Selamat malam pembaca,
hujan baru saja reda dan suasana mulai sunyi. Hanya terdengar suara tetesan hujan di dedaunan satu-satu dan sesekali terdengar derum suara motor di kejauhan.
Rapat siang tadi cukup panas dan lama dari rapat-rapat biasanya karena agenda rapat yang cukup padat dan penting. Masalah pergantian kepala sekolah, masalah kedisiplinan siswa serta guru dan lain-lain. Tetapi ada yang menyenangkan juga yaitu kami sepakat untuk mengisi kegiatan tengah semester nanti dengan kegiatan lapangan yaitu perkemahan di luar kota.
Wah membayangkan itu alangkah senang berkemah dengan anak-anak, berbagi kegembiraan dalam kegiatan kepramukaan. Apalagi kegiatan itu dilaksanakan setelah Ujian sekolah,
Kegembiraan ini memacu semangat saya untuk segera menyelesaikan tugas membuat soal Ujian Sekolah biarpun baru satu minggu terbebas dari tugas menyusun administrasi guru yang menyita waktu dan tenaga itu. Dan sebanding juga dapat pujian di rapat karena administrasi saya terkumpul paling awal. Selain itu kisi-kisi soal beserta soal ujian praktek mapel saya juga urutan nomor satu disusul Pak Made dan yang lain bahkan belum mengumpulkan. Hore tepuk tangan lagi.
Saya suka ditepuki tetapi saya tidak suka juga karena setelahnya akan ada acara pertemuan untuk membahas sekaligus membuat perangkat administrasi guru bersama-sama dan saya ikut bertanggungjawab untuk itu. Bukan tidak suka benar cuma perlukah itu, karena sekarang segala urusan untuk administrasi guru sudah bisa diakses di internet.
Baiklah hari ini sampai di sini saja, selamat beristirahat pembaca.
Selamat datang di blog saya. Saya senang Anda bergabung dengan saya, melihat pengalaman saya dalam gambar dan membaca tulisan saya. Beberapa cerita fiksi yang saya tulis terinspirasi oleh pengalaman teman-teman dan orang lain.Saya berharap ada komentar dan saran dari Anda. Tks untuk semuanya.
Selasa, 07 Februari 2017
Kamis, 02 Februari 2017
Puisi Tentang Ayah
Bersama gemerlap bintang
Engkau telah melangkah tinggalkan hasrat tidurmu
Tuk menuliskan katamu
Tentang rezeki yang akan kau bawa hari ini
Dan ketika azan subuh mengisi heningnya pagi
ketika para malaikat bersiap membagi rezeki
Kau bersujud memasrahkan segala yang kau punya
Ayah
Berat beban yang engkau bawa tak menghalangimu
tuk Curahkan cinta kasihmu mengaliri seluruh urat nadiku
menbesarkan jiwaku melampaui keinginanku
menjadikanku bangga kepadamu
Ayah
dengan apa aku bisa membalas jasamu
Seluruh jiwa ragaku tak akan cukup menggantikan pengorbananmu
Selamat jalan ayah
Hanya doa yang bisa kuberikan kepadamu
Negeri Bertopeng
Topeng-topeng ini merupakan persona bebagai karakter yang sulit ditebak Begitu banyaknya orang yang kita kenal di pemberitaan televisi, tokoh-tokoh ternama, Orang besar dan mantan orang besar serta orang yang tiba-tiba menjadi besar di negeri ini saling bersilang kata meracau dan saling menuntut dan saling mengancam.
Seperti yang saya ramalkan dulu (eh sok pinter, tapi ini jujur) bahwa satu saat tidak perlu menunggu terlalu lama orang-orang bertopeng ini akan bermunculan. Lalu mengapa mereka bertopeng?
Mereka malu menunjukkan siapa mereka sebenarnya. Merekalah orang yang tidak puas dengan keadaan tetapi ingin mengambil satu kesempatan dengan cara yang tidak fair.
Mengapa tidak fair? Ya karena mereka tahu diri mereka adalah orang yang sangat bernafsu untuk mendapatkan keuntungan diri sendiri.
Di sisi lain manusia tak bertopeng tetapi berkedok agama juga ribut mengatasnamakan agama dan memperkeruh situasi negeri ini. Seharusnya atas nama agama kita ciptakan kedamaian, bukan pemaksaan kehendak. Cobalah apa yang kurang dari perjuangan para Wali ketika berjuang membela agamanya, Bukan dengan permusuhan tetapi dengan pendekatan budaya dan kasih sayang. Jika kita tak bisa menirunya karena kita tidak hidup di zaman Wali, ya paling tidak tahu cara yang yang baik ketika ingin merubah yang tidak baik pada orang lain. Merubah orang yang tidak baik dengan cara yang lebih tidak baik saya yakini itu perbuatan percuma dan menimbulkan permusuhan. Bahkan akan menumbuhkan sejuta ketidakbaikan lalu ribut terus.
Saya kira banyak orang yang sudah jenuh dan muak dengan drama di negeri ini. Drama yang dipenuhi pemain-pemain antagonis yang selalu muncul setiap lima tahunan. Mereka banyak yang bertopeng karena tahu diri bahwa perannya sudah tidak menarik lagi.
Jumat, 27 Januari 2017
Kamu Bisa Menggantikan Saya
Setiap kali tanda masuk mengingatkan kami, kami segera mengakhiri obrolan ringan di ruang guru. Anak-anak juga sudah menunggu, bahkan terkadang mereka tampak tidak sabar melihat kami berjalan menuju kelas. Ada saja yang menyambut untuk membawakan tas atau sekedar mendampingi kami masuk ke dalam kelas.
Di dalam kelas suasana menunggu juga kelihatan. Halah sekedar menunggu saja rupanya, itu kelihatan mereka juga belum siap dengan buku mereka..
Selesai bertegur sapa atau tepatnya berbasa basi berlanjutlah ke rutinitas belajar dan penyelesaian tugas.
Anak-anak lebih suka bekerja daripada berpikir, terbukti setiap kali mengerjakan tugas mereka berlomba dan segera minta dikoreksi walaupun terkadang belum benar. Dan setelah selesai mereka segera meminta nilai. Jika saya katakan pekerjaannya belum benar dan harus diperbaiki mereka bilang minta nilai saja. Aneh, jadi motivasi belajar mereka itu apa? hanya utuk nilai, bukan untuk mengerti. Tentu saja saya tidak bisa menoleransi untuk ini seberapa pun sedikitnya kesalahan mereka.
Sudah terlalu sering saya bicara tentang motivasi belajar tetapi mereka tetap begitu bahkan tampak seperti tidak peduli dengan motivasi. Mereka ini anak-anak pesantren yang kesehariannya dalam pengasuhan dan pendidikan pesantren. Tidak menuntut adanya hal terbaik untuk mereka sendiri. Pikiran mereka didominasi oleh pikiran untuk tugas dan kewajiban mereka di luar kelas.
Sekalipun sekolah ini juga bagian pokok dari pendidikan mereka di jalur formal, mereka belum bisa menyeimbangkan antara keduanya,
Mungkin separuh dari mereka begitu, dan yang separuhnya saja yang bisa menyadari dan memahami kebutuhan mereka sendiri untuk menentukan masa depannya. Mereka itulah yang bisa konsen dengan belajar di sekolah. Mereka adalah anak-anak dengan kualitas dan kemampuan yang lebih baik dari yang lainnya.
Tetapi terkadang saya juga terbawa arus mengikuti irama mereka karena memaksakan kehendak kepada mereka juga tidak ada gunanya. Marah? Itu hal biasa bagi mereka, Tidak ada efeknya kemarahan itu terhadap mereka. Maka dari itu merubah strategi itu perlu, cuma strtegi yang paling efektif belum saya temukan.
Walau begitu saya senang karena mereka taat dan patuh kepada guru. Selalu bergembira dan aktif.
Tanpa kelucuan mereka ( kekonyolan?) mungkin saya tidak cukup tertawa. Lebih dari itu saya bangga jika mereka bilang ingin menjadi guru mata pelajaran saya. "Wah bagus itu, kamu bisa menggantikan saya." Jawab saya senang. Saya lihat wajah mereka seperti saya melihat bunga, berbinar.
Rabu, 18 Januari 2017
Merasa Monster
Kembali duduk manis di sini, di beranda, tempat yang akrab untuk mengamati aktivitas sekitar. Volume kendaraan yang lalu-lalang lebih banyak dibanding dengan pada siang hari. Terlebih pada malam hari, situasi begini sangat kontras dengan suasana malam yang lengang selepas jam delapan malam. Seolah terjadi perjanjian antara alam dan manusia bahwa malam hari adalah waktu untuk beristirahat semua.
Itulah untungnya tinggal di sini. Tidak jauh dari pusat kota kabupaten tetapi tidak terpengaruh dengan kesibukan kota.
Tadi siang saya mengajar di kelas, seorang murid yang terkenal bandel dan sudah pernah terkena sanksi satu semester, menyelinap keluar kelas ketika saya sedang melayani murid lainnya membahas satu tugas.
Tentu saya kesal lalu membahas kaitan perilaku anak tersebut dengan sikap mental. Pembahasan itu melebar kemana-mana. Barangkali mereka terlalu kecil untuk bisa memahami arti mawas diri apakah perilaku sudah sejalan dengan latar pendidikan dan ajaran yang diberikan kepada mereka ( saya katakan kita).
Saya minta mereka untuk berani jujur mengakui bahwa banyaknya persoalan di negeri ini disebabkan ulah sebagian orang yang tidak bisa menghargai apa yang harus dihargai, pemimpin, pemerintahan, peraturan dan bahkan tidak menghargai negaranya sendiri.
Analoginya dengan masalah di kelas adalah adanya ulah segelintir anak yang tidak bisa menghargai tata tertib, guru, kelas, dan sekolahnya menjadikan kelas menjadi kacau.
Ketika saya ingat-ingat peristiwa dikelas tadi saya merasa saya baru saja menjadi monster
dengan ucapan-ucapan saya.
Itulah untungnya tinggal di sini. Tidak jauh dari pusat kota kabupaten tetapi tidak terpengaruh dengan kesibukan kota.
Tadi siang saya mengajar di kelas, seorang murid yang terkenal bandel dan sudah pernah terkena sanksi satu semester, menyelinap keluar kelas ketika saya sedang melayani murid lainnya membahas satu tugas.
Tentu saya kesal lalu membahas kaitan perilaku anak tersebut dengan sikap mental. Pembahasan itu melebar kemana-mana. Barangkali mereka terlalu kecil untuk bisa memahami arti mawas diri apakah perilaku sudah sejalan dengan latar pendidikan dan ajaran yang diberikan kepada mereka ( saya katakan kita).
Saya minta mereka untuk berani jujur mengakui bahwa banyaknya persoalan di negeri ini disebabkan ulah sebagian orang yang tidak bisa menghargai apa yang harus dihargai, pemimpin, pemerintahan, peraturan dan bahkan tidak menghargai negaranya sendiri.
Analoginya dengan masalah di kelas adalah adanya ulah segelintir anak yang tidak bisa menghargai tata tertib, guru, kelas, dan sekolahnya menjadikan kelas menjadi kacau.
Ketika saya ingat-ingat peristiwa dikelas tadi saya merasa saya baru saja menjadi monster
dengan ucapan-ucapan saya.
![]() |
| Akuariun Jatim Park Malang |
Selasa, 17 Januari 2017
Matahari tak Pernah Hilang
Pagi masih diwarnai mendung dan gerimis halus. Walau begitu burung-burung kecil tak bermalas untuk beterbangan dari satu pohon ke pohon lainnya. Suara kicauan aneka nada dan irama menyemangati pagi abu-abu dalam udara yang diam tak mengalir.
Aktivitas jalanan mulai diramaikan oleh anak-anak berangkat sekolah dan mereka yang bergegas menuju pekerjaan.
Setiap kali menikmati suasana dari teras rumah, ada rasa nyaman dalam kontemplasi yang tidak pernah habis tentang hidup saya. Hidup saya bukan berarti saya sebagai tokoh satu-satunya melainkan juga orang-orang sekeliling kehidupan saya. Berbagai masalah yang terjadi dalam rumah mereka seperti memberi ruang di benak saya untuk memikirkannya. Sebenarnya saya tahu saya tak pernah bisa menyokong untuk penyelesaian masalah orang lain, tetapi kenyataannya semua itu menambah tekanan pada diri saya sehingga terkadang saya merasa sangat bersedih.
Tetapi sesungguhnya banyaknya contoh persoalan orang lain juga bisa menjadi pembanding satu sama lain untuk saling meringankan secara psikologis sehingga mengurangi tekanan.
Pembaca, kita kembali pada suasana pagi ini ya. Aww matahari sudah menyembul dari balik awan. Lingkaran terang menyilaukan mengelilingi bola abu-abu kebirauan seperti ekspresi wow! pada wajah gadis belia. Sesaat meredup lagi tetapi masih sanggup memberi warna dalam bayangan benda yang dilewatinya.
Matahari tak akan pernah hilang hanya awan yang menutupinya.
Selamat beraktivitas.
Aktivitas jalanan mulai diramaikan oleh anak-anak berangkat sekolah dan mereka yang bergegas menuju pekerjaan.
Setiap kali menikmati suasana dari teras rumah, ada rasa nyaman dalam kontemplasi yang tidak pernah habis tentang hidup saya. Hidup saya bukan berarti saya sebagai tokoh satu-satunya melainkan juga orang-orang sekeliling kehidupan saya. Berbagai masalah yang terjadi dalam rumah mereka seperti memberi ruang di benak saya untuk memikirkannya. Sebenarnya saya tahu saya tak pernah bisa menyokong untuk penyelesaian masalah orang lain, tetapi kenyataannya semua itu menambah tekanan pada diri saya sehingga terkadang saya merasa sangat bersedih.
Tetapi sesungguhnya banyaknya contoh persoalan orang lain juga bisa menjadi pembanding satu sama lain untuk saling meringankan secara psikologis sehingga mengurangi tekanan.
Pembaca, kita kembali pada suasana pagi ini ya. Aww matahari sudah menyembul dari balik awan. Lingkaran terang menyilaukan mengelilingi bola abu-abu kebirauan seperti ekspresi wow! pada wajah gadis belia. Sesaat meredup lagi tetapi masih sanggup memberi warna dalam bayangan benda yang dilewatinya.
Matahari tak akan pernah hilang hanya awan yang menutupinya.
Selamat beraktivitas.
Langganan:
Komentar (Atom)






