Dulu saya selalu bertanya-tanya mengapa banyak kawan yang bermasalah dengan muridnya? Ternyata memang benar, menghadapi murid sekarang ini berarti berhadapan dengan masalah. Masalahnya selalu sama dan itu-itu saja. Kelihatannya sederhana, melihat-lihat hp saja. Tetapi ini membuat kesal. Pasalnya aturan sudah jelas, dilarang mengaktifkan hp saat belajar.
Selalu saja ingin marah di depan kelas jika sudah terjadi hal seperti ini. Dan ini lama-lama terasa mengganggu perasaan juga. Terkadang juga terpikir untuk apa saya memberatkan diri untuk melayani mereka dengan sebaik-baiknya, sedang banyak dari mereka yang tidak menurut.
Berapa kali sudah tak terhitung kalinya saya mengeluarkan mereka, merampas hp, memarahi mereka. Namun...
Yah dalam seminggu mengajar sekarang, sama kesalnya dengan kekesalan selama mengajar satu tahun beberapa tahun lalu.
Ini bisa saja menjadi gejala bahwa guru juga akan banyak yang terkena serangan jantung kali.
Ah gak mau.
Selamat datang di blog saya. Saya senang Anda bergabung dengan saya, melihat pengalaman saya dalam gambar dan membaca tulisan saya. Beberapa cerita fiksi yang saya tulis terinspirasi oleh pengalaman teman-teman dan orang lain.Saya berharap ada komentar dan saran dari Anda. Tks untuk semuanya.
Jumat, 12 Oktober 2012
Kamis, 11 Oktober 2012
Menghadiri Perkawinan Kawan di Karangasem
Jam sepuluh pagi kami bersiap berangkat dengan bus Pariwisata. Saya duduk di depan agar bisa mengambil gambar. Sayang tidak ada yang istimewa untuk difoto.
Perjalanan ini menyenangkan, kami melupakan sejenak semua beban dengan bercanda dan bernyanyi-nyanyi mengikuti musik yang diputar oleh awak bus.
Ada Bapak Kepala Sekolah dan wakil juga tetapi suasana sudah larut sedemikian rupa sehingga kami melupakan itu. Seru, tidak kalah dari murid saat pergi bersama, walau semua penumpang bus ini hanya guru.
Serunya lagi mencari alamat. Ternyata jalan menuju alamat tidak cukup untuk bus besar. Terpaksa kami berjalan kaki. Agar jarak tempuh tidak terlalu jauh, kami menerobos jalan setapak melintasi lembah dan menyisir tebing hutan bambu. Sungguh mengasyikkan dan bakalan menjadi cerita nanti.
Jam lima sore kami sampai di Tabanan, dan di meja kami, tugas untuk murid sudah dikerjakan. Wah jadinya harus koreksi ekstra. Tetapi ini lebih menyenangkan daripada mereka yang tidak ikut.
Perjalanan ini menyenangkan, kami melupakan sejenak semua beban dengan bercanda dan bernyanyi-nyanyi mengikuti musik yang diputar oleh awak bus.
Ada Bapak Kepala Sekolah dan wakil juga tetapi suasana sudah larut sedemikian rupa sehingga kami melupakan itu. Seru, tidak kalah dari murid saat pergi bersama, walau semua penumpang bus ini hanya guru.
| Melewati Kabupaten Klungkung |
Serunya lagi mencari alamat. Ternyata jalan menuju alamat tidak cukup untuk bus besar. Terpaksa kami berjalan kaki. Agar jarak tempuh tidak terlalu jauh, kami menerobos jalan setapak melintasi lembah dan menyisir tebing hutan bambu. Sungguh mengasyikkan dan bakalan menjadi cerita nanti.
| Villa di Puncak Bukit Jambul Karangasem |
| Mendekati Desa Menanga Karangasem |
Jam lima sore kami sampai di Tabanan, dan di meja kami, tugas untuk murid sudah dikerjakan. Wah jadinya harus koreksi ekstra. Tetapi ini lebih menyenangkan daripada mereka yang tidak ikut.
Setengah Hati
Dari setengah hati saya akan menjadikannya sepenuh hati. Kabar malam itu cukup menyenangkan walaupun kabar itu hanya setengah hati. Mengubah sesuatu yang kurang menjadi cukup tidak terlalu sulit bagi saya.
Pagi, Rabu saya tidak mengajar. Jadi saya bisa berekspresi sesuai dengan rasa saya.
Walau hanya setengah hati....
Pekerjaan saya terasa begitu mudah dan cepat. Seperti keinginan yang datang mengalir dan sampai ke tujuan tanpa kesulitan. Saya patut mensyukuri itu seberapapun nikmat saya dapatkan.
Saya ingin hari berjalan lamban agar semakin banyak yang bisa saya kerjakan. Namun, waktu selalu bisa mengalahkan kita. Ada yang tidak selesai, dan saya juga yakin semua pekerjaan kita tak akan pernah selesai sampai kapan pun.
Dari setengah hati saya mengerti bahwa ada kesia-siaan yang kita ciptakan. Tetapi kesia-siaan itu masih memberi manfaat daripada tidak ada apapun yang kita buat.
Dan biarlah kesia-siaan ini menjadi khazanah yang memperkaya hati kita.
Pagi, Rabu saya tidak mengajar. Jadi saya bisa berekspresi sesuai dengan rasa saya.
Walau hanya setengah hati....
Pekerjaan saya terasa begitu mudah dan cepat. Seperti keinginan yang datang mengalir dan sampai ke tujuan tanpa kesulitan. Saya patut mensyukuri itu seberapapun nikmat saya dapatkan.
Saya ingin hari berjalan lamban agar semakin banyak yang bisa saya kerjakan. Namun, waktu selalu bisa mengalahkan kita. Ada yang tidak selesai, dan saya juga yakin semua pekerjaan kita tak akan pernah selesai sampai kapan pun.
Dari setengah hati saya mengerti bahwa ada kesia-siaan yang kita ciptakan. Tetapi kesia-siaan itu masih memberi manfaat daripada tidak ada apapun yang kita buat.
Dan biarlah kesia-siaan ini menjadi khazanah yang memperkaya hati kita.
| Pelabuhan Ikan Muncar |
Minggu, 07 Oktober 2012
Hanya Bayangan
Saya merenung ketika pagi tiba, seperti saya mau membangunkan matahari tetapi hanya seperti. Saya tahu kabut sudah mendahului memberinya ruang dan waktu untuk bersinar.
Saya memandang langit-langit. sekilas saya melihat cahayanya namun ternyata itu hanya bayangan yang sedang mengembara di atas imajinasi saya saja.
Yang tertinggal hanyalah suara angin musim kemarau yang melintasi pepohonan dan tiang-tiang di atap-atap rumah. Kemana dia pergi tak ada seorangpun tahu. Dari mana dia datang kita juga tidak tahu. Yang kita tahu dia akan datang dan pergi selamanya.
Hmmmmm
Hanya angin yang tak bisa bersinergi dengan manusia.
Tetapi tanpa angin penyair akan kehilangan kekuatannya.
Saya memandang langit-langit. sekilas saya melihat cahayanya namun ternyata itu hanya bayangan yang sedang mengembara di atas imajinasi saya saja.
Yang tertinggal hanyalah suara angin musim kemarau yang melintasi pepohonan dan tiang-tiang di atap-atap rumah. Kemana dia pergi tak ada seorangpun tahu. Dari mana dia datang kita juga tidak tahu. Yang kita tahu dia akan datang dan pergi selamanya.
Hmmmmm
Hanya angin yang tak bisa bersinergi dengan manusia.
Tetapi tanpa angin penyair akan kehilangan kekuatannya.
| Danau Bratan Bedugul 2012 |
Kamis, 04 Oktober 2012
Segenggam Racun, Kenapa Dipertahankan?
Saya begitu terkesan membaca kalimat-kalimat ini.
Kalimat di atas seperti sebuah peringatan, bahwa manusia memang seringkali kehilangan akal sehat. Orang sehat tentu akan memilih gula karena ia tahu gula itu manis tanpa perlu dicicipi. Sedangkan orang sakit akan memilih racun ketika ia meyakini bahwa racun itu akan menyembuhkan sakitnya.
Kalau dipikir-pikir kalimat di atas memang benar, ada saatnya kita harus menyadari kesalahan kita. Membiarkan diri terbelenggu oleh satu hal yang hanya kita yakini saja. Padahal sebenarnya hal itu tidak ada.
Mengapa kamu mempertahankan racun dalam genggaman? Apakah ia terlalu bernilai bagimu? Ataukah kamu yang membiarkan dirimu tidak berharga ?
Kalimat di atas seperti sebuah peringatan, bahwa manusia memang seringkali kehilangan akal sehat. Orang sehat tentu akan memilih gula karena ia tahu gula itu manis tanpa perlu dicicipi. Sedangkan orang sakit akan memilih racun ketika ia meyakini bahwa racun itu akan menyembuhkan sakitnya.
Kalau dipikir-pikir kalimat di atas memang benar, ada saatnya kita harus menyadari kesalahan kita. Membiarkan diri terbelenggu oleh satu hal yang hanya kita yakini saja. Padahal sebenarnya hal itu tidak ada.
Senin, 01 Oktober 2012
Senandung Rindu
Itu hanya judul lagu juga, lagu lama ciptaan A.Riyanto. Hmm kerinduan memang puitis untuk diungkapkan setiap saat dari masa ke masa.
Kerinduan memang bisa datang tanpa sebab dan menghampiri siapa saja dan kepada siapa saja.
Tetapi tidak semua kerinduan harus berakhir dengan pertemuan. Ada kerinduan yang tidak akan berakhir selamanya, yaitu kerinduan terhadap kenangan. Karena kenangan tinggallah kenangan. Absurd.
Walaupun sebenarnya semua yang terjadi dalam kehidupan ini akan menjadi kenangan.
Ketika kita menjadi manusia sempurna, akal kita, tidak ada salahnya kita merindukan kenangan itu sebagai manifestasi empati manusia terhadap kodratnya. Sebaliknya ada benarnya juga kita mengubur kenangan untuk memberi kemerdekaan kepada jiwa yang terbelenggu.
Kerinduan yang sejati adalah kerinduan yang bisa menyembuhkan lukanya sendiri
Following the River of Death Downstream
Saya suka dengan lirik lagu itu. Suka saja walau tidak sepenuhnya bisa memahami maksud penulisnya. Hanya suka membayangkan sesuatu yang terus bergulir mengikuti waktu.
Saya seringkali berkata pada suami bahwa saya ingin meninggal semasa saya masih kuat. Dan dia juga selalu mengatakan bahwa umur tidak bisa ditolak ataupun diminta. Lalu saya menjawab, saya tidak memaksa karena takdir tidak bisa dipaksa, sebaliknya takdir yang memaksa kita.Begitulah.
Jadi memang lebih baik kita menyerah.
Bright eyes burning like fire.
Begitukah?
Namun semangat tidak selalu mencerminkan harapan. Sebab semangat seringkali kalah cepat dari perubahan yang terjadi.
Saya seringkali berkata pada suami bahwa saya ingin meninggal semasa saya masih kuat. Dan dia juga selalu mengatakan bahwa umur tidak bisa ditolak ataupun diminta. Lalu saya menjawab, saya tidak memaksa karena takdir tidak bisa dipaksa, sebaliknya takdir yang memaksa kita.Begitulah.
Jadi memang lebih baik kita menyerah.
Bright eyes burning like fire.
Begitukah?
Namun semangat tidak selalu mencerminkan harapan. Sebab semangat seringkali kalah cepat dari perubahan yang terjadi.
Langganan:
Postingan (Atom)