Senin, 04 November 2013

Terima Kasih untuk New Follower Rizka Ardika



Setelah  tiga hari saya tidak menemukan blog saya sendiri, sore ini saya menemukannya kembali. Syukur tak terhingga karena semalam saya sempat kecewa berat. Mula-mula google tidak bisa menenmukan blog saya dengan alasan seseorang sudah menghapusnya. Dan semalam yahoo dan blogger juga tidak bisa menampilkan blog saya. Saya berpikir, habis sudah riwayat saya.  16.497 kali penayangan dengan mengumpulkan tujuh  pengikut, bukan hal yang mudah bagi saya karena saya tidak masuk ke dalam lingkaran followers. Lebih dari tiga tahun sudah saya mempertahankannya dan memerangi kebosanan menulis. Jadi munculnya blog ini lagi sungguh membuat saya sangat senang. Banyak cerita dan gambar tentang perjalanan terakhir saya kedaluwarsa. Tetapi seperti kata pepatah lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Jadi saya akan melanjutkan dan mengedit lagi cerita minggu lalu di Kepulauan seribu.

Saya gembira, ada satu pengikut lagi pada awal bulan November ini, Rizka Ardika. Tidak terduga Rizka bisa berjumpa dengan blog Ini Yang Aku Tulis.
Melalui postingan ini saya juga mengucapkan terima kasih atas partisipasinya.


Coklat Oleh-Oleh dari Belgia

Jumat, 01 November 2013

Hari Kedua di Kepulauan Seribu


P Tidung
Meninggalkan  Pulau Tidung
Kami pulang pada hari berikutnya dengan kapal Kerapu. Kapal ini bermuatan 25 orang penumpang saja. Dari pulau Tidung jumlah penumpang tujuh belas orang dan selebihnya adalah jatah untuk pulau lainnya. Waktu tempuh satu setengah jam saja, jadi lebih cepat satu jam dibandingkan dengan kapal motor Kurnia. Untuk mendapatkan tiket kami harus antre sejak pagi. Ada dua kali penyeberangan dengan kapal ini yaitu pada jam Sembilan pagi dan jam dua sore. Begitu juga dengan penyeberangan kapal motor biasa, Hanya saja jam penyeberangan berbeda. Selain kedua kapal ini masih ada kapal cepat.




P Payung

 
Mampir di P Lancang Besar



 
Muatan dari P Lancang Besar


Rute kapal Kerapu dari Pulau Tidung adalah Pulau Payung, Pulau Lancang Besar dan Pulau Untung Jawa. Dari pulau Lancang Besar ada satu penumpang dan dua petugas Dinas Perhubungan yang naik. Mereka juga membawa muatan tiga karung kecil ikan teri. Muatan itu diletakkan di moncong kapal dengan diikat pada pagar depan kapal. 
Mendekati Jakarta, banyak  sampah mengapung di laut. Sampah-sampah  hanyut  menjauh dari Jakarta dan berlari cepat di kiri kanan kapal berlawanan arah. Beberapa kali tampak burung sedang bertengger di potongan sampah dan berayun-ayun mengikuti arus gelompang. Ada pemandangan lain, yaitu sebuah perahu nelayan yang compang camping sedang melaut. Perahu itu diikuti sekumpulan burung camar yang terbang berkeliling mengitari perahu. 


 
Perahu Nelayan



Pelabuhan Muara Angke
Umumnya perahu-perahu nelayan yang saya lihat di sini adalah perahu yang sangat sederhana yang kurang dicintai pemiliknya. Sangat kontras dengan perahu nelayan di Jawa Timur, khususnya di Pelabuhan ikan Muncar. Perahu dan kapal-kapal nelayan di Muncar sangat pesolek dan memikat dengan tiang-tiang layar yang tinggi dihiasi bendera  warna-warni dan dilengkapi asesoris yang  menarik. Memberi pemandangan keramahan dan rasa percaya diri. Bukan pemandangan kemiskinan dan penderitaan seperti yang terlihat di pelabuhan nelayan Muara Angke.
Jam sebelas siang kapal merapat di pelabuhan umum Muara Angke. Pelabuhan ini sepi, selain itu panas dan kotor di mana-mana padahal rancang bangun dan penataannya  cukup praktis. Di sini juga tampak ada antrean di depan loket dengan cara yang  sama seperti antrean di pulau Tidung, yaitu dengan meletakkan tas berbaris  sesuai nomor urut antrean.

Tarip Penyeberangan Kepulauan Seribu

Begitu sepinya pelabuhan ini membuat segala gerak dan gaya kami saat menunggu jemputan selalu menjadi perhatian, termasuk oleh petugas yang tampak tidak ada kesibukan selain duduk-duduk dan merokok.
Kami meninggalkan pelabuhan Muara Angke jam 11.30, setengah jam setelah merapat dan sampai di Bekasi sekitar jam dua sore. Letih yang sangat tetapi puas dan kami berjanji suatu saat nanti ingin mengulanginya.
Terima kasih Tuhan saya masih bisa menikmati pengalaman ini walaupun dengan kondisi kaki yang tidak sehat.

Begitulah perjalanan kami di Kepulauan Seribu, selanjutnya bertiga kami meninggalkan  Bekasi  menuju kota kelahiran dengan bus.  Sesampainya di kota Rembang bus yang kami tumpangi mogok. Dan kami dioper ke kendaraan minibus dua jam kemudian. Wah tamasyanya jadi bertambah karena kami sempat jalan-jalan membeli makanan di pasar yang tidak jauh dari tempat bus mogok. Adik saya iseng berceloteh, dari Belgium ke Jakarta dengan pesawat, dari Jakarta pulang dengan bus lalu menurun lagi dengan minibus. Saya menyahut, itu karena kita berenang-renang dahulu baru berakit-rakit kemudian. Kami tertawa saja dan tak ada seorangpun penumpang yang mengeluh. 
Besok malam saya harus balik ke Bali lagi dan habislah liburan saya.
 

Selasa, 29 Oktober 2013

Perjalanan di Kota Tua dan Kepulauan Seribu

Pelabuhan Nelayan Muara Angke
Perjalanan kali ini saya lakukan untuk mengisi libur Hari Raya Galungan dan Kuningan di Bali.

Liburan ini sudah saya rencanakan tiga bulan lalu dengan tiket pesawat promo Denpasar-Jakarta. Ada beberapa acara yang terencana selain berwisata,   yaitu menyelesaikan satu urusan di kantor BKN, menyaksikan keberangkatan sulung saya ke Jepang dan bertemu dengan adik yang baru kembali dari Belgium dan bersilaturahim dengan kerabat. Setelah semua urusan selesai, kami melanjutkan dengan acara wisata.












Wisata  yang pertama adalah ke Kota Tua, museum wayang, lalu ke pelabuhan Sunda Kelapa dan museum Bahari. Selanjutnya ke Setasiun Kota  dan pulang dengan kereta commuter menuju ke stasiun Bekasi. Perjalanan di Jakarta selalu melelahkan bagi saya dan membuat saya tidak ingin kemana-mana lagi.

 

Dua hari kami mengganggur di rumah. Cuaca yang panas membuat kami malas keluarHanya pada malam hari kami jalan-jalan sekitar kompleks perumahan. Namun pada akhirnya saya memutuskan  untuk jalan-jalan ke kepulauan Seribu dengan tujuan Pulau Tidung. Malam hari kedua adik saya memastikan ikut. Jadi Sehabis subuh, Senin, kami berangkat dengan mobil ke pelabuhan nelayan Muara Angke.

Menunggu Waktu

Jam 07.20 WIB, kapal Kurnia yang kami tumpangi berangkat dengan muatan penuh. Cuaca tenang dan nyaman. Kapal kayu itu melaju dengan cepat membawa para penumpang yang santai menikmati perjalanan laut itu.  Jam 10.50 kapal mendarat di Pelabuhan P Tidung. 

 

Pertama memasuki pulau ini kami sedikit kecewa karena serasa tidak berada di pulau wisata. Rumah penduduk yang berhimpitan memenuhi pulau. Jalan paving yang tidak rata selebar dua meter menjadi satu-satunya jalan yang membelah perkampungan di pulau itu. Kami langsung mencari lokasi objek wisata sambil melirik rumah-rumah yang disewakan.

Tujuan pertama adalah menuju arah jembatan Cinta yang terkenal itu, serta mencari lokasi snorkling. Di dekat jembatan ada dua tempat persewaan peralatan snorkling. Kami langsung saja menyewa dan mengenakan pakaian itu karena kami tidak membawa snorkl. Kami segera menuju ke laut bersama seorang pemandu dengan banana boat. Kami bermain air sampai jam dua siang. Setelah itu barulah kami mencari penginapan.

 

Penginapan Kami


Malam ini kami menginap di penginapan Alvin Pulau Tidung.  Homestay ini menghadap laut lepas sehingga pemandangan lebih bebas dibandingkan dengan penginapan-penginapan lain di rumah penduduk yang berjejal di sekitar pelabuhan. Pulau ini kecil memanjang dari barat ke timur dengan luas pulau menurut salah seorang penduduk 6 kilometer persegi.
Dalam snorkling  tadi pagi kami bergabung dengan dua orang lainnya dan seorang pemandu. Namanya Untung. Pemuda 27 tahunan yang mempunyai cacat fisik yaitu lengan kirinya lebih kecil dari lengan kanannya. Tetapi sangat supel dan penuh perhatian selalu menemani dua peserta pemula sampai selesai.


Bersiap ke Area Snorkling


Pasukan Katak Berangkat



Perairan Pulau Tidung memang bagus untuk snorkling karena airnya sangat jernih dengan pasir warna putih. Di kedalaman air tampak biru kehijauan dan dasar laut yang  ditutup oleh terumbu karang. Sayang di perairan dangkal sekitar Jembatan Cinta terumbu karang itu rusak parah. Karang-karang yang remuk dan mati seperti batuan kerikil yang menumpuk dan berserakan di dasar laut. Hanya ikan karang yang tampak di sana. 
 
Add caption
Pada kedalaman 1 sampai 10 meter  masih tampak terumbu karang yang masih utuh walaupun sebagian juga sudah mati. Di situ ikan zebra yang lucu berseliweran di sekitar kami. Dan ada ikan berwarna hijau, saya menamainya ikan tentara, sangat jinak dan tampak sengaja mendekat dan bermain-main dengan lucunya.
Pemandu senang ketika saya kegirangan di kerubuti ikan-ikan cantik yang sedang mencari remah roti yang ditebarnya.
Sore harinya kami jalan-jalan melintasi Jembatan Cinta menuju Pulau Tidung Kecil sambil foto-foto. Kami ketemu Untung dan menitipkan sepeda kepadanya.
Ketika senja jatuh dan langit kemerahan, kami meninggalkan pulau Tidung  kecil dan pondok apung yang tampak sepi dan menakutkan seandainya kami menginap di sana.
Pemandangan sunset lebih indah dari yang sudah kami saksikan. Sunyi yang dalam dan kami menyusuri jembatan cinta tanpa cinta.

Malam hari di sini sepi kawan, berbeda dengan malam-malam di Pulau Gili Trawangan yang riuh.  Di sini tidak ada Party seperti di Gili Trawangan, tetapi ada suara musik dangdut di beberapa tempat.  Di depan tempat kami menginap ada pos untuk kumpul-kumpul keluarga. Malam ini sekumpulan orang sedang bersantai di sana sambil berkaraoke dengan lagu dangdut.
Suami dan adik-adik bergabung dengan mereka duduk di kursi panjang mengelilingi meja persegi . Ternyata Untung juga ada di sana. Saya hanya duduk di teras memperhatikan mereka dari kejauhan sambil menikmati hembusan lembut angin malam.

Perjalanan di P Tidung hari ini belum tuntas. Begitu melelahkannya bermain di air tadi pagi sehingga pada siang hari tadi kami semua tertidur cukup lama di penginapan.


Minggu, 27 Oktober 2013

Terima Kasih untuk Saudari Susilowati Kastanya




Mendekati akhir Oktober 2013, saya mendapati pengikut baru di daftar member blogs, dengan identitas nama Susilowati Kastanya. Sayang saya tidak mendapatkan identitas lain seperti profil atau alamat email.

Terima kasih untuk Saudari Susilowati, saya senang Anda mau menjadi pengikut blog Ini Yang Aku Tulis.  Perhatian Anda menjadi semangat baru bagi saya untuk tetap menulis. Hanya lewat postingan ini saya bisa menyampaikan ucapan terima kasih saya. Salam persahabatan untuk Anda.

Minggu, 20 Oktober 2013

Selamat Berjuang, Semoga Berhasil

5 Free Apps and sites dan Webinar for Animation Tulisan Richard Byrne sudah mendahului postingan hari ini pada dua dan satu jam yang lalu. Hebat, ini baru permulaan untuk hari ini.

Beberapa hal yang semi hebat juga terjadi hari kemarin. Pertama, Pengumuman dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional, LAPAN, tentang penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil, si bungsu mendapat peringkat satu pada saringan pertama. Beberapa menit kemudian Lembaga Ilmu pengetahuan Indonesia, LIPI memberitahukan berita yang sama, walau hanya peringkat delapan belas. Hari ini ia berangkat ke jakarta untuk berjuang lagi di antara peserta psikotes besok pagi.

Tidak hentinya setiap saat ketika saya ingat, saya selalu berdoa semoga ia berhasil. Ini perjuangan keduanya setelah wisuda tiga tahun lalu, ia lulus di PPS BRI. Dan setelah tiga tahun dijalani ternyata pekerjaan itu tidak membuatnya nyaman. Banyak rahasia perbankan Indonesia yang dia tahu. Aneh bagi saya, jika hanya dengan alasan pekerjaannya berdekatan dengan riba ia mengundurkan diri. Padahal PPS telah mempersiapkan kariernya sebagai calon pemimpin Bank. Sebenarnya kami sedih dan menyesali keputusan itu tetapi yang terbaik adalah apa yang membuatnya nyaman bekerja. Akhirnya kami hanya mendoakan agar ia berhasil menemukan pekerjaan yang sesuai.
Selamat berjuang Bungsu, semoga kali ini pekerjaan yang diinginkan akan didapat. Dan seandainya Tuhan belum menghendaki jangan berputus asa. Jalan di depan masih lapang selama kita terus berjuang. Amin.





Sabtu, 19 Oktober 2013

Tidak ada Semangat Terbarukan

Siang ini suhu udara masih panas, 32 derajat Celcius pada jam sebelas. Tetapi tiupan angin seringkali menguraikan panas sehingga udara sedikit sejuk untuk berada di dalam kamar.

Setiap kali saya membuka blogger, saya selalu menyempatkan diri membuka daftar bacaan dan membaca postingan blogs yang saya ikuti. Hari ini yang baru adalah post Ayo Menulis, Waroeng Pak Yeh dan Free Technology for Teachers.
Saya acungi jempol untuk Free Technology for Teachers yang hampir setiap hari memosting tulisan. Bahkan bisa setiap jam. Ini prestasi luar biasa, dalam setiap bulannya Richard Byrne menulis rata-rata lebih dari seratus postingan.

Salah satu blogger khusus pemosting foto yang saya gemari, Consolo Mirarte sudah satu tahun lebih tidak ada postingan sama sekali. Saya berpikir tentang sesuatu padanya. Sedang Give the Emperor, Anne Artist, juga mulai redup seperti halnya saya juga. Kebosanan.

Tidak ada energi terbarukan yang mampu menggerakkan semangat saya seperti dulu. Tulisan-tulisan ini seolah hanya perwujudan tanggung jawab yang harus saya lakukan untuk mengisi blog yang sudah saya buat. Saya ingin ada semangat baru yang bisa memulihkan energi  untuk totalitas tulisan saya.
Perjalanan ke tempat yang baru? Mungkin saja, sayang perjalanan saya yang akan datang mungkin tidak membawa oleh-oleh istimewa karena saya hanya ke Jakarta.



Safana di Kaki Rinjani

Jumat, 18 Oktober 2013

Cuaca Panas Hari ini

Cuaca hari ini kelewat cerah dan suhu udara  tinggi. Sejak permulaan jam belajar saya sudah merasa gerah dan haus. Sedikitnya udara yang bergerak menambah ketidaknyamanan kami dalam belajar, sehingga semua kegiatan menjadi lamban dan malas.

Dengan terpaksa saya katakan pada siswa bahwa pelajaran baru tidak bisa dimulai dan  kegiatan hari ini adalah menyelesaikan pekerjaan  minggu lalu di kelas. Yaitu dengan menyempurnakan segala kekurangannya.
Saya periksa beberapa pekerjaan dan ternyata hampir semuanya ada kesalahan. Selanjutnya saya minta mereka membetulkan kesalahan yang sudah saya tandai.
Ada seorang murid tidak terima setelah beberapa kali masih terdapat kesalahan. Saya kesal juga dan saya katakan dengan sedikit marah, bahwa yang saya lakukan adalah demi mereka bisa. Saya katakan juga untuk apa saya bersusah payah mengoreksi sedemikian rupa kalau bukan untuk membantu mereka  untuk bisa.

Melaporkan hasil observasi memang tidak mudah dan memerlukan ketelitian serta objektivitas. Dan itu yang mereka belum bisa.

Udara semakin panas pada jam pelajaran terakhir. Rasanya muka terbakar saat pulang ke rumah dan selesai makan langsung saya ke kamar.
Hmm ada sapaan di Yahoo Messenger di Handphone saya, sayang pada akhirnya saya sedikit kecewa juga.