Sesampai di ujung tangga jalan saya dihadang oleh anak kelas XII, mereka merangsek terlalu dekat dan seorang murid memberi saya bunga sambil mengucapkan selamat hari guru diikuti teman-temannya. Oh baru saya menyadari saat ini adalah hari guru. Ternyata mereka mengingatnya. Saya senang dengan perhatian anak-anak. rupanya mereka melihat saya dari lantai dua ketika saya datang.
Seterusnya kami bergegas masuk kelas karena ulangan jam kedua sudah hampir dimulai.
Saya mengawas di kelas yang sama dengan kemarin. Ada kejadian lucu kemarin, saat saya sedang membagikan soal, seorang murid perempuan menerima sesuatu dari teman laki-laki yang duduk diseberangnya. Mereka mengira saya tidak melihatnya tetapi ketika giliran saya membagi soal kepada anak perempuan itu saya tanya apa yang ia terima. Mula-mula ia menggeleng, tetapi saya memaksanya memberikan apa yang digenggamnya. Saya tahu ada lipatan kertas kecil di dalam tangannya. Akhirnya ia memberikan kertas itu.
Sehabis membereskan semuanya, absensi, mengisi berita acara barulah saya buka kertas itu untuk melihat apa yang saya pikir adalah contekan. Wajah kesal saya serentak hilang dan saya tersenyum .sendiri. Tulisan di kertas itu berbunyi " Rupanya kamu sudah punya yang baru.'
Ada saja anak-anak itu. Yah biar begitu kejadian kecil ini mengawali kegembiraan pagi itu.
Selanjutnya kertas itu saya kembalikan dan saya katakan " Ini untuk kamu, simpanlah tetapi ingat kamu harus belajar yang baik."
Teman-temanya bertanya-tanya mungkin lalu saya jelaskan kertas itu adalah kertas ucapan selamat pagi untuknya. Semua tertawa. Ini cerita hari ini.
Selamat datang di blog saya. Saya senang Anda bergabung dengan saya, melihat pengalaman saya dalam gambar dan membaca tulisan saya. Beberapa cerita fiksi yang saya tulis terinspirasi oleh pengalaman teman-teman dan orang lain.Saya berharap ada komentar dan saran dari Anda. Tks untuk semuanya.
Rabu, 25 November 2015
Senin, 23 November 2015
Menghilangkan Kejenuhan
Hari pertama dalam minggu ini adalah hari pertama ulangan akhir semester ganjil. Seminggu lagi ke depan ada waktu untuk sedikit longgar sehabis remidial. Rencana ingin mewujudkan keinginan yang cukup lama tertunda, yaitu travelling ke bukit B-29 di kawasan Semeru-Bromo.
Ini waktu yang tepat sebelum musim hujan tiba. Saya sudah ajukan ijin untuk minggu depan selama lima hari.
Karena itu semua pekerjaan harus secepatnya diselesaikan.
Sudah cukup lama saya tidak bepergian ke alam bebas, rasanya suntuk saja sehigga kurang penyegaran.
Bersyukur saya punya beberapa kawan untuk chatting di internet. Bercerita tentang cuaca, musim, wilayah, suasana dan latar budaya negara lain memang menyenangkan. Walau terkadang perbincangan itu sudah pernah dibicarakan. Tetapi selalu ada yang baru, misalnya bagaimana mereka putus cinta. Dan tahun berikutnya mereka mengabarkan sudah mendapat pacar baru. Begitulah dunia anak muda, sangat manis dan indah di antara kesedihan dan duka sesaat. Saya ikut terbawa keduanya mendengar kabar mereka.
Tetapi ada seorang kawan, ia orang pertama yang chatting lewat facebook dengan saya. Begitu juga saya adalah teman pertamanya untuk chattingnya. Dan kami sudah banyak saling mengenalkan kebiasaan yang ada di negara kami masing-masing, dan setelah itu tak lagi berkomunikasi walaupun dunia kami seimbang, dunia orang tua dengan anak-anak. Sayang sekali ia tidak bisa menjaga persahabatan kami. Dia tidak membalas sapaan saya lagi.
Hanya satu yang benar-benar setia dan bertahan dengan tulus. Dia gadis lajang sebaya dengan anak saya tetapi saya tidak pernah menanyakan berapa umurnya meskipun dia menanyakan berapa umur saya dan selanjutnya memanggil saya mumy. Saya selalu mendapati pesan darinya walau hanya' say hello' saja. Dan terkadang kami berjanji untuk mengobrol pada jam istirahatnya. Kami memiliki perbedaan waktu yang cukup panjang. Semoga saya bisa mengikuti kehidupannya sampai kapan pun. Saya mengenalnya lebih lima tahun lalu dari teman pertama juga. Saya menunggu-nunggu kabar ia akan menikah selanjutnya kabar dia memiliki anak dst. Inilah variasi untuk menghilangkan kejenuhan saya.
Ini waktu yang tepat sebelum musim hujan tiba. Saya sudah ajukan ijin untuk minggu depan selama lima hari.
Karena itu semua pekerjaan harus secepatnya diselesaikan.
Sudah cukup lama saya tidak bepergian ke alam bebas, rasanya suntuk saja sehigga kurang penyegaran.
Bersyukur saya punya beberapa kawan untuk chatting di internet. Bercerita tentang cuaca, musim, wilayah, suasana dan latar budaya negara lain memang menyenangkan. Walau terkadang perbincangan itu sudah pernah dibicarakan. Tetapi selalu ada yang baru, misalnya bagaimana mereka putus cinta. Dan tahun berikutnya mereka mengabarkan sudah mendapat pacar baru. Begitulah dunia anak muda, sangat manis dan indah di antara kesedihan dan duka sesaat. Saya ikut terbawa keduanya mendengar kabar mereka.
Tetapi ada seorang kawan, ia orang pertama yang chatting lewat facebook dengan saya. Begitu juga saya adalah teman pertamanya untuk chattingnya. Dan kami sudah banyak saling mengenalkan kebiasaan yang ada di negara kami masing-masing, dan setelah itu tak lagi berkomunikasi walaupun dunia kami seimbang, dunia orang tua dengan anak-anak. Sayang sekali ia tidak bisa menjaga persahabatan kami. Dia tidak membalas sapaan saya lagi.
Hanya satu yang benar-benar setia dan bertahan dengan tulus. Dia gadis lajang sebaya dengan anak saya tetapi saya tidak pernah menanyakan berapa umurnya meskipun dia menanyakan berapa umur saya dan selanjutnya memanggil saya mumy. Saya selalu mendapati pesan darinya walau hanya' say hello' saja. Dan terkadang kami berjanji untuk mengobrol pada jam istirahatnya. Kami memiliki perbedaan waktu yang cukup panjang. Semoga saya bisa mengikuti kehidupannya sampai kapan pun. Saya mengenalnya lebih lima tahun lalu dari teman pertama juga. Saya menunggu-nunggu kabar ia akan menikah selanjutnya kabar dia memiliki anak dst. Inilah variasi untuk menghilangkan kejenuhan saya.
Sabtu, 21 November 2015
Serba -Serbi Media yang Terluka
Selamat malam. Bukan hanya saya yang sering dihinggapi kebosanan dalam menulis, melainkan hampir semua blogger yang saya ikuti juga mengalami hal yang sama. Consolo Mirarte posting terakhirnya tertanda satu tahun lalu, Ayo Menulis 3 bulan yang lalu, Kanna 3 tahun lalu dan Give the Emperor tiga minggu lalu. Hanya Free Technology For Teacher yang tetap konsisten setiap hari menulis.
Sangat salah saya mengira bahwa kemalasan ini adalah kemunduran saya karena usia. Ternyata tidak. Barangkali saya hanya merasa tidak ada lagi gagasan menarik untuk ditulis saja. Padahal kepala ini penuh dengan berbagai catatan mulai dari ide berharga sampai ide-ide sampah.
Kenyataannya semua enggan dituliskan. Atau tepatnya saya malas menulis, malah lebih asyik dengan buka situs-situs medsos yang banyak meracuni hati. Melukai, mempermalukan dan merendahkan.
Media sosial sudah menjadi ajang permusuhan dan saling menghina, hanya sedikit yang masih bertahan dengan etika dan kesopanan.
Terpikir untuk keluar dari komunitas media sosial tetapi tidak mau meninggalkan suasana akrab dan saling mengabarkan kabar lah yang membuat saya tetap bertahan. Melihat perkembangan sahabat, murid-murid dan mantan murid yang bertebaran di pelosok tanah air.
Terlintas juga menyembunyikan jati diri ketika saya ingin berbicara hal-hal yang menyangkut suara hati pribadi yang tidak layak dibaca murid, saya juga membuat akun baru misalnya di facebook. Aneh juga, tidak ada satu dari beberapa teman yang saya kenal. Seperti berada di pengasingan saja tanpa seorang menjadi komentator postingan saya. Tetapi ini yang sebenarnya menyenangkan saya dari sisi lain. Berada di tempat yang aman tetapi bisa bicara suka-suka manasuka. Masa bodolah soal likers, komen dsb.
Akhir-akhir ini perbincangan di facebook mulai tidak sehat. Luapan emosi yang tidak beralasan terkadang membuat merah telinga juga. Mau dibantah, masa saya ikutan latah dan meladeni bicara sampah dari anak-anak kecil dan terkadang mereka juga murid sendiri. Masalah agama, kecurigaan, prasangka sampai tuduhan tak berdasar terus menerus diisukan bahkan berulang kali dibagikan. Mencari kambing hitam atas berbagai persoalan pada pendatang sampai terang-terangan menimpakan kesalahan atas perubahan gaya hidup dan budaya pada orang lain juga sangat sering terjadi. Memprihatinkan memang tetapi apa mau dikata. Memberi opini atau argumentasi bahwa tidak ada yang bisa merubah perilaku suatu kelompok kecuali pada setiap individu dari mereka. Tidak ada yang bisa merampas atau menguasai milik suatu kelompok kecuali mereka sendiri yang membuat apakah semua menjadi milik mereka atau tidak.
Tidak ada yang bisa mengubah keyakinan orang lain selain mereka sendiri menghendakinya.
Saya sering merenung, begitu besar perasaan syukur saya bisa menyintai suatu tempat dalam perbedaan kultur dan keyakinan saya. Tetapi kali ini kecintaan saya dirundung luka dan saya tidak berdaya untuk mengatakan saya tidak terluka.
Segala aspek akan selalu dianggap sebagai ancaman walaupun sebenarnya itu juga peluang baik yang menguntungkan.
Tetapi sudahlah barangkali dengan tidak membaca media yang berpotensi menebar agitasi saya akan tetap merasa nyaman dan damai. Yah begitulah cerita hari ini, sampai nanti
Sangat salah saya mengira bahwa kemalasan ini adalah kemunduran saya karena usia. Ternyata tidak. Barangkali saya hanya merasa tidak ada lagi gagasan menarik untuk ditulis saja. Padahal kepala ini penuh dengan berbagai catatan mulai dari ide berharga sampai ide-ide sampah.
Kenyataannya semua enggan dituliskan. Atau tepatnya saya malas menulis, malah lebih asyik dengan buka situs-situs medsos yang banyak meracuni hati. Melukai, mempermalukan dan merendahkan.
Media sosial sudah menjadi ajang permusuhan dan saling menghina, hanya sedikit yang masih bertahan dengan etika dan kesopanan.
Terpikir untuk keluar dari komunitas media sosial tetapi tidak mau meninggalkan suasana akrab dan saling mengabarkan kabar lah yang membuat saya tetap bertahan. Melihat perkembangan sahabat, murid-murid dan mantan murid yang bertebaran di pelosok tanah air.
Terlintas juga menyembunyikan jati diri ketika saya ingin berbicara hal-hal yang menyangkut suara hati pribadi yang tidak layak dibaca murid, saya juga membuat akun baru misalnya di facebook. Aneh juga, tidak ada satu dari beberapa teman yang saya kenal. Seperti berada di pengasingan saja tanpa seorang menjadi komentator postingan saya. Tetapi ini yang sebenarnya menyenangkan saya dari sisi lain. Berada di tempat yang aman tetapi bisa bicara suka-suka manasuka. Masa bodolah soal likers, komen dsb.
Akhir-akhir ini perbincangan di facebook mulai tidak sehat. Luapan emosi yang tidak beralasan terkadang membuat merah telinga juga. Mau dibantah, masa saya ikutan latah dan meladeni bicara sampah dari anak-anak kecil dan terkadang mereka juga murid sendiri. Masalah agama, kecurigaan, prasangka sampai tuduhan tak berdasar terus menerus diisukan bahkan berulang kali dibagikan. Mencari kambing hitam atas berbagai persoalan pada pendatang sampai terang-terangan menimpakan kesalahan atas perubahan gaya hidup dan budaya pada orang lain juga sangat sering terjadi. Memprihatinkan memang tetapi apa mau dikata. Memberi opini atau argumentasi bahwa tidak ada yang bisa merubah perilaku suatu kelompok kecuali pada setiap individu dari mereka. Tidak ada yang bisa merampas atau menguasai milik suatu kelompok kecuali mereka sendiri yang membuat apakah semua menjadi milik mereka atau tidak.
Tidak ada yang bisa mengubah keyakinan orang lain selain mereka sendiri menghendakinya.
Saya sering merenung, begitu besar perasaan syukur saya bisa menyintai suatu tempat dalam perbedaan kultur dan keyakinan saya. Tetapi kali ini kecintaan saya dirundung luka dan saya tidak berdaya untuk mengatakan saya tidak terluka.
Segala aspek akan selalu dianggap sebagai ancaman walaupun sebenarnya itu juga peluang baik yang menguntungkan.
Tetapi sudahlah barangkali dengan tidak membaca media yang berpotensi menebar agitasi saya akan tetap merasa nyaman dan damai. Yah begitulah cerita hari ini, sampai nanti
Senin, 16 November 2015
Mengapa Saya Harus Berdoa Untuk Paris?
Perancis seharusnya tahu apa yang akan ia dapatkan setelah apa yang ia dan sekutunya lakukan di negara-negara yang ia sebut sebagai negara terorist, negara-negara Islam. Apa mereka itu bodoh tidak berpikir bahwa setiap aksi akan ada reaksi. Mereka tidak berpikir bahwa setiap bangsa memiliki kehendak sendiri dalam menyelesaikan persoalan bangsanya dan benci dengan campur tangan bangsa lain seperti mereka. Yang selalu mengambil keuntungan dari kekacauan negara lain. Belum lagi dalam masalah ideologi mereka seringkali menginjak-injak keyakinan bangsa lain dengan menghina agama Islam dengan berbagai cara.
Saya tertawa jika tiba-tiba mereka meminta simpati hanya karena aksi teror yang membawa 157 kurban itu. Begitu kecil nyali bangsa yang bersemangat menghancurkan bangsa lain tetapi heboh untuk sedikit pengurbanan terhadap apa yang mereka lakukan.
Sungguh menggelikan, jika facebook menggiring perasaan netizen untuk berduka atas kejadian itu. Lalu orang rame-rame, latah memasang berdera merah putih biru di foto profilnya.
Jika sekarang mereka menangis, menangislah untuk kehancuran negara-negara yang dimusnahkannya, karena kuban yang tak berdosa untuk negara-negara itu berlipat-lipat jumlahnya dibandingkan dengan tragedi Paris 2015.
Mereka pikir negara-negara Islam hanya dihuni oleh teroris, mereka pikir teroris itu monster yang tidak berpikir. Mereka pikir bangsa-bangsa yang beragama Islam boleh direndahkan dan dipermainkan martabatnya. Mereka pikir semua yang ada di bumi ini hanya untuk kepentingan mereka.
Menangislah, berdukalah ketika kalian mendapat balasan terhadap apa yang telah kalian lakukan. Dengan begitu kalian akan merasakan betapa sakitnya orang menangis. Dan setelah itu sadarlah untuk menjadi bangsa yang dewasa yang bisa menghargai hak azasi manusia dan tidak lagi mencampuri urusan bangsa lain. Tidak lagi mengusik-ngusik kedamaian bangsa lain dengan menghina agamanya dan merendahkan martabatnya.
Sungguh saya pernah berduka untuk Palestina, berduka untuk anak-anak libanon, berduka untuk bangsa Suriah yang tak berdosa, sangat berduka untuk musnahnya satu peradaban di Irak, hancurnya Lybia dan terkalahkannya bangsa Afganistan yang mempertahankan negaranya.
Saya pernah menangis untuk genosida suku Rohinga dan bangsa Bosnia.
Tetapi saya tidak bisa berduka untuk tragedi Paris. Saya ingin berbela sungkawa tetapi saya tidak bisa.
Maafkan saya.
Saya tertawa jika tiba-tiba mereka meminta simpati hanya karena aksi teror yang membawa 157 kurban itu. Begitu kecil nyali bangsa yang bersemangat menghancurkan bangsa lain tetapi heboh untuk sedikit pengurbanan terhadap apa yang mereka lakukan.
Sungguh menggelikan, jika facebook menggiring perasaan netizen untuk berduka atas kejadian itu. Lalu orang rame-rame, latah memasang berdera merah putih biru di foto profilnya.
Jika sekarang mereka menangis, menangislah untuk kehancuran negara-negara yang dimusnahkannya, karena kuban yang tak berdosa untuk negara-negara itu berlipat-lipat jumlahnya dibandingkan dengan tragedi Paris 2015.
Mereka pikir negara-negara Islam hanya dihuni oleh teroris, mereka pikir teroris itu monster yang tidak berpikir. Mereka pikir bangsa-bangsa yang beragama Islam boleh direndahkan dan dipermainkan martabatnya. Mereka pikir semua yang ada di bumi ini hanya untuk kepentingan mereka.
Menangislah, berdukalah ketika kalian mendapat balasan terhadap apa yang telah kalian lakukan. Dengan begitu kalian akan merasakan betapa sakitnya orang menangis. Dan setelah itu sadarlah untuk menjadi bangsa yang dewasa yang bisa menghargai hak azasi manusia dan tidak lagi mencampuri urusan bangsa lain. Tidak lagi mengusik-ngusik kedamaian bangsa lain dengan menghina agamanya dan merendahkan martabatnya.
Sungguh saya pernah berduka untuk Palestina, berduka untuk anak-anak libanon, berduka untuk bangsa Suriah yang tak berdosa, sangat berduka untuk musnahnya satu peradaban di Irak, hancurnya Lybia dan terkalahkannya bangsa Afganistan yang mempertahankan negaranya.
Saya pernah menangis untuk genosida suku Rohinga dan bangsa Bosnia.
Tetapi saya tidak bisa berduka untuk tragedi Paris. Saya ingin berbela sungkawa tetapi saya tidak bisa.
Maafkan saya.
Jumat, 13 November 2015
Acara Pertemuan Lintas Sektoral
Acarai hari ini dimulai dengan pertemuan Koordinasi Lintas Sektoral Tingkat Kabupaten untuk kepala sekolah dan guru di Tabanan. Acara dimulai tepat jam 08.00 WITA. Aneh rasanya bisa begitu tepatnya acara dimulai. E ternyata ini disebabkan acara harus selesai pada pukul 11.00 karena ini hari Jumat.
Tetapi baguslah dibanding jika pertemuan provinsi, acara yang seharusnya dimulai jam delapan bisa molor jam sepuluh.
Acara pokok adalah penyajian materi oleh dua penyaji, tanpa tugas bagi peserta selain menyampaikan masukan sehubungan dengan masalah yang menjadi kebutuhan setiap sekolah.
Acara benar ditutup pada jam sebelas diikuti makan siang lalu pulang. Lumayanlah refreshing sedikit dari rutinitas tugas mengajar yang mulai membosankan.
Tetapi baguslah dibanding jika pertemuan provinsi, acara yang seharusnya dimulai jam delapan bisa molor jam sepuluh.
Acara pokok adalah penyajian materi oleh dua penyaji, tanpa tugas bagi peserta selain menyampaikan masukan sehubungan dengan masalah yang menjadi kebutuhan setiap sekolah.
Acara benar ditutup pada jam sebelas diikuti makan siang lalu pulang. Lumayanlah refreshing sedikit dari rutinitas tugas mengajar yang mulai membosankan.
Rabu, 11 November 2015
Menaklukkan Ego
Seperti pergantian musim ini, pergantian atmosfir perasaan manusia juga bisa sedrastis itu. Bila kemarin kita merasakan cuaca yang super panas, hari ini kita merasakan kedinginan. Apa yang kita tanggalkan dari badan ketika panas berkeringat, hari ini kita butuhkan untuk melindungi badan kita. Pergantian perilaku ini adalah cermin fleksibilitas yang terjadi dalam hidup secara naluriah.
Membayangkan kekhawatiran pada hari esok ternyata lebih menakutkan daripada menghadapinya. Bahkan seringkali kita tidak menyadari bahwa kita sudah melewatinya, melewati kekhawatiran itu.
Kesadaran terhadap apa yang sepantasnya terjadi dan harus kita terima adalah sebanding dengan kita harus menggunakan sweater pada musim dingin, dan menggunakan jas hujan pada saat kehujanan. Bukan mengutuk mengapa hujan. Sinergi antara tantangan dan cara menghadapinya merupakan seni dalam kehidupan.
Manusia sering berpersoalan dengan karyanya (kutipan). Karya manusia adalah tantangan untuk ditaklukkan, menaklukkan ego menaklukkan rasa. Perjuangan ini terlahir dari harapan yang sangat besar untuk bisa mengakhiri ego dan membunuh impian semu.
Sampai nanti saya akan berangkat kerja satu menit lagi. bye.
Membayangkan kekhawatiran pada hari esok ternyata lebih menakutkan daripada menghadapinya. Bahkan seringkali kita tidak menyadari bahwa kita sudah melewatinya, melewati kekhawatiran itu.
Kesadaran terhadap apa yang sepantasnya terjadi dan harus kita terima adalah sebanding dengan kita harus menggunakan sweater pada musim dingin, dan menggunakan jas hujan pada saat kehujanan. Bukan mengutuk mengapa hujan. Sinergi antara tantangan dan cara menghadapinya merupakan seni dalam kehidupan.
Manusia sering berpersoalan dengan karyanya (kutipan). Karya manusia adalah tantangan untuk ditaklukkan, menaklukkan ego menaklukkan rasa. Perjuangan ini terlahir dari harapan yang sangat besar untuk bisa mengakhiri ego dan membunuh impian semu.
Sampai nanti saya akan berangkat kerja satu menit lagi. bye.
| Segara Anak G Rinjani |
Masih lekat dalam ingatanku saat itu udara mulai dingin setelah lewat dinihari. Perjalanan sudah sampai setengahnya dan ini saat yang tepat untuk beristirahat. Tempat ini memang merupakan pos peristirahatan setelah perjalanan mendaki selama satu jam. Bermula dari ketika aku hampir tergelincir ke tebing dan ia menyambar lenganku membuat aku sedikit was-was ketika ia mengajakku duduk di bangku panjang di tritis bangunan untuk beristirahat itu. Beberapa pendaki juga beristirahat di tempat duduk yang terbuat dari pokok-pokok kayu sambil menikmati makanan serta minuman ringan. Aku hanya minum sedikit air mineral dan biskuit.
" Waktu kita masih lama, sekarang masih jam dua satu jam lagi kita sampai di puncak." Katanya mengambil tempat di sebelahku. Aku cuma mengiyakan sementara pikiranku dihinggapi rasa takut dan canggung duduk berdua dengan porterku. Aku berdiri tanpa alasan tetapi kembali duduk karena aku memang sangat letih dan nafasku juga belum stabil setelah jalan mendaki itu apalagi semalam tidak bisa tidur. Ini memang selalu terjadi setiap kali menunggu
Langganan:
Postingan (Atom)
