Sabtu, 11 Oktober 2014

Sajak Cendawan

Aku masih menunggu
kamu akan menyebutku
Sunset di Labuan Bajo 2010
dalam rangkaian bahasa berbisa
serumpun cendawan pada pokok tua

Katamu, daun memori akan jatuh
dan kau akan mengumpulkan satu demi satu
hari ini, besok dan seterusnya
demi harapan hari depan yang indah bersama

Aku adalah daun kering
yang mengganggu
setiap kali aku terbawa angin
dan jatuh di dekat kakimu

Adakah artinya aku menunggu
ketika malam menutup senja
dan angin akan kembali ke laut bebas
tak berpaling pada segala yang ada



Jumat, 10 Oktober 2014

Doa Akhir Pekan


Selamat berakhir pekan kawan, semoga hari Anda menyenangkan.
Di sini saya belum bisa menikmati akhir pekan dengan santai karena masih harus bekerja Minggu besok.
Sebenarnya sangat ingin berakhir pekan bersama Anda di situ  tetapi ada batas yang sangat tegas di antara saya dan Anda.

jadi biarkan saja hari indah ini berlalu dan tinggalkan saya dalam asyik masyuk dengan tumpukan buku ini.
Kesenangan Anda hari ini kesenangan saya juga. Selamat bermalam minggu.
 

Selasa, 07 Oktober 2014

Harga untuk Kata-Kata

Pagi ini secangkir kopi saya harapkan mengurangi rasa dingin akibat gejala flu yang mulai saya rasakan. Sepertinya memang ada hasilnya sehingga saya sudah melepas mantel dan merasakan udara yang mengalir segar.

Kawan, saya masih berpikir tentang kalimat-kalimat puitis itu. Jadi teringat masa remaja dulu bahwa saya pengagum penyair-penyair romantisme. Tetapi waktu sudah berganti, ada rasa segan bicara lagi tentang romantisme, walaupun hati saya masih sering berbicara sendiri tentang hal itu.

Mendapatkan kenikmatan itu bisa dengan cara yang murah dan mudah bahkan terkadang gratis.
Membaca kalimat-kalimat indah termasuk cara mendapatkan kenikmatan bahkan kebahagiaan tanpa membayar. Sederhana kan. Karena itu saya sangat menghargai kata-kata yang baik seseorang apabila itu merupakan ucapan yang tulus. Dan saya terus mengenangnya.
Sayang, pada akhirnya saya harus menunggu sampai pada akhirnya kata-kata itu menghilang dikubur waktu, tanpa saya kenali kata itu sebagai kata yang terakhir.




Yang Baik bagi Mereka

Cahaya bulan memenuhi cakrawala. Pemandangan bangun atap-atap gelap tegas di bawah warna abu-abu. Malam jadi sunyi walaupun semilir musim kemarau sudah memberi kelembutan.
Rasanya hidup ini sudah berabad-abad saya jalani tetapi tidak sampai juga di ujungnya.
Saya memang merasa belum siap mencapai ujung. Terlalu banyak kesalahan yang belum saya perbaiki.

Jika suatu hari saya mati, mungkinkah saya akan sampai pada-Nya?


Bibir Kawah G Ijen 2014
Saya sering menanya, kesalahan saya yang manakah yang membuat peruntungan saya terkadang menyakitkan. Saya seperti mengangkat beban yang lebih berat dari tubuh saya. Berjalan dengan kaki penuh luka tetapi terus melangkah.

Begitu lama saya berharap ada perubahan, tetapi rasanya semua percuma. Saya tetaplah saya yang tak pernah terlihat ada.

Karenanya saya merasa sepi dalam ketidakadilan hidup saya. Rasa iri sering mengusik jika berpikir tentang nasib orang lain.
Tetapi pada akhirnya saya menyadari, setiap orang mendapatkan peruntungnnya masing-masing. Sesuatu yang baik pada mereka mungkin tak akan menjadi baik bagi saya.

Selamat malam pembaca.

Minggu, 05 Oktober 2014

Malam Membentang



Malam membentang, pikiran larut dalam satu pencarian, sesuatu yang saya tahu tak akan saya temukan lagi. Kecuali jika takdir mau bicara.
Sebenarnya tidak semua pencarian harus berakhir dengan penemuan. jadi biarkan saja pikiran menikmati kebebasannya di mana pun dia berada, tanpa terbebani oleh satu keinginan.

Seperti yang sudah diajarkan kepada kita tentang nasib, bahwa tak ada perubahan nasib jika kita tidak mau merubahnya. Saya telah mengubah  nasib itu, mengubah sejarah.

pembaca,
jangan abaikan permulaan sejarah karena banyak hal tak terduga  terjadi karena kita salah memulai.
Dan ketika ada yang salah dalam sejarah, terlalu sulit untuk menghapusnya. Seperti orang bilang, menghapus tulisan itu mudah, begitu juga menghapus noda tetapi menghapus kesalahan sangat sulit. Ada konsekuensi yang harus diterima.

Bedugul suatu Pagi

Jumat, 03 Oktober 2014

Ruben Kiven

Sore, 2 Oktober saya mendapati sebuah pesan baru di facebook dari Ruben Kiven. Orang yang tidak saya kenal tetapi tak menjadi masalah bagi saya. Saya sudah menjawab petemanannya minggu lalu.

Pesannya kali ini membuat saya terkesan. Dengan kalimat yang mirip bahasa mesin penerjemah, tersurat rangkaian kata yang membuat hati saya pilu. Seperti larik dalam puisi.

Saya berpikir bahwa apa yang kita pikirkan tentang sesuatu bisa berbeda dengan pikiran orang lain, tetapi  yang kita rasa bisa sama. Ya, rasa memang berbicara tentang kemanusiaan yang lebih universal dibandingkan dengan pikiran.
Saya memahami puisi itu tetapi saya tidak bisa menerima hal yang bertolak belakang dengan keadaan yang sebenarnya.
Walau begitu saya sudah mendapatkan hal positif dalam pesan itu. Semangat baru telah ditularkan kepada saya dalam menghargai hidup ini..



Thank you so much Ruben.

Merangkai kenangan di Desa Adat Penglipuran Bangli

Tanggal 26 September lalu, kegiatan rehat di tengah semester menjadi acara yang cukup menyenangkan. Bersama murid dan sejawat kami melakukan perjalanan ke Desa Adat Panglipuran di kabupaten Bangli. Walaupun ini merupakan kunjungan yang ke sekian kalinya bagi saya, tetap saja acara ini menyenangkan.


Berat rasanya meninggalkan moment seperti ini. Apalagi murid-murid saya seperti sangat menyintai saya. Mereka selalu mencari perhatian di mana pun bertemu saya. Meminta foto bersama, atau meminta saya mengambil fotonya, meminta ditraktir, mengikuti saya dsb. Atau terkadang memanggil-manggil nama saya agar saya menoleh.

Di sekolah, seringkali saya menyelinap apabila melewati kelas-kelas tertentu saat jam istirahat, karena saya tahu mereka akan serentak memanggil nama saya dan melambai-lambaikan tangan. Dan I love you Buk menjadi satu paket dengan jawaban saya Love you too, dan tampak mereka gembira sekali.
Itukah yang harus hilang dari saya?