Jumat, 03 Oktober 2014

Ruben Kiven

Sore, 2 Oktober saya mendapati sebuah pesan baru di facebook dari Ruben Kiven. Orang yang tidak saya kenal tetapi tak menjadi masalah bagi saya. Saya sudah menjawab petemanannya minggu lalu.

Pesannya kali ini membuat saya terkesan. Dengan kalimat yang mirip bahasa mesin penerjemah, tersurat rangkaian kata yang membuat hati saya pilu. Seperti larik dalam puisi.

Saya berpikir bahwa apa yang kita pikirkan tentang sesuatu bisa berbeda dengan pikiran orang lain, tetapi  yang kita rasa bisa sama. Ya, rasa memang berbicara tentang kemanusiaan yang lebih universal dibandingkan dengan pikiran.
Saya memahami puisi itu tetapi saya tidak bisa menerima hal yang bertolak belakang dengan keadaan yang sebenarnya.
Walau begitu saya sudah mendapatkan hal positif dalam pesan itu. Semangat baru telah ditularkan kepada saya dalam menghargai hidup ini..



Thank you so much Ruben.

Merangkai kenangan di Desa Adat Penglipuran Bangli

Tanggal 26 September lalu, kegiatan rehat di tengah semester menjadi acara yang cukup menyenangkan. Bersama murid dan sejawat kami melakukan perjalanan ke Desa Adat Panglipuran di kabupaten Bangli. Walaupun ini merupakan kunjungan yang ke sekian kalinya bagi saya, tetap saja acara ini menyenangkan.


Berat rasanya meninggalkan moment seperti ini. Apalagi murid-murid saya seperti sangat menyintai saya. Mereka selalu mencari perhatian di mana pun bertemu saya. Meminta foto bersama, atau meminta saya mengambil fotonya, meminta ditraktir, mengikuti saya dsb. Atau terkadang memanggil-manggil nama saya agar saya menoleh.

Di sekolah, seringkali saya menyelinap apabila melewati kelas-kelas tertentu saat jam istirahat, karena saya tahu mereka akan serentak memanggil nama saya dan melambai-lambaikan tangan. Dan I love you Buk menjadi satu paket dengan jawaban saya Love you too, dan tampak mereka gembira sekali.
Itukah yang harus hilang dari saya?




Minggu, 28 September 2014

Bergabung dengan Rinjani Trekking

Sejak saya bergabung dengan grup Rinjani Trekking minggu lalu dan memposting empat buah foto, hampir setiap hari likers memberi jempolnya. Saya senang tentu saja dengan banyaknya pembaca yang menyukai foto saya. Juga beberapa permintaan pertemanan. Salah satunya adalah pembaca dari Lombok Barat yang bekerja di biro perjalanan wisata. Kami sedikit akrab dengan obrolan seputar perjalanan.

Tetapi saya selalu berpikir tentang rasa rendah diri dan trauma. Sekalipun dalam pikiran saya tak ada yang harus berubah tentang pergaulan dan hobi karena usia, belum tentu demikian pandangan orang lain. Jadinya serba susah untuk mengekspresikan diri semaksimal mungkin.
Hanya generasi yang sama yang tahu apa keinginan kita. Pertemanan seputar netizen memang rapuh dan penuh tipuan. Terkadang penuh dengan intrik juga. Karenanya bisa jadi saya juga akan dianggap sebagai teman sejenis itu ketika mereka tahu siapa saya. Itulah alasan mengapa saya kini menjadi setengah hati dalam perkenalan di dunia maya.

Pembaca, saya berharap tidak ada kekecewaan mengetahui siapa saya, seorang nenek yang sangat gemar dengan banyak hal yang menjadi kesukaan bukan nenek-nenek he he. Bagi saya kemerdekaan berekspresi adalah segalanya.
Tahukah kawan saat-saat ini saya sudah kecanduan, saya mulai membayangkan rasa capek dan nafas terengah-engah di terik matahari dan jalan tanjakan berbatu. Saya seperti tergila-gila membayang gunung. Ingin sekali memeluknya...apa daya tangan belum sampai. Saya hanya sebatas mengenang dan mengingat-ingat perjalanan yang sudah lewat.



Kawan, mata kamera lebih tajam dari mata manusia. Foto ini diambil pada sekitar jam 20.00 WITA selepas hutan Baknau di kaki G Rinjani. Waktu itu awal bulan sabit, gelap, tetapi pemandangan angkasa sungguh menakjubkan. Kami berat meninggalkan tempat itu dan menghabiskan waktu beristirahat sambil menunggu tim di tempat itu bertiga dengan keponakan. Seandainya ada binatang buas atau pun orang jahat kami tak akan bisa berkutik. Sorot lampu di belakang itu terlalu jauh untuk orang yang kelelahan.
Mengingatnya terasa pilu di dada, ingin kembali.

Rabu, 24 September 2014

Belajar dari Alam

Selamat petang,
Merah lembayung di langit barat daya sudah menandai bahwa hari ini kita perlu beristirahat. Jadi mari kita nikmati istirahat ini dengan secangkir teh dan sepotong kue. Siapa tahu kenikmatan ini menjadi inpirasi  untuk hari esok dan sekaligus bisa merefleksi apa yang  terjadi hari ini . Karena sangat tidak mungkin dua hal ini bisa kita lakukan ketika kita terlalu sibuk dan suntuk dalam pekerjaan.

Sahabat, Saya baru saja memposting foto di facebook saat menuruni G. Semeru. Saya tulis status ' Walaupun tidak seberat saat mendaki, menuruni puncak pun perlu kawan.'  Tetapi hanya satu kawan yang bisa mengerti maksud kalimat saya.

Sebenarnya yang  membuat saya berpikir begitu adalah saat saya mendaki G Semeru, harus menempuh perjalanan yang panjang dengan trekking dan  medan yang bervariasi. Apalagi saat muncak, saya hampir putus asa lalu saya bangkitkan semangat saya dengan kalimat " Mungkin beginilah hidup yang sesungguhnya."

Kalau dipikir-pikir apa sebenarnya yang saya cari dengan susah payah begitu kalau bukan satu tujuan, puncak.  Dan apa yang saya dapatkan di puncak, kepuasan.  Namun kepuasan berada di puncak  tidak akan bisa bertahan lama karena angin di sana terlalu keras. Maka turun adalah jalan satu-satunya. Dan pada saat turun, keberadaan kawan sangat saya perlukan. Mereka yang kuat dan muda beberapa kali terjungkal karena berjalan sendiri tetapi dengan saling berpegangan saya turun tanpa kesulitan.

Begitulah saya belajar dari alam.

G Semeru 2014

Puncak G Rinjani 2013




Selasa, 23 September 2014

Semangat Baru


Hari ini saya bisa sedikit santai mengawali pekerjaan karena kali ini kegiatan tengah semester dimulai. Pelajaran di dalam kelas tidak ada dan digantikan dengan kegiatan di lapangan.

Bisa menikmati pagi di rumah begini menjadi saat yang langka sejak tahun pelajaran ini, karena pada hari Minggu pun saya harus bekerja walaupun hanya sampai jam sebelas.

Pekerjaan saya yang baru itu adalah mengajar di sekolah swasta yaitu Madrasah Aliyah di kabupaten Tabanan. Sekolah ini hari liburnya hari Jumat. Bekerja di sini sebagai selingan dan hiburan saja terutama untuk tahun-tahun mendatang setelah saya pensiun.

Saya tidak menyangka jika murid-murid di MA ini memiliki kemandirian berpikir yang lebih baik dari anak-anak SMA. Walaupun penampilan mereka tidak tampak keren dengan berkopiah dan berhijab, kesungguhan belajar dan ketaatan pada pengajarnya patut dipuji. Di sekolah ini guru sangat dihargai oleh muridnya. Mereka siap melakukan apa saja untuk guru dan sekolahnya. Begitu juga dalam pelajaran, mereka antusias dan benar-benar bekerja mandiri sekalipun ada juga murid yang malas. Beban belajar murid jauh lebih banyak karena selain menyelesaikan beban kurikulum Pendidikan Nasional mereka juga harus menyelesaikan beban kurikulum dari Kementerian Agama. Pelajaran formal dimulai jam08.00, setiap kali pertemuan 40. Tetapi jam 07.30 mereka sudah berada dikelas untuk praktik berbahasa yaitu Inggris dan berbahasa Arab setiap hari dengan jadwal bergantian.
Mengajar kelas dengan jumlah murid yang tidak begitu besar rasanya santai dan mudah saja. Di samping itu juga akrab.
Tradisi bersalaman di akhir pelajaran juga menarik bagi saya. Ini juga memberi pelajaran baru bagi saya untuk selalu menjaga kebersihan dan keharuman tangan  karena mereka juga mencium tangan saya sehabis salaman. Mereka juga menyediakan segelas air putih di meja guru dan  menata meja dengan rapi dan bersih.

Murid-murid ini sangat peduli dengan kebersihan kelas dan sekitarnya. Hal ini memberi semangat baru bagi saya untuk bekerja sama dengan mereka.



Senin, 22 September 2014

Siap Menyambutnya

Selamat malam,

waktu merayap tidak terasa sehingga hari yang baru dimulai sebentar lagi akan terganti dengan hari baru. Kesibukan telah membuatnya begitu, sehingga tak ada lagi kesempatan yang berlalu dengan sia-sia. Saya bersyukur jika sampai detik inisaya masih bisa bertahan dari segala macam penyakit.

Cepat atau lambat, kemunduran fisik seseorang akan datang  dan itu kemungkinan akan diikuti oleh berkurangnya kepekaan indera. Saya siap menyambutnya.




Pembaca, kini suara azan subuh memanggil. Saya terbangun untuk melanjutkan tulisan tertunda ini. Di langit, bintang gemintang berangkat dari musim kering, memenuhi langit yang bening, dan angin semilir. Hanya satu yang saya ingat, bahwa saya sudah cukup lama melupakan ini .
Rahmat yang tak terhingga Sang Pencipta telah menjadikan permulaan hari ini dengan cara yang damai, yang memberi keleluasaan makhluknya untuk memulai segala sesuatu dengan kenyamanan.
Namun, seleluasa ini pikiran dan perasaan seringkali menjadi tumpul, karena banyaknya aturan dan tujuan yang dirumuskan dalam setiap pekerjaan. Yang kita tahu hanya bekerja dengan sebaik-baiknya. Beberapa hasil kerja saya ada yang menjadi terbaik. Tetapi tidak bisa saya menikmati kepuasan karena saya bekerja hanya sebagai mesin waktu.

Saya ingin kembali ke alam bebas, melatih sendi dan otot lagi serta menajamkan pikiran dan memupuk rasa cinta saya akan arti kehidupan. Hari-hari menunggu saat datangnya masa libur panjang dan merencanakan sebuah perjalanan.
Hari ini semua tugas menghadapi kegiatan tengah semester sudah finish dan sementara boleh melenggang.
Kawan, menjadi guru itu jam kerjanya tidak terukur. Seperempat hari bekerja di depan kelas, seperempatnya melanjutkan evaluasi kerja di rumah. Dan seperempatnya lagi mempersiapkan bahan ajar.
Mendekati saat-saat ulangan dan sesudahnya, terkadang memasak pun tidak punya waktu. Hanya rasa ngantuk yang bisa menghentikan pekerjaan ini.



Bersyukur, semua ini sangat menyenangkan. Menjadi guru tidak akan pernah mengenal rasa bosan.
Berhadapan dengan jiwa dan semangat  muda adalah sumber energi yang tak akan habis. Dan yang juga menyenangkan adalah  kompensasi hari liburnya yang panjang.
Sangat adil bagi guru, walau tidak demikian bagi sebagian pegawai lain.
Sesungguhnya  hanya jika Anda menjadi guru Anda bisa merasakan  hal itu. Berhadapan dengan manusia tidak dapat menunda lima menit untuk melayani jika tidak ingin kehilangan harga diri. Melakukan kesalahan berarti mencetak dalam ingatan jika tidak cepat memperbaikinya.
  • Begitulah cerita hari ini,
Selamat pagi selamat beraktifitas kembali.




Rabu, 17 September 2014

Ada Saatnya

Banyak hal yang terjadi tetapi saya mati rasa sehingga berat untuk menuliskan itu. Pasang surut rasa yang  tak selesai, mengendurkan semangat untuk menganggapnya sebagai sesuatu yang penting.
Saya tahu,  banyaknya kamuflase untuk menutupi ruang kosong agar tampak semarak.Tetapi untuk apa sebenarnya semua itu, selain mendapatkan keinginan yang semu belaka.

Jadi saatnya kini melepaskan segala gaya dan pura-pura. Tampil seperti adanya selayaknya saja. Karena ada saatnya kita harus menanggalkan apa yang kita pakai untuk memberi kemerdekaan jiwa kita.  Ada saatnya pula kita harus bisa menerima kenyataan  bahwa kita sudah miskin gaya. Namun kita tidak akan pernah miskin jiwa.
Selama kita masih memiliki keikhlasan menerima segala yang ada.