Rabu, 06 Januari 2016

Hampa dan Kerinduan

Selamat malam,
Hampa sejak kegembiraan jiwa saya berangsur mereda. Kegembiraan itu bertunas dari musim kering yang membakar lalu dengan sekuat daya saya siram. Tetapi apa yang abadi di dunia ini selain perubahan itu menurut kata orang dan benar. Hari-hari penuh warna itu telah berganti dengan keredupan. Walaupun begitu keredupan ini tidak memudarkan rasa bersyukur saya telah menemukan sesuatu yang sudah mengubah suasana hati saya. Tidak ada lagi yang bisa membuat saya merasa menderita seandainya dera derita itu datang. Saya merasa sangat kuat dengan pengalaman hidup saya dan dalam kekuatan itu jiwa saya sarat dengan cinta.
Akhir hidup saya maybe juga akan bahagia karena bisa melupakan rasa sakit.

Hampa, tetapi saya tahu tidak sepenuhnya sisa kehidupan saya kosong. Ada api yang selalu menyala dan tak bisa padam sampai kapan pun. Saya tahu, ini adalah takdir yang sebenarnya. Merasakan sesuatu yang tidak bisa dimengerti namun membuat saya yakin bahwa Tuhan menyayangi saya setelah ujian yang berat itu.

Hampa terkadang menjadi kerinduan yang mencabik, tetapi apa yang bisa dilakukan kerinduan itu ketika ia berada di bibir sebuah jurang yang sangat lebar dan tidak mungkin untuk melompatinya.
Maka tinggallah kerinduan itu menjadi kerinduan abadi di sana.
 

Selasa, 15 Desember 2015

Di Rumah Sakit Umum Bekasi

Ini kali menjadi hari yang membosankan di Rumah Sakit Umum Bekasi. Antrean yang lama dan panggilan yang tidak berurutan sesuai nomor juga membingungkan. Tetapi sudahlah, semua kembali kepada siapa kita. Cuma saya tidak suka ketika melihat petugas yang tidak bersikap ramah kepada pasien. Maka ketika giliran keluarga saya mau ditekan dengan pertanyaan yang merendahkan wibawa pasien, saya merapat dan membalas tekanan dengan memandangnya tajam. Dan di situlah saya tahu seberapa besar kesabaran setiap orang. Ternyata laki-laki itu lebih sabar dari saya. Ia mulai tersenyum melayani kami dan melambatkan tempo bicacanya.

Empat jam sudah untuk hari ini.

Rabu, 09 Desember 2015

Tak Bersemangat


 
      Besok rapat guru untuk pembagian rapor akhir semester satu. Artinya sehabis ini praktis tidak ada pekerjaan karena saya bukan wali kelas. Saya segera pergi ke Jakarta setelah ini. Sulung saya sakit padahal tugas yang harus dikerjakannya banyak dan semua nyaris tidak bisa ditunda. Jika tidak ia akan merugi.Saya harus pergi memberinya semangat dan menenemani walau hanya sedikit waktu. Berguna atau tidak saya ingin mengurangi ketidaknyamanan kami masing-masing. Saya sudah kabari bungsu saya untuk menunda kepulangannya sampai akhir tahun ini.

Besok masih ada yang harus saya urus dengan beberapa murid bandel yang belum melengkapi tugas yang saya berikan. Melengkapi nilai yang kurang.
waduh kenapa saya bingung begini menulis, tidak ada keinginan sama sekali mencatat segala sesuatunya. Apa gairah saya sudah tumpul, barangkali benar. Tetapi saya perlu garis bawahi ide saya sebenarnya masih banyak hanya saya perlu suntikan semangat untuk merubah apa yang saya rasa menjadi apa yang saya tulis.

Kejenuhan akan hal yang begini-begitu saja juga melemahkan semangat saya.





Olah Raga Mengisi Tengah Semester

Ada yang hampir terlupakan lagi kegiatan akhir semester pertama ini, yaitu kegiatan pertandingan beberapa cabang olah raga antar kelas. Kegiatan ini mengisi waktu kosong setelah remedial bagi siswa yang nilainya tidak mencapai kompetenso dasar. Dan waktu bagi wali kelas untuk menulis rapor. Berikut ini foto yang saya ambil dari kegiatan tersebut,



Senin, 07 Desember 2015

Sabtu, 05 Desember 2015

Selamat sore pembaca.
Hari yang sepi sejak saya kembali dari perjalanan refreshing ke bukit 29 Lumajang. Saya sakit setelah kehujanan dan kedinginan selama sehari semalam di puncak bukit itu. Puncak bukit di ketinggian 2900 mdpl dan 3000 mdpl.

perjalanan ke alam kali ini tidak begitu berkesan karena cuaca berkabut yang terus menerus menutupi panorama indah di sana Hanya beberapa menit saja kami bisa mendapatkan cuaca terbaik untuk mengambil gambar dan menikmati alam.



walaupun begitu, cukuplah membuat perasaan segar kembali. Kejenuhan membaca posting dan komentar sampah seputar gagasan wisata syariah Bali yang kelewat menusuk
telinga terobati sejenak.
Yah, ternyata sampai saat ini belum juga reda. Saya baru sadar betapa kebencian itu begitu membabi buta. Tidak ada logika untuk mencerna apapun selain kebencian dan kemarahan yang tidak jelas tetapi melebar dan terus melebar.

Rabu, 25 November 2015

Selamat Hari guru

Sesampai di ujung tangga jalan saya dihadang oleh anak kelas XII, mereka merangsek terlalu dekat dan seorang murid memberi saya bunga sambil mengucapkan selamat hari guru diikuti teman-temannya. Oh baru saya menyadari saat ini adalah hari guru. Ternyata mereka mengingatnya. Saya senang dengan perhatian anak-anak. rupanya mereka melihat saya dari lantai dua ketika saya datang.

Seterusnya kami bergegas masuk kelas karena ulangan jam kedua sudah hampir dimulai.
Saya mengawas di kelas yang sama dengan kemarin. Ada kejadian lucu kemarin, saat saya sedang membagikan soal, seorang murid perempuan menerima sesuatu dari teman laki-laki yang duduk diseberangnya. Mereka mengira saya tidak melihatnya tetapi ketika giliran saya membagi soal kepada anak perempuan itu saya tanya apa yang ia terima. Mula-mula ia menggeleng, tetapi saya memaksanya memberikan apa yang digenggamnya. Saya tahu ada lipatan kertas kecil di dalam tangannya. Akhirnya ia memberikan kertas itu.
Sehabis membereskan semuanya, absensi, mengisi berita acara barulah saya buka kertas itu untuk melihat apa yang saya pikir adalah contekan. Wajah kesal saya serentak hilang dan saya tersenyum .sendiri. Tulisan di kertas itu berbunyi " Rupanya kamu sudah punya yang baru.'

Ada saja anak-anak itu. Yah biar begitu kejadian kecil ini mengawali kegembiraan pagi itu.
Selanjutnya kertas itu saya kembalikan dan saya katakan " Ini untuk kamu, simpanlah tetapi ingat kamu harus belajar yang baik."
Teman-temanya bertanya-tanya mungkin lalu saya jelaskan kertas itu adalah kertas ucapan selamat pagi untuknya. Semua tertawa. Ini cerita hari ini.