Minggu, 24 Januari 2016

Antara Badai



Semula aku menginginkan badai
Tetapi ternyata yang kubisa hanya gelombang
Pada suatu hari nanti badai itu akan datang
Untuk menjaga musim

Andai laut hanya tenang pertanda udara tak berpindah
maka stagnasi kehidupan akan terjadi
Dan siapakah yang bisa melawan sepi
dalam kebosanan menanti tanpa arti

Antara angin dan badai
antara ombak dan gelombang
antara siang dan malam
bulan dan matahari
langit dan bumi
adalah kehidupan yang sebenarnya.


Engkau Kembali






Semangatku kini datang lagi karena jiwaku telah kembali.
Belum sepenuhnya,
Tetapi aku harus bisa membangun lagi

Seperti hari yang terus berganti
suasana hatiku juga terus berganti
seperti hembusan angin kali ini
lembut menyejukkan hati

Terima kasih semesta, engkau telah menjalankan tugasmu
menyampaikan pesan Sang Pencipta
untuk membangkitkan semangatku lagi
Dan aku masih memiliki

Selasa, 19 Januari 2016

Hanya Waktu yang Membantu

Selamat malam dari Tabanan.
Udara sedikit sejuk berada di luar rumah karena hujan baru saja turun. Sayang derasnya tidak cukup untuk memberi kesejukan sepenuhnya. Udara di dalam masih gerah, apalagi di kamar sangat gerah.

Saya selalu berpikir saya sedang tidak sehat. Tidak ada gairah walau tetap bekerja seadanya, mengajar seadanya. Makan seadanya, tidur seadanya. Terkadang saya tersenyum sendiri setiap kali berdiri di depan cermin. Benak saya menertawakan hati saya karena menyimpan sesuatu yang abnormal. Sesuatu yang aneh dan imposibel.
Tetapi hati saya berang, tidak bisa menerima dikatakan tidak normal. Dan bertanya keada benak saya, " Aku tidak terima, sekarang apa yang menurutmu normal? Aku memiliki kesetiaan yang lebih baik dari kamu."
Apa jawab benak saya, " Sekarang saatnya kamu merubahnya, karena ia tak berguna lagi."

Hatiku pun nelangsa, "Sebegitu jauh aku sudah menghabiskan waktu untuk menjalani  dan sebegitu lama aku selalu mengikuti kataku, kata hatiku, dan sekarang benakku baru menyadarkanku"

Ia benar, kata-kata benak itu benar, hati lah yang selalu tidak menurut setiap kali diingatkan dan sekarang setelah sakit baru berpikir untuk bisa merubah.
Hanya berpikir dan berharap untuk merubah, sedang kemampuan untuk berubah saya belum yakin. Merubah dari mengingat ke melupakan. Hanya waktu yang bisa membantu.



Senin, 18 Januari 2016

Apa Yang Bisa Kukatakan



Jutaan kata yang tersusun dalam irama waktu tidak akan cukup
helaan ribuan kali nafasku tak akan sanggup
menumpahkan segala yang tersimpan
sudut-sudut hatiku penuh oleh duka

Segala pertimbangan semula tidak berlaku lagi
Waktu sudah membuatnya kadaluwarsa. aku semakin renta
Aku tak lagi punya rasa
dan melihat segalanya sebagai hal yang tak akan terlihat
sia-sia

Kini apa yang bisa aku katakan
go away from me!
....off from my face!

Sejarah singkat telah mencatat segalanya
dalam tinta aneka warna
aku harus adil menimbangnya, menerimanya
tak semuanya menyakitkan
hanya pahit kurasakan






Berbagi Nikmat Kehidupan



Selamat pagi.
Ketika hari-hari awal memulai ini, saya masih bisa memahami bahwa saya harus bisa berbagi rasa. Saya berpikir hidup yang lebih baik baginya sudah datang saatnya. Tetapi kali ini saya menyalahkan diri sendiri. Tak sanggup menatap langit yang kelam di jendela atas itu demi membuang segala kegelisahan.
Kehidupan memang tidak lebih dari panggung peran manusia yang tak terlepas dari intrik tipu daya.
Banyak orang bicara tentang kejujuran hanya untuk kamuflase dan untuk mendapatkan sesuatu.
hhh saya harus yakin sesuatu yang buruk atau baik yang terjadi juga karena nasib.

Saya berharap hal baik yang terjadi, Berbagi dalam merasakan nikmatnya kehidupan.





Antara Dua Hal

Selamat petang dari Tabanan.
Beberapa menit tadi hujan tiba-tiba turun namun segera berhenti setelah menyirami halaman dan jalanan. Hujan kini meninggalkan titik-titik yang tidak menentu di dedaunan yang diam tak bergerak seolah sedang menggambar kesedihan.

Pasti bukan hanya saya, manusia di bumi yang milyaran jumlahnya ini memiliki pengalaman batin yang  sama tentang rasa baik rasa sedih maupun gembira.
Bahwa kesedihan itu datang perlahan dan pergi dengan perlahan pula. Sedangkan kegembiraan itu  datang serentak dan perginya juga serentak. Tidak ada jaminan bahwa kegembiraan lebih langgeng dari penderitaan dan sebaliknya. Tidak ada yang bisa memilih mana yang akan kita langgengkan. Seperti ombak dan badai yang akan pasang dan surut tergantung pada banyak faktor. Pergantian musim dan peredaran bulan adalah bagian dari  penentunya. Akan tetapi jika anomali alam terjadi maka siapa yang bisa memprediksi kapan ombak menguntungkan dan kapan ombak menakutkan atau kapan badai datang dan kapan badai reda.

Yang bisa kita prediksi adalah semuanya akan datang dan pergi. Ada saatnya kita bergembira dan ada saatnya kita bersedih. Ada saatnya kita tertawa dan ada saatnya kita menangis. Yang pasti keduanya ada karena adanya permulaan dan tentu ada akhirnya.
Tidak ada gunanya membelenggu hati dalam kesedihan dan memuaskan hati dalam kegembiraan. Menikmati variasi keduanya lebih nikmat dibanding terkurung dalam salah satunya.

Kawan, omongan saya ini ngelantur. Kawan pasti bisa menduga saya sedang gundah gulana, Galau kata Anda.
Yap begitulah. Tetapi saya bisa menerima kegundahan ini dan berharap ini ada hikmahnya.
Jiwa saya sedang sakit dan hanya dengan menulis ini rasa sakit itu terkurangi. Saya tidak mau sakit hati karena ini identik dengan dendam. Saya merasa sakit jiwa saja masih dalam derajat yang rendah.

Ah suara azan maghrib sudah memanggil saya harus meninggalkan ini dan mengambil air wudlu.
Selamat petang.






Minggu, 17 Januari 2016

Richard Byrne sudah lebih dari dua hari tidak ada di daftar bacaan saya, padahal setiap harinya ia tidak pernah meninggalkan halamannya kosong. Bahkan bisa hampir rata-rata dua jam sekali ia menulis. Tulisan-tulisannya suka menyemangati saya untuk mengikuti jejaknya sebagai penulis momentum yang penting atau tidak penting.

Hari ini kepala saya agak pening. Saya banyak kehilangan hal-hal yang berguna untuk mengisi hari-hari saya.dalam masalah sosial. Ada saat kegembiraan ketika pulang kampung akhir tahun lalu pada saat kami berkumpul di rumah tua dan setiap kali banyak pembicaraan yang lucu-lucu mengenai keluarga kami masing-masing. Setiap saat selalu ada bahan lelucon, apakah tentang suami, anak atau teman kami masing-masing. Semula kami merencanakan menyambut detik pergantian tahun ke luar kota. Tetapi rencana itu batal karena salah satu anggota geng remaja kena demamberdarah dan opname di rumah sakit.tidak..yah akhirnya diputuskan di rumah saja, apalagi hujan turun sebentar.
Walau begitu tidak mengurangi kegembiraan kami dan terus tertawa lepas.
Korban dari kekonyolan kami seringkali ibu kami yang sudah pikun dan mulai cerewet oleh kekhawatiran-khawatiran dan ketakutan.

ah itu sudah berlalu dan sekarang saya kesepian, mungkin juga mereka di sana.