Selamat datang di blog saya. Saya senang Anda bergabung dengan saya, melihat pengalaman saya dalam gambar dan membaca tulisan saya. Beberapa cerita fiksi yang saya tulis terinspirasi oleh pengalaman teman-teman dan orang lain.Saya berharap ada komentar dan saran dari Anda. Tks untuk semuanya.
Kamis, 23 April 2015
Ketika Kubuka Jendela
Ketika kubuka jendela
langit berkata bahwa malam ini bukan lagi malamku
angin berbisik
dan pergi meninggalkan hampa dalam ruangku
Tak terlalu dingin malam
gerimis rinai dalam sayup suara guruh
segalanya tak berkata
segalanya tak bernyawa
Ada sepi tetapi tidak untuk ditanyakan
biarkan ia bersemayam dalam dada
sebab hari-hari yang lalu
tak ada tempat untuknya
karena cinta telah mengisinya
Minggu, 19 April 2015
Catatan Malam Ini
Akhirnya malam ini,pukul 23.37 soal ulangan akhir semester genap selesai juga. Besok segera dikumpulkan walau masih banyak waktu sampai sepuluh hari ke depan. Saatnya menyelesaikan penilaian pekerjaan murid sampai tuntas. Setor nilai tengah semester dsb.
Setahap demi setahap melewati pekerjaan memang rasanya seperti berolah raga ringan juga. Pokoknya puas bisa meneliti hasil kerja dengan cermat. Berharap tidak ada pertanyaan dan keraguan, apalagi ralat terhadap soal-soal yang saya buat. Malulah, puluhan tahun menjadi guru masih ada kesalahan, biarpun tahu bahwa kesalahan seseorang itu manusiawi, tak ada manusia yang sempurna (hahahah klise saja).
Intinya saya ingin soal saya terbaik (ingin kan boleh saja), soal ada yang lebih baik ya baguslah. Walau saya akui saya ngintip-ngintip soal orang lain juga di internet untuk perbandingan saja. Tetapi terkadang saya ambil juga jika saya perlu. Namanya berusaha untuk lebih baik, tetapi sama juga, namanya buatan manusia soal-soal itu banyak juga kekurangannya. Dari itulah kita belajar untuk memperbaiki. Jadi saya juga patut berterima kasih pada mereka yang kreatif dan rela berbagi di dunia maya kami.
Pembaca, saya sedikit pening, saya takut migrain akan mendekat. saya harus segera tidur semoga saya bermimpi ketemu kekasih (ehm seperti yang muda saja) dan bisa bangun pagi dengan tersenyum.
Selamat malam sampai nanti.
Setahap demi setahap melewati pekerjaan memang rasanya seperti berolah raga ringan juga. Pokoknya puas bisa meneliti hasil kerja dengan cermat. Berharap tidak ada pertanyaan dan keraguan, apalagi ralat terhadap soal-soal yang saya buat. Malulah, puluhan tahun menjadi guru masih ada kesalahan, biarpun tahu bahwa kesalahan seseorang itu manusiawi, tak ada manusia yang sempurna (hahahah klise saja).
Intinya saya ingin soal saya terbaik (ingin kan boleh saja), soal ada yang lebih baik ya baguslah. Walau saya akui saya ngintip-ngintip soal orang lain juga di internet untuk perbandingan saja. Tetapi terkadang saya ambil juga jika saya perlu. Namanya berusaha untuk lebih baik, tetapi sama juga, namanya buatan manusia soal-soal itu banyak juga kekurangannya. Dari itulah kita belajar untuk memperbaiki. Jadi saya juga patut berterima kasih pada mereka yang kreatif dan rela berbagi di dunia maya kami.
Pembaca, saya sedikit pening, saya takut migrain akan mendekat. saya harus segera tidur semoga saya bermimpi ketemu kekasih (ehm seperti yang muda saja) dan bisa bangun pagi dengan tersenyum.
Selamat malam sampai nanti.
Sabtu, 18 April 2015
Agar Hari Tetap Indah
Pagi cerah pagi indah, karena hari ini hari Minggu dan saya bisa bangun manasuka, tidak keburu-buru mandi, menyiapkan sarapan dan tetek bengek lalu berangkat kerja.
Sederhana ya apa yang dirasa indah. Jika nanti hari-hari begini terus, santai, apakah hari itu masih bisa dirasa indah. Saya rasa tidak, semua orang menyintai kerja tetapi bekerja juga ada kebosanannya. Begitu juga, libur itu menyenangkan tetapi libur terus juga akan membosankan. Jadi indah itu ada di antara kerja dan libur.
Nah nah ...padahal yang akan saya hadapi nanti libur terus. Tetapi saya harus optimis untuk mendapatkan terobosan yang dapat menjadikan hari-hari saya nanti tetap indah dan menyenangkan.
Bukankan kemarin saya selalu menunggu ada libur panjang dan bisa menyelesaikan semua kegiatan yang saya suka? Saatnya nanti saya membuktikan apakah niat itu benar saya laksanakan atau tidak. Kemarin-kemarin saya gagal. Liburan saya tidak saya jalani sesuai dengan semua rencana. Pergi dan jalan-jalan saja yang saya lakukan tetapi menyelesaikan pekerjaan hobi saya abaikan.
Bismillah, saya berjanji tidak menyia-nyiakan waktu saya, saya akan menggunakannya untuk belajar dan belajar untuk membuat semuanya lebih baik dan menyenangkan sehingga hari-hari akan tetap indah dan lebih indah.
Ilustrasi buku cerita anak-anak TK Children House, Jimbaran
Sederhana ya apa yang dirasa indah. Jika nanti hari-hari begini terus, santai, apakah hari itu masih bisa dirasa indah. Saya rasa tidak, semua orang menyintai kerja tetapi bekerja juga ada kebosanannya. Begitu juga, libur itu menyenangkan tetapi libur terus juga akan membosankan. Jadi indah itu ada di antara kerja dan libur.
Nah nah ...padahal yang akan saya hadapi nanti libur terus. Tetapi saya harus optimis untuk mendapatkan terobosan yang dapat menjadikan hari-hari saya nanti tetap indah dan menyenangkan.
Bukankan kemarin saya selalu menunggu ada libur panjang dan bisa menyelesaikan semua kegiatan yang saya suka? Saatnya nanti saya membuktikan apakah niat itu benar saya laksanakan atau tidak. Kemarin-kemarin saya gagal. Liburan saya tidak saya jalani sesuai dengan semua rencana. Pergi dan jalan-jalan saja yang saya lakukan tetapi menyelesaikan pekerjaan hobi saya abaikan.
Bismillah, saya berjanji tidak menyia-nyiakan waktu saya, saya akan menggunakannya untuk belajar dan belajar untuk membuat semuanya lebih baik dan menyenangkan sehingga hari-hari akan tetap indah dan lebih indah.
Ilustrasi buku cerita anak-anak TK Children House, Jimbaran
![]() |
| Piko a little pigeon |
![]() |
| Piko and The Owl |
![]() |
| Little Piko Try to Flying |
![]() |
| Piko Got Dangerous |
Kamis, 16 April 2015
Dengar Cerita "Dahsyat"
Kawan, ada kegelisahan di sini tetapi saya tak berharap ada kegelisahan di situ. Jika ada, kegelisahan itu yang akan menjadikan kedamaian nanti sebagai hal yang luar biasa.
Percayalah bahwa sesungguhnya aneka rasa yang kita nikmati itu menjadikan kita kaya rasa. Ahaha....
yah apa lagi yang bisa saya katakan untuk menghibur Anda semua yang sedang gelisah.
Dengar kawan, ada sebuah cerita. Seminggu yang lalu di sekolah kami kedatangan tim Dahsyat, itu acara iklan hiburan di RCTI. Mereka melaksanakan acara Dahsyat tersebut di sekolah kami. Wah serulah....acaranya yang rame-rame begitu. Ada sedikit tanya-tanya, pertunjukan tari bali, dancing, dan ada juga unjuk kebolehan pencak silat. Jangan salah loh tim pencak silat kami berprestasi tingkat internasional. Tiga tahun tiga berturut-turut menjadi juara 1 dan terakhir tahun 2014 menjadi juara umum di Vietnam. Ya sih pencak silatnya juga adopsi dari olah raga beladiri negara tersebut,Vovinam namanya. Acara ini diwarnai dengan promosi produk gitu. Produk minumam berenergi.Tetapi saya tidak mau membantu promosinya di sini. Minuman tersebut dibagi-bagikan pada murid, guru dan pegawai. Dibagikan sebagai hadiah sebuah permainan, dibagikan begitu saja dan sebagai hadiah rebutan.
Ada acara khusus selfian juga dengan memamerkan produk. Banyak yang berebut selfie dengan pemandu acara, dan penyanyi. Bintang tamunya Marcel Chandrawinata. Wah gilanya murid-murid perempuan meneriakkan nama Marcel ketika artis ganteng itu muncul dari pintu ruangdi lantai dua sambil melambaikan tangan dan menyapa penonton. Sorak-sorai ramai sekali mengiringi Marcel turun dan mengambil alih acara. Tentu saja rebutan selfie tak terkendali. Setelah seorang bintang tamu, penyanyi, mulai menyanyikan lagu berkeliling di tengah lingkaran, dan Marcel mengikuti sambil bergoyang. Banyak yang ingin bersalaman. Tanpa diduga Artis Jangkung itu menarik tangan saya dalam arena. Wah malunya, murid saya berteriak Ibu! Ibu! Saya Buk!
Saya sadar saya paling tua jadi pasti untuk lucu-lucuan, jadi saya sedikit menyesuaikan diri. Waduh gembiranya mereka. Rupanya adegan ini menjadi penutup acara...Marcel mengambil beberapa tas isi minuman disodorkan untuk guru-guru untuk berebut. Saya juga mulai berani ikut berebut gara-gara Marcel hahahah.
Sekarang saya menyesal kenapa ikut rebutan. Kalau nanti ditayangkan di televisi gimana, malu kan?
Syukur acara ini baru akan on air beberapa minggu lagi. Mereka yang kenal saya sudah lupa untuk menonton
Percayalah bahwa sesungguhnya aneka rasa yang kita nikmati itu menjadikan kita kaya rasa. Ahaha....
yah apa lagi yang bisa saya katakan untuk menghibur Anda semua yang sedang gelisah.
Dengar kawan, ada sebuah cerita. Seminggu yang lalu di sekolah kami kedatangan tim Dahsyat, itu acara iklan hiburan di RCTI. Mereka melaksanakan acara Dahsyat tersebut di sekolah kami. Wah serulah....acaranya yang rame-rame begitu. Ada sedikit tanya-tanya, pertunjukan tari bali, dancing, dan ada juga unjuk kebolehan pencak silat. Jangan salah loh tim pencak silat kami berprestasi tingkat internasional. Tiga tahun tiga berturut-turut menjadi juara 1 dan terakhir tahun 2014 menjadi juara umum di Vietnam. Ya sih pencak silatnya juga adopsi dari olah raga beladiri negara tersebut,Vovinam namanya. Acara ini diwarnai dengan promosi produk gitu. Produk minumam berenergi.Tetapi saya tidak mau membantu promosinya di sini. Minuman tersebut dibagi-bagikan pada murid, guru dan pegawai. Dibagikan sebagai hadiah sebuah permainan, dibagikan begitu saja dan sebagai hadiah rebutan.
Ada acara khusus selfian juga dengan memamerkan produk. Banyak yang berebut selfie dengan pemandu acara, dan penyanyi. Bintang tamunya Marcel Chandrawinata. Wah gilanya murid-murid perempuan meneriakkan nama Marcel ketika artis ganteng itu muncul dari pintu ruangdi lantai dua sambil melambaikan tangan dan menyapa penonton. Sorak-sorai ramai sekali mengiringi Marcel turun dan mengambil alih acara. Tentu saja rebutan selfie tak terkendali. Setelah seorang bintang tamu, penyanyi, mulai menyanyikan lagu berkeliling di tengah lingkaran, dan Marcel mengikuti sambil bergoyang. Banyak yang ingin bersalaman. Tanpa diduga Artis Jangkung itu menarik tangan saya dalam arena. Wah malunya, murid saya berteriak Ibu! Ibu! Saya Buk!
Saya sadar saya paling tua jadi pasti untuk lucu-lucuan, jadi saya sedikit menyesuaikan diri. Waduh gembiranya mereka. Rupanya adegan ini menjadi penutup acara...Marcel mengambil beberapa tas isi minuman disodorkan untuk guru-guru untuk berebut. Saya juga mulai berani ikut berebut gara-gara Marcel hahahah.
Sekarang saya menyesal kenapa ikut rebutan. Kalau nanti ditayangkan di televisi gimana, malu kan?
Syukur acara ini baru akan on air beberapa minggu lagi. Mereka yang kenal saya sudah lupa untuk menonton
![]() | ||
| Kru RCTI Bersiap |
![]() |
| Bintang Tamu |
Tidak Semua Hal itu Sebanding
Sebenarnya sebagian kebebasan saya telah terenggut. Artinya sampai sejauh ini saya masih terbebani oleh pekerjaan berat mengurusi kehidupan orang lain selain kehidupan saya sendiri. Sekian lama saya berharap akan terjadi perubahan yang bisa meringankan beban saya. Saya memang ikhlas karena saya tahu dengan keikhlasan semua beban menjadi ringan. Tetapi jika saya pikirkan seharusnya saya tidak perlu mengikhlaskan semua ini karena saya bukan orang yang lebih kuat untuk memikul beban. Dan semestinya beban itu tidak berada di pundak saya.
Terkadang saya seperti menahan sesak di dada. Lalu saya menoleh ke belakang dan bertanya mengapa saya melewati jalan ini. Namun setelah saya berpikir dan membandingkan dengan apa yang terjadi pada perempuan-perempuan lainnya, rasanya beban saya belum berarti apa-apa. Tidak pantas saya mengeluh atau menyesali takdir. Sebaliknya saya bangga bisa bertahan dalam situasi dan kondisi yang tidak menguntungkan kehidupan saya.
Hidup saya terampas, sebelah tangan saya terbelenggu tetapi saya tetap melangkah dan tersenyum lebih baik dari sebagian orang lain.
Saya tidak berputus asa walaupun saya tidak bisa berharap lagi. Saya yang harus merubah pandangan saya, bahwa tidak semua hal itu harus selalu berjalan sebanding. Ada yang kurang harus ada yang lebih jika ingin sebanding. Dan tentu saja memberi kepada yang kurang itu lebih baik daripada menjadi yang kurang.
Rabu, 15 April 2015
Masa Depan itu Hari Ini
Malam ini akan menjadi malam yang tak sama dengan malam-malam kemarin, malam penuh kegelisahan dan sulit tidur. Menunggu sesuatu yang samar antara ada dan tiada, antara yang saya tunggu dan yang saya kesali. Pada malam-malam itu seringkali saya berharap dalam kegelisahan tidur ada orang yang menyapa saya, untuk menandai bahwa dalam malam yang panjang itu saya tidak sendiri.
Malam ini saya ingin mendekap malam dengan sepenuh jiwa. Merasai segala rasa yang mengharubirukan dada saya.
Pesan yang saya terima tadi sangat singkat tetapi cukup meyakinkan saya bahwa hal itu benar adanya. Saya merasakannya sekarang. Dan perasaan ini begitu kuat menekan jiwa saya.
Maybe, sudah takdir saya dalam bahagiapun saya menderita. Kebahagiaan saya kali ini datang tidak tepat waktu, kebahagiaan saya datang terlambat. Sekarang adalah masa depan itu, masa depan saya. sedangkan hari nanti bukan masa depan saya lagi.
Waktu memang lebih berkuasa daripada perasaan manusia. Saya telah kehilangan kesempatan untuk bahagia karena waktu.
i know that it will bear
good fruits in future
Malam ini saya ingin mendekap malam dengan sepenuh jiwa. Merasai segala rasa yang mengharubirukan dada saya.
Pesan yang saya terima tadi sangat singkat tetapi cukup meyakinkan saya bahwa hal itu benar adanya. Saya merasakannya sekarang. Dan perasaan ini begitu kuat menekan jiwa saya.
Maybe, sudah takdir saya dalam bahagiapun saya menderita. Kebahagiaan saya kali ini datang tidak tepat waktu, kebahagiaan saya datang terlambat. Sekarang adalah masa depan itu, masa depan saya. sedangkan hari nanti bukan masa depan saya lagi.
Waktu memang lebih berkuasa daripada perasaan manusia. Saya telah kehilangan kesempatan untuk bahagia karena waktu.
i know that it will bear
good fruits in future
Selasa, 14 April 2015
Malang, 1972
Kawan saya mengirimi saya sebuah puisi panjang berjudul 'Sebuah Catatan Ringan'.
Puisi itu dikirim lewat kronologi facebook saya, tertulis catatan..."hey Bu guru yang hobi sastra..."
Setelah saya baca, isi puisi tersebut ternyata tidak sesuai dengan judulnya. Bagi saya puisi ini bukan catatan ringan. Puisi ini penuh pesan yang terkadang maksudnya sulit saya mengerti. Hal ini disebabkan juga oleh
kronologi puisi yang terputus-putus dan kurang padu.
Tetapi yang jelas bahwa puisi ini dibuat dengan sepenuh hati. Ini tampak pada pemilihan majas yang selektif. Saya patut menghargainya.
Melihat latar belakang waktu dan tempat tertulisnya, sepertinya puisi terkirim untuk mengingatkan saya bahwa pada suatu masa ada sebuah kenangan yang terjadi dan masih menjadi sebuah catatan sampai saat ini. Tertulis di bagian bawah puisi, Malang 1972. Melankolis.
Saya tahu itu catatan tempat dan tahun ketika ia ujian akhir. Juga catatan ia kenal saya dan sekaligus tahun berpisah tanpa saling mengucapkan salam.
Kawan, kisah itu sudah terputus selama 43 tahun. Saya seharusnyaus berterima kasih kepada Mark Zukerberg atas pertemuan ini walaupun tak ada tatap muka. Inilah puisi itu.
“DALAM SUATU CATATAN RINGAN”
Kita kembangkan layar
Cuaca, bukan alasan menikam dada ini
Ketulusan telah diberikan kepada kita, antara
rasa dan noda
Betapa lamanya matahari terpanggang,
dibalik kunang-kunang kala malam telah datang
Kita terlahir, dalam bara onggokan tulang-tulang
Kita rindu, dimana kita pernah bernyanyi
Kita tau, dimana kita pernah bertemu
Kita rela, untuk itu kita berjuang
Kita kenal, sesepuh lambang pigura tanah ini
Kudekap wajahmu bernanah dan berbisa,
sepagi melati layu mengharap dan menatap
Kusentuh tanganmu, tanganmu menyala
Kuraba mulutmu, mulutmu tak bernafas
Kupegang pundakmu, hanya dingin belaka
Kebingungan memang lahir dari suatu yang tak dimengerti
Apakah artinya harap dalam cita-cita yang tak bersungguh ?
Gelitiklah tubuhku, kapan nyawa ini telah pergi ?
Puisi itu dikirim lewat kronologi facebook saya, tertulis catatan..."hey Bu guru yang hobi sastra..."
Setelah saya baca, isi puisi tersebut ternyata tidak sesuai dengan judulnya. Bagi saya puisi ini bukan catatan ringan. Puisi ini penuh pesan yang terkadang maksudnya sulit saya mengerti. Hal ini disebabkan juga oleh
kronologi puisi yang terputus-putus dan kurang padu.
Tetapi yang jelas bahwa puisi ini dibuat dengan sepenuh hati. Ini tampak pada pemilihan majas yang selektif. Saya patut menghargainya.
Melihat latar belakang waktu dan tempat tertulisnya, sepertinya puisi terkirim untuk mengingatkan saya bahwa pada suatu masa ada sebuah kenangan yang terjadi dan masih menjadi sebuah catatan sampai saat ini. Tertulis di bagian bawah puisi, Malang 1972. Melankolis.
Saya tahu itu catatan tempat dan tahun ketika ia ujian akhir. Juga catatan ia kenal saya dan sekaligus tahun berpisah tanpa saling mengucapkan salam.
Kawan, kisah itu sudah terputus selama 43 tahun. Saya seharusnyaus berterima kasih kepada Mark Zukerberg atas pertemuan ini walaupun tak ada tatap muka. Inilah puisi itu.
“DALAM SUATU CATATAN RINGAN”
Kita kembangkan layar
Cuaca, bukan alasan menikam dada ini
Ketulusan telah diberikan kepada kita, antara
rasa dan noda
Betapa lamanya matahari terpanggang,
dibalik kunang-kunang kala malam telah datang
Kita terlahir, dalam bara onggokan tulang-tulang
Kita rindu, dimana kita pernah bernyanyi
Kita tau, dimana kita pernah bertemu
Kita rela, untuk itu kita berjuang
Kita kenal, sesepuh lambang pigura tanah ini
Kudekap wajahmu bernanah dan berbisa,
sepagi melati layu mengharap dan menatap
Kusentuh tanganmu, tanganmu menyala
Kuraba mulutmu, mulutmu tak bernafas
Kupegang pundakmu, hanya dingin belaka
Kebingungan memang lahir dari suatu yang tak dimengerti
Apakah artinya harap dalam cita-cita yang tak bersungguh ?
Gelitiklah tubuhku, kapan nyawa ini telah pergi ?
Saat ini kita berada dalam hujan diburu malam
Lambat pelan diburitan suaramu mengalun lamban
Sebentar lagi kita kan lalui, ombak yang menggunung
laut jarang ditempuh
Sebelum berangkat, periksa kapalmu
Tanyakan juru mudi dan siapa kapitanmu
Dan siapa pula penumpang-penumpangmu
Malam ini kita bertemu dalam suatu tanda silang
Engkau dengar, Mesin kapal menggegap gempita ?
Batu-batu laut pada berserakan, karena getaran mesin ini
Hantu-hantu laut pada membuat ranjau
Dimana kita kan lalui
Engkau lihat, sinar cerlang cemerlang
yang berkekuatan tanpa ukuran ?
Ia akan hilang kapan kau mengukur dengan mata,
mata itu palsu
Kali ini kita bersua, pada garis demarkasi yang menentukan
dan, Kita berbisik bukan pada muka, tapi pada hati
Karena hati lebih dahsyat dari bom seribu megaton
Karena hati lebih ampuh dari segalanya
Peluit sudah berbunyi, layar sudah berkembang
Sebentar lagi kita akan berangkat dan berangkat
Kita akan berangkat
dan berangkat
Dalam menuju suatu cita
Selamat jalan !
Malang, Juli 1972
Lambat pelan diburitan suaramu mengalun lamban
Sebentar lagi kita kan lalui, ombak yang menggunung
laut jarang ditempuh
Sebelum berangkat, periksa kapalmu
Tanyakan juru mudi dan siapa kapitanmu
Dan siapa pula penumpang-penumpangmu
Malam ini kita bertemu dalam suatu tanda silang
Engkau dengar, Mesin kapal menggegap gempita ?
Batu-batu laut pada berserakan, karena getaran mesin ini
Hantu-hantu laut pada membuat ranjau
Dimana kita kan lalui
Engkau lihat, sinar cerlang cemerlang
yang berkekuatan tanpa ukuran ?
Ia akan hilang kapan kau mengukur dengan mata,
mata itu palsu
Kali ini kita bersua, pada garis demarkasi yang menentukan
dan, Kita berbisik bukan pada muka, tapi pada hati
Karena hati lebih dahsyat dari bom seribu megaton
Karena hati lebih ampuh dari segalanya
Peluit sudah berbunyi, layar sudah berkembang
Sebentar lagi kita akan berangkat dan berangkat
Kita akan berangkat
dan berangkat
Dalam menuju suatu cita
Selamat jalan !
Malang, Juli 1972
Langganan:
Postingan (Atom)










