Minggu, 08 Juni 2014

Diving di Pulau Menjangan. Ke Pulau Burung dan Pulau Geleang

Seharusnya pada hari ketiga kami akan meninggalkan P Karimunjawa pada jam sebelas dengan kapal Express Bahari menuju Jepara. Tetapi rencana berubah mendadak saat kami membeli sarapan bertemu dengan tiga orang ibu. Salah satunya adalah instruktur diving. Saya tertarik untuk ini karena sebenarnya salah satu keinginan saya adalah diving di Kepulauan Karimunjawa. Lalu saya katakan jika boleh saya mau bergabung dengan tim mereka. Selanjutnya setelah melewati prosedur di kantor Salma Diving dan sepakat dengan biaya trip dan sewa squba plus instruktur, jadilah. Saya sangat bersyukur bahwa apa yang saya inginkan datang pada saat yang tepat. Dan  trip hari ketiga ini ke arah berlawanan dari trip hari kedua, yaitu ke arah barat Pulau Karimun Jawa.

Jam sembilan saya berangkat ke dermaga mendahului tim Salma Diving. Tujuan pertama adalah Pulau Burung untuk snorkeling.



























Jam dua belas saatnya makan siang, kami meninggalkan Pulau Burung menuju P Geleang. Pulau ini juga indah dengan pasirnya yang putih dan mengelilingi pulau yang subur ditumbuhi banyak pohon dan jenis pohon cemara. Kami bersantai setelah capek berenang.


Pulau Geleang

Sangat Cantik



Diving di Pulau Menjangan

Setelah makan, kami menuju Pulau Menjangan untuk Diving. Perairan di sini sangat tenang, tidak ada arus seperti di Pulau Burung. Pulau menjangan tidak dihuni. sepanjang pulau ini ditutup oleh gugusan pohon kelapa. Pantainya sangat indah dengan terumbu karang yang sangat padat sampai ke bibir pantai. Spot Diving agak jauh dari bibir pantai dengan kedalaman mulai dari 5 meter. Lautnya yang tenang dan biota lautnya yang masih tumbuh subur menjadi spot yang nyaman untuk berenang. Juga banyaknya ikan hias yang berseliweran di dekat kami membuat betah berlama-lama di sini.


Setelah berenang dan snorkeling, selanjutnya kami diving. ada lima diver yang turun kali ini. dua orang sudah turun sejak tadi dan saya yang ketiga bersama dua orang lainnya, kami brifing beberapa detik menentukan kegiatan, yaitu discovery dan jalan-jalan dan menguji kedalaman serta waktu.



Selanjutnya mengetes selang, tabung, masker dan equalizer lalu terjun dan ....nyilem.



Sabuk Pemberat dan Sepatu Katak, Siap Diving




Equalizing, Siap


Discovery



Okay, Moving



Berhasil



Discovery Dasar Air






Menghindar! Karang!

Kita Akan Ketemu Lagi di Tulamben
Sangat menyenangkan, segala rasa capek terbayar di dasar laut. Lorong-lorong karang ternyata tidak ubahnya dengan berjalan di rerimbunan semak. Jalan didasar berwarna putih berliku.
Sore kami baru meninggalkan Pulau Menjangan.
Ketika sunset berlangsung kami masih di perahu sambil menikmati keindahan kala senja berganti.


Fantastik
Sedihnya Mengingat

Dermaga Nelayan Menyambut
Malamnya seperti biasa, makan malam di alun-alun. Makan malam ini sepertinya menjadi hiburan tersendiri bagi para pelancong. Menunya selalu sama di semua pedagang makanan yaitu seafood bakar dan goreng atau asam manis. Selama tiga malam saya hanya pesan cumi bakar dan ikan bakar padahal selama itu pula makan siang kami di pulau juga ikan bakar. Tetapi kenyataannya menu ini sangat cocok dengan suasana ini.
Begitu juga orang-orang yang kami temui juga sama, di warung lesehan yang sama dan menunya sama. Ada keluarga besar berkebangsaan Jepang, satu tim orang kulit putih, juga pasangan silang Indonesia-kulit putih adalah yang paling saya kenali. kami secara kebetulan makan pada waktu yang sama.

Hari Keempat.
Pagi, jam 7.30 kami meninggalkan homestay, Pak Abas sudah menunggu untuk mengantar kami ke pelabuhan. Jadinya kami menyeberang dengan kapal Ferry lagi karena hari ini adalah jadual Kapal Ferry Si Ginjai. Tidak terlalu lama menunggu kapal sudah penuh, bahkan lebih penuh dibanding saat keberangkatan.
5 jam 20 menit kapal merapat di pelabuhan Jepara.


Di Mana pun Aku Bisa





Mimpi Ngobrol Sama Ikan Kali



Jam 13.30 kapal merapat di Pelabuhan Jepara dan kami langsung ke terminal Jepara dengan becak. Saya bertemu dengan tim divers dan berjanji akan bertemu lagi jika ada acara diving di Tulamben, Karangasem Bali.

Selanjutnya tujuan kami adalah Kota Kudus.




Senin, 26 Mei 2014

Mengunjungi Kepulauan Karimunjawa

Hari Pertama di Pulau Karimunjawa

Mengisi libur Hari Raya Galungan dan Kuningan saya putuskan untuk melancong di Kepulauan Karimunjawa. Rencana ini sangat mendadak sebagai kompensasi penundaan wisata gunung yang sedianya kami lakukan bulan ini. Hal ini disebabkan keadaan Gunung Ijen yang masih belum begitu aman untuk dikunjungi.

Kami berangkat dari Bali jam tiga sore dengan Bus langsung Denpasar - Jepara, Muji Jaya. Jam lima pagi bus sudah masuk Kota Jepara. Kami turun di alun-alun lalu dengan ojek langsung ke pelabuhan Jepara. Hari ini semula kami akan menggunakan kapal ekspres. Tetapi berhubung kedatangan kami yang terlalu pagi kami berubah pikiran untuk menyeberang dengan kapal Ferry Siginjai dengan pertimbangan tidak membuang waktu dan tenaga percuma di pelabuhan untuk menunggu jam sebelas siang untuk menumpang kapal cepat. Jam 09.00 Kapal Ferry berangkat sesuai jadwal dan tiba di Pelabuhan Karimunjawa jam 14.00 WIB bertepatan dengan kedatangan kapal Ekspres Bahari.
Bedanya ongkos Kapal Ferry jauh lebih murah yaitu Rp 44.000 untuk kelas ekonomi dengan waktu sekitar lima jam. Sedangkan tiket kapal ekspres Rp 110.000 dengan waktu sekitar dua setengah jam.
Tanpa membuang waktu kami langsung menerima tawaran Abang Becak untuk mengantarkan kami ke homestay murah. Saya langsung setuju ketika dibawa ke sebuah homestay mungil yang bersih dan di pinggir jalan utama.





Setelah istirahat dan mandi kami langsung tracking ke bukit untuk menikmati pemandangan dari atas bukit sambil menunggu sunset. Bukit masih sepi dan panas. Tidak lama kemudian beberapa pengunjung berdatangan dan menjelang sunset, suasana semakin ramai. Mereka umumnya adalah anak-anak muda. Ada juga beberapa pasangan wisatawan asing. Bukit itu namanya Bukit Jokotuo. Dinamakan demikian karena di bukit itu ada kerangka ikan paus yang dipajang di sebuah gubuk sederhana yang disebut Ikan Jokotuo





Sunset dari Atas Bukit


Desa Karimun Jawa dari atas bukit


Hari Kedua

Pak Abas si tukang becak sekaligus sebagai informan kami. Melalui dia kami mendapatkan kelompok untuk trip ke kepulauan. Kami masuk dalam paket wisata yang bernama Kompaktour.
Rombongan ini  berjumlah empat belas orang.

Kami berangkat dengan kapal nelayan yang tidak begitu besar. Perjalanan hari ini mengarah ke sebelah timur Pulau Karimunjawa dengan waktu tempuh satu jam untuk sampai di Spot pertama di dekat Pulau Tengah. Jam sebelas kami sampai ke lokasi snorkeling dan foto-foto bawah air. Ada tiga orang pemandu air yang membantu kami berpose di bawah air. Acara berikutnya adalah menuju Pulau Kecil tidak jauh dari Pulau Tengah untuk makan siang dan bakar ikan.

Pulau ini terawat dan ada yang menunggu karena ada pemiliknya. Pohon kelapa tumbuh menyebar Sehingga menyerupai kebun sekaligus taman yang nyaman untuk beristirahat. Pasirnya putih.     Ada beberapa bangunan menyerupai penginapan di atas air. Juga rumah panggung yang ada di pulau. Kami bersantai cukup lama sambil menunggu ikan dibakar oleh pemandu dan awak kapal.



Menyelam di Spot Satu dekat Pulau Tengah




Terumbu Karang ini Sakit




Spot Satu

He He








Harus Jadi Pemenang








Makan siang di Pulau Cilik

Jam dua belas kami istirahat makan siang di Pulau Cilik. hanya beberapa menit dari pulau Tengah. Pemandu dan awak kapal segera bersiap membuat perapian untuk acara bakar ikan. Sementara peserta trip bersantai dan foto-foto.



































Ke Pulau Menjangan Besar

Uji Nyali Bersama Hiu Kecil


Teman, Berpose dengan Penyu

Berpose dengan Ikan Buntal


Menutup Trip Hari Kedua

Jumat, 16 Mei 2014

Nasihat Kawan yang Mendamaikan Hati



Tidak sia-sia saya meredam kekacauan pikiran selama tiga hari ini karena satu kesalahan (mungkin). Hari ini ini saya sangat merasakan kegelisahan sudah mereda. Saya kembali baik-baik saja setelah tiga hari lalu berselisih dengan salah seorang wakasek. Perselisihan itu hanya saya bertanya dan menyarankan sesuatu. Sejawat itu nampak marah tidak karuan dan membuat saya bingung mengapa pertanyaan dan saran saya dipersoalkan.

Dan tadi pagi saya berdiskusi lagi tentang masalah itu dengan dua orang kawan, kawan saya bilang hati-hati berkonfrontasi di sini kalau mau selamat. Dan sambil berbisik ia mengatakan bahwa dua teman kita yang sakit selama berbulan-bulan itu karena apa? Menurut orang pintar karena balas dendam seseorang. Lalu saya berpikir sejenak, bukankah kawan itu sakit diabetes? Tetapi saya diam. Sedangkan teman yang lainnya memang sakitnya tidak jelas, menurut diagnosa dokter ia sehat, padahal faktanya ia tidak bisa apa-apa tergolek ditempat tidur, tidak bisa aktifitas apapun termasuk bicara, tidur, tersenyum maupun makan. Pandangan matanya kosong tak berkedip. Keadaan itu berlangsung cukup lama. Enam bulan berikutnya ia sehat kembali dan bekerja seperti biasa. Dan menurutnya ia sembuh setelah diobati seorang pintar dan penyakitnya dikeluarkan dari tubuhnya. wallahu Alam (sok agamis). Saya berpikir lagi...ya saya ingat terakhir kalinya sebelum mereka sakit mereka berbicara lantang berseberangan dengan orang yang sama di dalam rapat. Dan setelah itu mereka ambruk. Tetapi saya tidak percaya.

Kembali pada masalah saya. Cerita itu tidak menakutkan saya karena niat saya bertanya dan menyarankan adalah untuk kebaikan. Terlalu banyak distorsi yang terjadi dalam etos kerja kami seolah-olah semua kegiatan adalah uang sehingga mereka berebut dan berbagi-bagi tugas. Seseorang menjadi pahlawan untuk yang lain dan seseorang menjadi musuh untuk yang lain. Saya melihat semua ini memuakkan jadi saya mempertanyakan sesuatu dan menyarankan sesuatu kepada seorang teman yang membidangi suatu tugas. Tidak menyangka kalau hal itu menjadi masalah besar dan rumit sesampainya di Wakasek. Dan ia mengancam akan membawa ke rapat nanti.
Bersyukur kawan-kawan lain menasihati saya agar selanjutnya diam saja terhadap apapun yang terjadi di sini serta siap mental dalam rapat dua minggu lagi.
Saya menjadi tidak sabar menunggu rapat, Saya akan memaparkan hal yang dijadikan masalah itu dan berharap semua bisa mendengar dan mengoreksi apa yang salah dalam pertanyaan dan usulan saya.

Benar ternyata sharing bisa menetralkan kegelisahan saya. Diam-diam saya sangat berterima kasih dan memuji kawan saya ini. Yang mau mengatakan bahwa saya salah jika saya berpikir idealis pada saat ini dan  terus mengingatkan saya agar diam dan diam saja apapun yang terjadi. Saya akan mencoba.