Rabu, 26 September 2012

Hassan Cecilia

Kehadirannya di setiap chatting membuat saya tersenyum dan terhibur. Tinggal di Minna Nigeria, bekerja di Minna University. Tidak terasa berjam-jam kami ngobrol berbagi cerita dan wawasan. Saya mengomentari sebuah foto di albumnya, dia bilang 'He is my darlyng' saya senang merasakan ia bahagia.
Ketika ia bertanya apakah saya merasa mendapatkan cinta yang sebenarnya, saya sulit menjawabnya. Saya hanya bilang "saya kira begitu". Kemudian ia menyambung " Hanya Tuhan yang tahu." Lalu saya katakan juga bahwa cinta itu seperti badai, suatu saat ia datang lalu pergi begitu seterusnya, dan kita harus bisa mengikutinya. Ia setuju. Terus dia katakan bahwa ia ingin seperti saya di dalam foto-foto saya. Saya setuju  dan mendoakan agar dia mendapatkan cinta sebenarnya. Sepertinya ia senang sekali. Beberapa kali ia mengucap "Amen".

Mulanya saya mengira ia muslim melihat namanya. Ternyata bukan. Walaupun begitu kami sangat rileks termasuk berbicara tentang keyakinan. Ketika ia mengajak ngobrol lewat camera, saya keberatan, saya katakan lain kali saja.
Akhirnya kami hanya saling memperlihatkan foto di yahoo messenger saja.

Di YM ia menggunakan nama Hassan Ene, Ene adalah nama tribenya. Semula saya kira nama asli. 
Hassan Ene atau Hassan Cecilia memberi hiburan di waktu senggang saya.


Selasa, 25 September 2012

Di Atas Langit ada Langit

Di Atas Kuta




Bali Timur





Lombok dari udara



Lombok Timur


Sumbawa


Labuan Bajo Flores



Flores Barat


Flores Barat



Flores Barat




Di Atas Surabaya



Di Atas Polonia Medan


Di Atas Kuta




Di Atas Kuta Bali

>


Sabtu, 22 September 2012

Selamat Pagi

Selamat pagi kawan, pagi ini memberi harapan baru buat kita. Pagi ini banyak rencana, dalam satu hari sekurangnya, yang bisa kita susun dan laksanakan.

Kawan, di halaman, bunga-bunga saya sedang bermekaran. Sepanjang minggu ini saya luput memberi perhatian kepadanya. Hari ini saya akan mengurusnya dan menikmati keindahannya sambil mengobati kejenuhan selama seminggu terakhir.






Musim kemarau terasa panjang dan awan pun enggan melintas. Kemarin pagi terdengar rintik gerimis tetapi hanya beberapa detik saja, belum meninggalkan bekasnya. Daun-daun tetap kering, tanah tetap berdebu.





Ada setumpuk rasa kecewa, tetapi hari ini saya akan membuangnya jauh-jauh. Melupakannya dan menganggapnya sudah berlalu. Saya berharap ada rasa baru yang perlu saya cicipi lagi.






Menyenangkannya hidup yang penuh dengan variasi. Memberi warna yang selalu berbeda. Dan mungkin itulah keseimbangan.




Bekerja Menjadi Hiburan

Bekerja menjadi hiburan bagi saya, tetapi kemarin saya bekerja dengan sedikit kemarahan. Bagaimana tidak marah, saat saya bicara di depan kelas ada seorang murid tidak memperhatikan karena asyik melihat handphone. Saya marah. Banyak sudah kalimat-kalimat saya keluar. Setelah beberapa menit kemudian saya memberi soal dan ketika murid bekerja, saya mengoreksi lembaran pekerjaan sebelumnya.

Tetapi apa yang terjadi, saya dapati lagi murid lainnya juga asyik sendiri. Saya berdiri dan tidak sabar menghampirinya untuk memastikan apa ia juga bermain dengan handphone. Benar anak itu menggunakan BB-nya. Spontan saya marah dan memintanya keluar. Beberapa kali saya memerintahkan dia keluar hingga akhirnya dia keluar sampai jam saya berakhir.
lengkap sudah, sakit rasa kepala saya.

Hari ini, saya bicara dengan wali kelasnya tentang anak-anak yang nakal itu.

Beberapa hari yang lalu saat bel masuk berbunyi,seorang kawan berkata bahwa ia harus cepat ke kelas karena sepuluh menit pertama adalah waktu untuk marah, tigapuluh lima menit kemudiannya baru mengajar tetapi itu juga bisa berubah kalau dia akan marah lagi.
Ternyata saya juga mengalaminya. Tetapi sudahlah semua sudah terlewati.
Kalau guru tidak berani marah kepada murid. murid yang akan berani kepada kita.

Rabu, 19 September 2012

Yang Aku Tulis

Saya kehilangan banyak kata untuk menuliskan apa yang ingin saya tulis. Karena yang akan saya tulis itu kini terkunci rapat di dalam kalbu. Ingin rasanya meluapkan emosi tapi tidak ada celah untuknya. Saya tidak berdaya kini memendam semuanya. Saya tumbang.

Saya kehilangan...banyak yang hilang, begitu banyak. Sehingga saya seperti tak bersumsum tulang.. Lorong waktu sudah melontarkan saya kembali ke tempat semula.
Biarlah waktu terus berjalan membawa saya kemana dia mau. Tidak ada pilihan selain menerima dan penerimaan ini menjadi satu-satunya kekuatan yang  membantu saya untuk bisa merasakan bahwa saya masih ada.

Apa yang saya rasakan saat ini mengajarkan kepada saya bahwa Sang Khalik begitu cermatnya menciptakan manusia, sejak dari rancangan fisik yang setiap detailnya berfungsi sampai kepada bagaimana Dia memberi spirit dalam segala cita rasa manusia, yaitu keinginan, kemarahan, kesedihan, cinta, rindu, benci dsb. 
Spirit, ruh dan jiwa. Tidak seorang pun tahu di dalam jaringan sel yang manakah dia berada, tetapi  spirit itu mampu mengendalikan  manusia dalam segala-galanya.


Merapi 2012



Satu rasa bisa membuat manusia bahagia
Satu rasa bisa membuat manusia menderita
Satu rasa bisa membuat manusia  bersemangat
tetapi
satu rasa juga bisa membuat manusia putus asa


Jumat, 14 September 2012

Dibalut Sunyi

Banyakkah orang yang dibalut kesunyian dalam waktunya? Kesunyian memang suka mengikuti perasaan manusia seperti perdu  yang mendengar suara angin sebagai desingan panjang tak berkesudahan.
Namun,
Kesunyian juga seperti ilalang yang tidak pernah mendengarkan gemericik air di kali. Seperti puncak gunung yang tak tersentuh oleh siapa pun. Masing-masing tinggal dalam garis hidup yang tidak bisa dimengerti satu sama lain.
Tetapi semua bisa bertahan melewati abad demi abad tanpa berkeluh kesah.

Kenapa manusia tidak bisa bersahabat dengan kesunyiannya dan membiarkan waktu akan mengubahnya menjadi kegembiraan. Sesungguhnya tanpa kesunyian tak akan ada kegembiraan.


Perbukitan dekat Newmont NTB



Rabu, 12 September 2012

Saya Harus Bisa

Mampukah saya berlari dan berlari meninggalkan bayangan itu terlepas dari pikiran? Mau saya apa? Demi apa? 
Ternyata kesadaran akan siapa dan bagaimana tidak cukup untuk bisa melenyapkan apa yang telah saya cetak di dalam dada. Yang selalu saya sentuh ketika saya tidak mampu melakukan apapun untuk mencapainya.
Terkadang ini menyakitkan,  sebegitukah kejamnya pikiran saya mengurbankan perasaan saya demi kebenaran  itu?
Tetapi saya harus belajar untuk memahami bahwa kebenaran yang saya hadapi ini adalah kebenaran yang mutlak. Saya tidak boleh egois dan harus bisa menerima.


Waduk Pacal Bojonegoro 2012



Karena saya sudah mendapatkah yang tidak pernah saya dapatkan. saya ingin melihat kebahagiaan orang lain sekarang.