering mengusik jika berpikir tentang nasib orang lain.
Tetapi pada akhirnya saya menyadari, setiap orang mendapatkan peruntungnnya masing-masing. Sesuatu yang baik pada mereka mungkin tak akan menjadi baik bagi saya.

Selamat malam pembaca.

Minggu, 05 Oktober 2014

Malam Membentang



Malam membentang, pikiran larut dalam satu pencarian, sesuatu yang saya tahu tak akan saya temukan lagi. Kecuali jika takdir mau bicara.
Sebenarnya tidak semua pencarian harus berakhir dengan penemuan. jadi biarkan saja pikiran menikmati kebebasannya di mana pun dia berada, tanpa terbebani oleh satu keinginan.

Seperti yang sudah diajarkan kepada kita tentang nasib, bahwa tak ada perubahan nasib jika kita tidak mau merubahnya. Saya telah mengubah  nasib itu, mengubah sejarah.

pembaca,
jangan abaikan permulaan sejarah karena banyak hal tak terduga  terjadi karena kita salah memulai.
Dan ketika ada yang salah dalam sejarah, terlalu sulit untuk menghapusnya. Seperti orang bilang, menghapus tulisan itu mudah, begitu juga menghapus noda tetapi menghapus kesalahan sangat sulit. Ada konsekuensi yang harus diterima.

Bedugul suatu Pagi

Jumat, 03 Oktober 2014

Ruben Kiven

Sore, 2 Oktober saya mendapati sebuah pesan baru di facebook dari Ruben Kiven. Orang yang tidak saya kenal tetapi tak menjadi masalah bagi saya. Saya sudah menjawab petemanannya minggu lalu.

Pesannya kali ini membuat saya terkesan. Dengan kalimat yang mirip bahasa mesin penerjemah, tersurat rangkaian kata yang membuat hati saya pilu. Seperti larik dalam puisi.

Saya berpikir bahwa apa yang kita pikirkan tentang sesuatu bisa berbeda dengan pikiran orang lain, tetapi  yang kita rasa bisa sama. Ya, rasa memang berbicara tentang kemanusiaan yang lebih universal dibandingkan dengan pikiran.
Saya memahami puisi itu tetapi saya tidak bisa menerima hal yang bertolak belakang dengan keadaan yang sebenarnya.
Walau begitu saya sudah mendapatkan hal positif dalam pesan itu. Semangat baru telah ditularkan kepada saya dalam menghargai hidup ini..



Thank you so much Ruben.

Merangkai kenangan di Desa Adat Penglipuran Bangli

Tanggal 26 September lalu, kegiatan rehat di tengah semester menjadi acara yang cukup menyenangkan. Bersama murid dan sejawat kami melakukan perjalanan ke Desa Adat Panglipuran di kabupaten Bangli. Walaupun ini merupakan kunjungan yang ke sekian kalinya bagi saya, tetap saja acara ini menyenangkan.


Berat rasanya meninggalkan moment seperti ini. Apalagi murid-murid saya seperti sangat menyintai saya. Mereka selalu mencari perhatian di mana pun bertemu saya. Meminta foto bersama, atau meminta saya mengambil fotonya, meminta ditraktir, mengikuti saya dsb. Atau terkadang memanggil-manggil nama saya agar saya menoleh.

Di sekolah, seringkali saya menyelinap apabila melewati kelas-kelas tertentu saat jam istirahat, karena saya tahu mereka akan serentak memanggil nama saya dan melambai-lambaikan tangan. Dan I love you Buk menjadi satu paket dengan jawaban saya Love you too, dan tampak mereka gembira sekali.
Itukah yang harus hilang dari saya?




Minggu, 28 September 2014

Bergabung dengan Rinjani Trekking

Sejak saya bergabung dengan grup Rinjani Trekking minggu lalu dan memposting empat buah foto, hampir setiap hari likers memberi jempolnya. Saya senang tentu saja dengan banyaknya pembaca yang menyukai foto saya. Juga beberapa permintaan pertemanan. Salah satunya adalah pembaca dari Lombok Barat yang bekerja di biro perjalanan wisata. Kami sedikit akrab dengan obrolan seputar perjalanan.

Tetapi saya selalu berpikir tentang rasa rendah diri dan trauma. Sekalipun dalam pikiran saya tak ada yang harus berubah tentang pergaulan dan hobi karena usia, belum tentu demikian pandangan orang lain. Jadinya serba susah untuk mengekspresikan diri semaksimal mungkin.
Hanya generasi yang sama yang tahu apa keinginan kita. Pertemanan seputar netizen memang rapuh dan penuh tipuan. Terkadang penuh dengan intrik juga. Karenanya bisa jadi saya juga akan dianggap sebagai teman sejenis itu ketika mereka tahu siapa saya. Itulah alasan mengapa saya kini menjadi setengah hati dalam perkenalan di dunia maya.

Pembaca, saya berharap tidak ada kekecewaan mengetahui siapa saya, seorang nenek yang sangat gemar dengan banyak hal yang menjadi kesukaan bukan nenek-nenek he he. Bagi saya kemerdekaan berekspresi adalah segalanya.
Tahukah kawan saat-saat ini saya sudah kecanduan, saya mulai membayangkan rasa capek dan nafas terengah-engah di terik matahari dan jalan tanjakan berbatu. Saya seperti tergila-gila membayang gunung. Ingin sekali memeluknya...apa daya tangan belum sampai. Saya hanya sebatas mengenang dan mengingat-ingat perjalanan yang sudah lewat.



Kawan, mata kamera lebih tajam dari mata manusia. Foto ini diambil pada sekitar jam 20.00 WITA selepas hutan Baknau di kaki G Rinjani. Waktu itu awal bulan sabit, gelap, tetapi pemandangan angkasa sungguh menakjubkan. Kami berat meninggalkan tempat itu dan menghabiskan waktu beristirahat sambil menunggu tim di tempat itu bertiga dengan keponakan. Seandainya ada binatang buas atau pun orang jahat kami tak akan bisa berkutik. Sorot lampu di belakang itu terlalu jauh untuk orang yang kelelahan.
Mengingatnya terasa pilu di dada, ingin kembali.

Rabu, 24 September 2014

Belajar dari Alam

Selamat petang,
Merah lembayung di langit barat daya sudah menandai bahwa hari ini kita perlu beristirahat. Jadi mari kita nikmati istirahat ini dengan secangkir teh dan sepotong kue. Siapa tahu kenikmatan ini menjadi inpirasi  untuk hari esok dan sekaligus bisa merefleksi apa yang  terjadi hari ini . Karena sangat tidak mungkin dua hal ini bisa kita lakukan ketika kita terlalu sibuk dan suntuk dalam pekerjaan.

Sahabat, Saya baru saja memposting foto di facebook saat menuruni G. Semeru. Saya tulis status ' Walaupun tidak seberat saat mendaki, menuruni puncak pun perlu kawan.'  Tetapi hanya satu kawan yang bisa mengerti maksud kalimat saya.

Sebenarnya yang  membuat saya berpikir begitu adalah saat saya mendaki G Semeru, harus menempuh perjalanan yang panjang dengan trekking dan  medan yang bervariasi. Apalagi saat muncak, saya hampir putus asa lalu saya bangkitkan semangat saya dengan kalimat " Mungkin beginilah hidup yang sesungguhnya."

Kalau dipikir-pikir apa sebenarnya yang saya cari dengan susah payah begitu kalau bukan satu tujuan, puncak.  Dan apa yang saya dapatkan di puncak, kepuasan.  Namun kepuasan berada di puncak  tidak akan bisa bertahan lama karena angin di sana terlalu keras. Maka turun adalah jalan satu-satunya. Dan pada saat turun, keberadaan kawan sangat saya perlukan. Mereka yang kuat dan muda beberapa kali terjungkal karena berjalan sendiri tetapi dengan saling berpegangan saya turun tanpa kesulitan.

Begitulah saya belajar dari alam.

G Semeru 2014

Puncak G Rinjani 2013




Selasa, 23 September 2014

Semangat Baru


Hari ini saya bisa sedikit santai mengawali pekerjaan karena kali ini kegiatan tengah semester dimulai. Pelajaran di dalam kelas tidak ada dan digantikan dengan kegiatan di lapangan.

Bisa menikmati pagi di rumah begini menjadi saat yang langka sejak tahun pelajaran ini, karena pada hari Minggu pun saya harus bekerja walaupun hanya sampai jam sebelas.

Pekerjaan saya yang baru itu adalah mengajar di sekolah swasta yaitu Madrasah Aliyah di kabupaten Tabanan. Sekolah ini hari liburnya hari Jumat. Bekerja di sini sebagai selingan dan hiburan saja terutama untuk tahun-tahun mendatang setelah saya pensiun.

Saya tidak menyangka jika murid-murid di MA ini memiliki kemandirian berpikir yang lebih baik dari anak-anak SMA. Walaupun penampilan mereka tidak tampak keren dengan berkopiah dan berhijab, kesungguhan belajar dan ketaatan pada pengajarnya patut dipuji. Di sekolah ini guru sangat dihargai oleh muridnya. Mereka siap melakukan apa saja untuk guru dan sekolahnya. Begitu juga dalam pelajaran, mereka antusias dan benar-benar bekerja mandiri sekalipun ada juga murid yang malas. Beban belajar murid jauh lebih banyak karena selain menyelesaikan beban kurikulum Pendidikan Nasional mereka juga harus menyelesaikan beban kurikulum dari Kementerian Agama. Pelajaran formal dimulai jam08.00, setiap kali pertemuan 40. Tetapi jam 07.30 mereka sudah berada dikelas untuk praktik berbahasa yaitu Inggris dan berbahasa Arab setiap hari dengan jadwal bergantian.
Mengajar kelas dengan jumlah murid yang tidak begitu besar rasanya santai dan mudah saja. Di samping itu juga akrab.
Tradisi bersalaman di akhir pelajaran juga menarik bagi saya. Ini juga memberi pelajaran baru bagi saya untuk selalu menjaga kebersihan dan keharuman tangan  karena mereka juga mencium tangan saya sehabis salaman. Mereka juga menyediakan segelas air putih di meja guru dan  menata meja dengan rapi dan bersih.

Murid-murid ini sangat peduli dengan kebersihan kelas dan sekitarnya. Hal ini memberi semangat baru bagi saya untuk bekerja sama dengan mereka.