Rabu, 27 Agustus 2014

Sepi itu Luka

Sepi mendesak ketika tak ada seorang pun di sini. Bersyukur lagu-lagu manis di
radio setia menemani sampai menjelang pagi.

Benar, sepi itu musuh yang sangat menakutkan. Maka wajar jika  banyak orang terkenal yang tidak berdaya melawan kesepian dengan mengakhiri hidupnya.  Artinya manusia lemah ketika berhadapan dengan sepi. Harta dan ketenaran tidak bisa membuang rasa sepi. Hanya hadirnya orang di keliling kita yang bisa memberi semangat dan  mengusir sepi.

Kawan, dingin menggigit selama ini, kaku segala yang ada tanpa daya. Diam tak bergairah.
Saya berpikitr bahwa  proses hidup paling tidak menyenangkan baru saya mulai. Transisi antarmasa  ini memerlukan kesadaran bahwa banyak hal yang sudah berubah.
Namun, dalam perubahan itu.....
Ada yang masih saya bawa dalam pikiran. Tetapi saya tidak sanggup merasakannya, apa yang ada dalam pikiran itu. Tidakkkk!
Saya terlukai tetapi saya harus bisa mengeringkan luka itu sendiri.


Trekking Semeru-Bukit Eyek-Eyek 2014

Rabu, 20 Agustus 2014

Segalanya Tak akan Berakhir

Segalanya seperti sulit untuk berakhir. Kesunyian yang panjang dalam  penantian juga tidak bisa berhenti. Sementara harapan sudah menjadi semu oleh banyaknya waktu yang berlalu.

Saya sudah sangat tua untuk berpikir tentang hidup dengan penuh kasih sayang. Saya juga meragukan pikiran saya bahwa saya pernah bahagia, karena saya tidak pernah bertemu dengan apa yang dinamakan kasih sayang. Kehidupan saya hanya seperti menunaikan kewajiban saja, tanpa memikirkan kualitas hidup itu sendiri. Dan apabila sekarang saya merasa terlambat untuk memperbaikinya, itu karena saya masih meragukan keberhasilannya.

 Pagi di Gunung Batur 2014


Tidak pernah terbayangkan jika yang saya lalui hanyalah waktu yang dipenuhi oleh kesia-siaan. Hidup saya yang sebenarnya adalah masa kecil saya, masa remaja saya. Perkawinan menjadi perantara dua dunia yang sangat jauh berbeda.
Jembatan hati saya putus perlahan menjadi kepingan yang terserak di mana-mana. Jika saya berhasil menyusun kembali satu demi satu kepingan itu,  ia tak bisa lagi menjadi jembatan yang kuat untuk dilewati.

Karena itu kaki saya harus lebih kuat untuk menggapai apa yang masih tersisa di ujung sana.


Sabtu, 09 Agustus 2014

Sebelum sampai pada Satu Titik

Belahanjiwaku,
Ketika matahari tidak lagi indah di mataku
dan bulan tidak lagi bercahaya, aku hanya seonggok benda tanpa bayangan.

berdekap rapat dalam dingin
Di antara kabut yang tak pernah selesai berbisik

Belahanjiwaku,
jalan panjang tanpa ujung, dari  puncak ke puncak adalah kuburan hampa
Bagi jiwa yang enggan berbagi

musim berganti
pucuk pinus gemeretak dipukul angin kemarau, bercerita
Tanpa berita hari esok

Tetapi hidup adalah perjuangan
Sebelum sampai pada satu titik
Kematian


Minggu, 03 Agustus 2014

Di Detik Mendebarkan

Selamat malam,
Sebentar lagi malam akan berganti pagi. Rasanya baru saja saya melampaui hari-hari yang sulit dan menyesakkan. Namun saya tahu bahwa di dalam kesulitan ada kemudahan.
Ini bukan yang pertama kalinya kami  menghadapi ujian berat terutama bagi ibu saya yang sudah sangat tua.

Saya baru saja meletakkan ransel dan bicara basa basi dengan adik-adik tentang perjalanan mudik kami bertiga, ketika kemudian seorang adik saya menarik tangan saya memasuki kamar. Pasti berita istimewa, pikir saya, kalung berlian ibu ketemu? saya menduga-duga.
Tetapi...ternyata saya kecewa. Lalu dua adik yang lain menyusul masuk kamar dan serius membicarakan masalah yang sangat rumit ini.
Untuk beberapa jam kami hanya bisa berpikir dan termangu sampai akhirnya saya memutuskan untuk satu forum negosiasi. Masalahnya apakah pihak kedua mau bertemu apa tidak karena beberapa kali adik bungsu saya sudah mencoba belum berhasil. Saya menyarankan sekali lagi untuk mencoba.
Dan pada akhirnya permintaan saya dikabulkan.

Jam 09.45 kami berdua sudah dijemput sopir menuju Hotel Aston. Sopir langsung membawa kami ke Kundika Restaurant melalui lift dan mengatakan agar saya menunggu di ruangan itu. Sementara di ruangan itu hanya ada seorang bartender sedang merapikan gelas. Beberapa menit sopir masuk lagi dan mengatakan bahwa orang yang saya tunggu sedang ada meeting.
Dengan berdebar-debar saya menunggu dan berpikir tentang bagaimana saya akan memulai pembicaraan serta membayangkan seperti apa orang yang akan kami hadapi. Pas kebetulan kami sedang ngobrol sambil tersenyum dan tertawa kecil seseorang berpostur sedang, masuk lalu mendekati kami, tersenyum dan menjabat tangan kami sambil menyebut namanya. Ooo....inilah orangnya. Laki-laki di atas 40 tahun itu meminta bartender meninggalkan ruangan. Dia terlebih dahulu mengenalkan diri dengan selengkap-lengkapnya dengan keramahannya yang saya duga pasti itu palsu,  hanya untuk mengurani ketegangan perasaan di antara kami saja. Padahal sejak awal kami sudah siap dengan rasa damai apapun yang akan terjadi dan apa saja yang akan ia katakan.
Bersyukurlah kami tidak perlu banyak bicara karena semua rancangan penyelesaian yang tidak akan merugikan pihak satu sudah diucapkan tanpa kami bertanya. Hingga pada akhirnya sampai  pada giliran inti pembicaraan yang menjadi tujuan kami demi penyelesaian masalah secara menyeluruh. Dan syukurlah kami berhasil hingga akhirnya lima hari kemudian
semua acara rancangan kami, perempuan berempat berjalan dengan lancar dan baik. Keluarga besar merasa lega dan bergembira.

Kami sepakat akan berkurban apa saja asal ibu senang.

Namun...semua seakan menjadi sia-sia ketika adik laki-laki saya datang.

Kini, di sini saya ingin menangis dan mungkin juga adik-adik perempuan saya yang lain. Tetapi sekali lagi saya percaya bahwa sesungguhnya bersama kesulitan adalah kemudahan. Jadi saya hanya bisa berharap akan ada kebaikan setelah ini. Amien.


Semeru saat Fajar


Dan Aku Harus Bisa


Cuaca mendung dan suhu udara yang dingin menjadi hampa
ketika  cermin tak lagi bisa berkata
kecuali buram

Aku bersiap namun tidak untuk sesuatu
kecuali rasa yang menikam

Keterlambatan memang selalu membuat penyesalan
walau segalanya hanya untuk sebuah cerita dalam ilusi
yang membutakan semua mata

Aku bersiap namun tak pernah selesai
karena jiwaku telah terbelah
dalam kepingan pucat tak bergerak

hanya waktu yang menuntunku keluar dari bayangan semu
dan ribuan mil kubutuhkan untuk berlari
menumpahkan sumpah serapah untuk nasibku.

Dan aku harus bisa






Rabu, 23 Juli 2014

Begitu Berarti

Add caption
Rumput basah di luar tenda memberi tanda bahwa di sini ada cinta yang baru
Seperti semai yang akan terjadi setelah hujan tiba

Cinta yang mengapung dalam secangkir kopi
Lalu hilang setelah regukan pertama

segera semua terlupakan saat matahari mulai mengintip di sela bukit
dan membuyarkan lapisan kabut di permukaan danau

Sekali aku pernah merasa sangat berarti
walau kini hal itu telah pudar bersamama kabut

Tetapi pernah berarti  lebih baik daripada tidak sama sekali 
Dan pengalaman itu menjadi kenangan yang begitu berarti walau aku tak lagi berarti

                                                                               Semeru, 26 Juni 2014

Jumat, 18 Juli 2014

Menempuh Jalan Pintas Bukit Eyek-Eyek

Selamat pagi pembaca,
Bukit Eyek-Eyek seperti bukit-bukit kerucut lainnya yang melingkungi G Semeru. Desa Ranu Pane ada di balik bukit. Kerucut bukit ini cukup tinggi dan yang pasti sebagai jalan pintas pendaki akan langsung mendakinya lalu menuruni. Waktu tempuh tentu saja lebih pendek, yaitu dua sampai tiga jam saja.


Sehari ini kami full berjalan, bahkan sejak semalam mulai dari muncak lalu turun kembali dan istirahat sarapan sebentar. Pengennya tidur  tetapi tidak bisa. Jam sebelas siang saya memulai perjalanan kembali. Berangkat duluan karena dua keponakan masih tidur dengan kesepakatan kita akan bertemu di pos Cemoro Kandang.



Perjalan turun lebih cepat karena sesekali dengan cara berlari kecil ketika jalan menurun terjal. Sampai pos Cemoro Kandang istirahat minum dan makan semangka. Ada penjual aqua dan makanan di sana. Istirahat sudah cukup rasanya harus segera melanjutkan jalan. Saya pesan pada pedagang saya langsung berangkat saja jika keluarga saya mencari.

Panorama treking yang kami lalui dari kaki bukit Eyek-Eyek
Perjalanan pulang ini tidak seperti gambaran porter kami, bahwa rutenya pendek yaitu hanya mendaki lalu menurun. Ternyata rute yang kami lalui sama dengan mendaki gunung tersendiri. Cukup jauh dan mendaki terus. Mana lebar jalannya hanya setengah meter menyisir tebing. Sekali selip hilang sudah tertanam di semak di dasar tebing. Medannya lebih sulit dan basah sehingga beberapa tempat sangat licin.
Saya bertemu dengan rombongan Kru Televisi Trans7. Kami bersama-sama, salah seorang mereka memberi saya sebotol aqua air hangat karena mengira saya tidak membawa air. Ya karena saya hanya membawa tas slempang kecil. Mereka memaksa saya menerimanya dan ternyata air hangat ini sangat memberi kenikmatan di tengah hutan yang dingin ini.
              Sore hari baru kami mencapai puncak bukit. Porter saya sudah menunggu sambil beristirahat. Selanjutnya meneruskan perjalanan ke desa Ranu Pane dengan menuruni bukit. Jalan menurun ini seolah tidak ada ujungnya. Dataran di bawah tidak kelihatan karena tertutup hutan dan sangat jauh membentang.



Menjelang matahari terbenam baru sampai kaki bukit. Seorang porter yang sudah pulang duluan menjemput saya dengan motor. Saya ragu-ragu karena jalan tidak cukup aman dilalui, kiri kanan masih lereng-lereng curam. Tetapi tidak ada pilihan lain, saya ikut dengan mata terpejam karena ngeri melihat sekitar. Baru setelah mendekati dataran saya bisa melihat betapa indahnya panorama senja di kaki bukit. Lalu kami melewati jalan-jalan di antara kebun sayuran dan kentang. Beberapa kali bertemu dengan pendaki yang tadi mendahului saya. mereka tampak heran melihat saya mbonceng motor. Lima belas menit kemudian saya sampai di desa dan bergabung dengan tim yang sudah menikmati kopi panas di dekat perapian. Selanjutnya makan malam dengan menu khas Ranu Pane. Ada sambal lombok yang disebut lombok terong, karena bentuk dan besarnya seperti terong. Sayur vietnam, yaitu sejenis daun ginseng yang hanya ditanam di desa Ranu Pane saja. Bibit sayur ini memang berasal dari Vietnam yang dibagikan ke petani melalui dinas pertanian untuk kemudian hasil panennya akan dibeli lagi oleh pemberi bibit. Dan selanjutnya di ekspor ke negara asalnya yaitu Vietnam. Harga perkilogram sayur adalah lima puluh ribu rupiah. Jadi pantas saja mereka tidak perlu menjual di pasaran.
Kami berpisah dan saya melanjutkan perjalanan pulang ke Surabaya dan paginya baru pulang ke Bojonegoro.