Minggu, 16 Maret 2014

Selamat Jalan


                                         
                                         
                                             Kali ini hanya sepi
                                             memagut sunyi

                                            Segala mengabur dalam hampa
                                            Tak ada lagi cerita
                                            terkubur  sejarah yang sia-sia

                                            Kali ini hanya sepi
                                            bertumpuk kata hilang percuma
                                            bertumpuk cerita tanpa suara

                                            Malam terbenam
                                            meninggalkan pesan
                                            menghapus luka

                                           Pada deru angin
                                           pada dingin malam aku ucapkan
                                           Selamat Jalan!



Selamat Jalan, Kembalilah ke Rumah jika Letih sudah Mengganggu.


Petang menjelang dan angin berhembus sejuk. Sangat segar badan setelah tidur panjang di hari Minggu. Hari ini saya kesunyian kawan. Si bungsu saya sudah kembali ke Surabaya. Seperti dalam angan-angan saja dia hanya satu malam di rumah. Saya senang raut wajahnya segar dan sehat walaupun dia pulang dengan motor. Saya menyiapkan bekal yang dimintanya, dua kotak nasi untuk makan di jalan.

Saya tanyakan kepadanya apakah dia senang menjadi pegawai negeri dengan gaji yang hanya cukup untuk hidup sendiri saja. Dia katakan senang dan betah. Saya selalu memikirkan kemungkinan kekecewaannya karena sebelumnya dia bisa mendapatkan lebih dari lima kali gajinya sekarang setiap bulannya sehingga bisa mengunjungi berbagai tempat wisata di beberapa pulau. Kini ia hidup sederhana di rantau. Saya bersyukur, ternyata dia bisa menikmati segala keadaan ini dengan senang hati. Dan kini dia sedang merintis cita-cita untuk mendapatkan bea siswa untuk pendidikan ke luar negeri. Saya berdoa Tuhan meluluskan cita-citanya. PNS di LAPAN tidak sebanyak PNS di Kementerian lain. Kesempatan untuk maju masih ada. Perekrutan pegawai dilakukan oleh pusat. Hanya ada beberapa kantor saja di seluruh Indonesia. Jam kerja sama dengan PNS tetapi tidak menggunakan seragam dinas. Dia sangat senang bekerja di bagian yang sesuai dengan pendidikannya.

Sementara ini ITS menjadi harapan dalam waktu dekat untuk pendidikan S2-nya.
Selamat jalan, selamat kembali mengais rejeki, selamat kembali ke rantau.
Pulanglah ke rumah jika sudah terlalu letih. Mari kita berkumpul sejenak menghabiskan sedikit malam bersama-sama.


Rabu, 12 Maret 2014

Terbanglah Pesawatku





Selamat malam pembaca.
Hujan yang dinanti-nanti sudah turun sore tadi. Udara panas beberapa minggu ini sedikit berkurang walaupun belum terasa sejuk. Orang bilang setitik air pun bisa melepas dahaga di padang gersang, apalagi ini, berapa galon air yang sudah tercurah saat ini pasti sangat menyenangkan siapa pun juga. Bahkah bagi tanah dan tumbuhan. Mereka sudah berharap-harap
agar bisa bernafas dan bersemi kembali.

Hujan tidak cukup lama dan tidak deras sekali. Biasa-biasa saja.
Sekarang suhu udara sudah meningkat lagi, 27 degree. Baru saja saya membuka jendela lebar-lebar memandangi bintang-bintang dan mencari angin. Saya lihat lampu pesawat terbang berkelip-kelip menarik perhatian. Saya tersenyum seakan mendengar dia berkata "Saya terbang dulu ya"

Kemanakah dia terbang sekarang? Ke belahan bumi yang lain? Terbanglah pesawatku selagi bisa terbang, jelajahilah semua sudut dunia yang kamu suka. Selamatlah kamu sampai kembali lagi. Dan pesawat itupun menghilang lalu saya menutup jendela lagi.

Mohd Zain di Gunung Bagging Website


Yang pasti saya senang, sekecil apapun apresiasi terhadap apa yang saya posting di sebuah website.Selalu menyenangkan.
Saya mendapati sebuah email yang terkirim tanggal 10 Maret lalu dari Gunung Bagging Indonesian Hiking website. Seorang pecinta gunung dari Kuala Lumpur menulis komentar untuk sebuah foto yang berjudul  After Sunrise at Summit of Mount Rinjani 3725 m 2013, yang saya posting di website tersebut beberapa waktu lalu.
Zainul Asri Mohd Zain memberi apresiasi dengan like dan menulis komentar "One of Indonesia best mountain. A must visit for the hikers!"
Selanjutnya saya membalas komentarnya dengan asal-asalan, "That's right, the amazing summit with Anak Gunung Rinjani in volcano lake."


Inilah Foto Itu

Memperhatikan lagi foto ini saya jadi terkenang betapa menyenangkannya pendakian itu. Seolah saya memiliki segalanya dalam akhir kehidupan saya. Persaudaraan di ketinggian gunung ternyata lebih dari segala persaudaraan biasa. Toleransi dan kepedulian yang tinggi antar satu sama lain tak peduli kesulitan diri sendiri sudah sangat terasa.

Zainul juga memposting sebuah foto pegunungan di Samosir dengan judul Mount Naboratan, Samosir Island.
Andaikan penyuka foto saya tahu, saya ini seperti apa, mungkinkah foto yang saya kirim itu masih menarik perhatiannya?
Bagi pecinta alam yang sesungguhnya mungkin.

Senin, 10 Maret 2014

Kawan Lama


Saat ini saya sedang chatting dengan kawan lama. Dia memulai dengan "Good morning here, love you be strong for today Ma."
Dan jawaban saya adalah "Good afternoon here girl, love you too."

Dia sedang patah hati. Bulan lalu mengabarkan bahwa ia baru memutuskan pacarnya karena pria pujaannya itu hanya mengambil keuntungan saja darinya. Gadis ini selalu berkabar pada saya tentang apa saja. Kami memang beda usia tetapi saling membutuhkan komunikasi untuk mengisi kesepian. Pertemanan jarak jauh dan tanpa pamrih inilah yang membuat kami bebas dan merasa tidak saling mengganggu kapanpun, dan dimanapun kami berada. Dan tidak tahu juga sampai kapan kami bisa bertahan. Rasanya waktu sudah membuktikan bahwa dialah kawan obrolan tanpa mengenal kadaluarsa.

Saya senang dengan apa saja yang diceritakan. Sayang tidak satu kalipun ia mengirim foto tentang keluarga, tempat kerja atau tanah airnya. Padahal setiap kali ia mau tahu tentang saya, saya selalu mengirim foto.
Tetapi bagi saya hal itu tidak terlalu penting. Pertemanan ini sudah cukup menyenangkan.

Tampaknya ia sedang sibuk lagi, baiklah saya juga mau undur diri, ada satu tugas yang harus saya selesaikan segera setelah mandi sore ini, bye.

Minggu, 09 Maret 2014

Menulis Apa Bicara Apa





Ada saatnya kita bisa banyak bicara, ada saatnya kita sulit bicara. Ada saatnya kita mabuk menulis,ada saatnya kita sulit menulis. Karena saya tidak bisa menuliskan, karena saya tidak bisa membicarakan apa yang ada di pikiran saya, jadinya ya begini-begini saja.

Aneh, yang begini-begini masih saja saya gemari. Padahal masa kecil saya dulu sudah bahagia he he he. Ya ya apa maunya mata saya, tangan saya, pikiran saya sajalah yang penting oke.

Pembaca, baru saja terjadi gempa ketika saya mulai bermain-main di layar ini. Tidak begitu besar, kurang dari 5 skala Reichter (tulisan benar pa gak)rasanya tetapi saya berlari juga walau tak saya lanjutkan sampai ke pintu. Gempa di sini sudah biasa, kalau cuma kecil-kecil sudah setiap tahun terjadi beberapa kali. Katanya ini baik juga khan, agar tidak terjadi tumbukan yang keras jika pergeseran bumi terlalu jauh. Bersyukurlah saya hidup di Tanah Air Tercinta ini yang punya berbagai ragam fenomena alam (jangan bencana alam.)
Agar kita selalu ingat bahwa di balik fenomena alam ada ilmu pengetahuan untuk kita agar bisa menjadi bangsa yang lebih baik dan kuat.Ehm
Selamat malam.

Senja di Bulan Maret






Senja di bulan Maret selalu indah dalam kenangan. Kemarin, hari ini dan nanti senja terus terjadi dan bercerita tentang segalanya. Walau bunga belum mekar dan dedaunan belum bersemi, tetapi keindahan  awan jingga menandai bahwa hari akan segera beristirahat.

Pembaca, Anda bisa saja melewatkan detik-detik matahari tenggelam tanpa makna, tetapi saya tahu sesungguhnya detik-detik itu sangat bermakna.
Bagaimana Anda bisa merasakan perbedaan  antara suasana matahari tenggelam dan matahari terbit dan menerjemahkannya sebagai tanda bahwa itu adalah perubahan  abadi. Itulah maknanya.

Perubahan itu tidak sama dengan bagaimana manusia bisa merekayasa hujan atau memecah gelombang. Tidak akan sama dengan perubahan iklim di bumi. Perubahan siang menjadi malam adalah perubahan yang paling konsisten. Sama dengan perubahah umur manusia.


Jika suatu saat nanti bumi tidak berputar pada porosnya, keabadian itu akan berakhir. Jika suatu hari jiwa manusia meninggalkan raganya, itulah akhir dari perubahannya.