Jumat, 09 November 2012

Masihkah Bisa Dikatakan




Hari ini warna basah melumuri tanah dan rumput. Gerimis meninggalkan aroma tanah yang basah. Saya tidak bisa jalan pagi karenanya. Tinggallah sunyi di antara gemerisik rintik hujan. Dan waktu terasa sangat lamban berjalan.

Senja, akhirnya mempertemukan rindu. Kerinduan yang ada di antara langit dan bumi. Meskipun keduanya adalah nisbi, yang hanya bertemu di batas maya horison.

Tak adalagi yang bisa dianggap sungguh-sunguh dalam percakapan antara langit dan bumi. Selain percakapan di udara yang bertuba oleh jauhnya lintasan yang dilalui.

Masihkah bisa dikatakan apa yang ingin dikatakan?
O Manusia selalu berpersoalan dengan karyanya. Karya satu disusul dengan karya lainnya. Persoalan satu dilengkapi persoalan lainnya.
Dan dalam persoalannya manusia akan belajar mencari jawabannya.

Hari ini ada satu jawaban, yaitu saya bahagia dalam persoalan saya.





Rabu, 31 Oktober 2012

Hujan Setengah Hati

Hujan turun setengah hati meluruhkan panas sebentar. Setelah hujan reda suhu udara kembali seperti semula, tidak menyisakan sejuknya.

Kapan hujan bisa turun sepenuh hati meluruhkan segala rindu yang ditanggung oleh semua makhluk. Rindu dedaunan akan tunas barunya, rindu mawar akan kuncupnya, rindu tanah akan aromanya. Dan kerinduan manusia akan suara titik-titik air di atap serta dedaunan.





Begitu lama tak terdengar irama hujan meningkahi malam. Yang ada tinggallah bayang-bayang kelam dalam kegerahan.
Namun semuanya akan berubah karena musim pasti berganti. Bukankah akan ada kegembiraan setelah kesedihan.






Kamis, 25 Oktober 2012

Malam Idul Adha 2012

Tidak terasa Idul Adha datang lagi. Di sini suasana menyambut hari besar ini sepi-sepi saja walaupun menjelang magrib sudah terdengar suara takbiran dari musola terdekat. Bahkan saya baru ingat lagi setelah kawan mengucapkan salam untuk ini.
Kabar sanak saudara tak saya ketahui. Kami tak saling mengabari. Walau begitu saya berharap esok ada kejutan, ada acara rame-rame bakar sate di rumah.


Hari ini saya sudah menyelesaikan pekerjaan saya. Bunga saya sudah mekar sepenuh hati kini. Walau tidak ada kepuasan namun saya lega juga dan saya ingin cepat-cepat mengerjakan yang berikutnya.



Seringnya segala yang setengah hati ini berulang membuat saya kehilangan semangat.
Tak sepadan antara apa yang saya rasakan dengan kenyataan, menyadarkan saya untuk tidak membuang waktu percuma untuk memikirkan hal yang sia-sia.




Senin, 22 Oktober 2012

Hari yang membosankan di Rumah

Membosankan sudah terlalu lama saya rasakan, benar-benar membosankan walau banyak hal bisa saya kerjakan.
Suasana ini sangat bertentangan dengan jiwa saya. Derai tawa saya tenggelam dalam beku. segalanya tidak berpihak sedikitpun kepada segala sesuatu yang harusnya saya  dapatkan  di rumah saya sendiri.

Saya bisa menerima ini, namun saya terlalu banyak kehilangan kegembiraan. Mungkinkah keadaan ini akan  terus memperburuk mood saya.

Saya hanya bisa menghindari tekanan dengan jalan-jalan, menulis, menggambar atau  membaca. Jadi kanak-kanak lagi, hmm. sayang saya tidak suka berhitung.
Ada pesan instan dari kawan di Lagos yang dikirim kemarin, menanyakan keadaan kami. Saya tersenyum sendiri dengan salamnya yang bertubi-tubi. Senang rasanya.

Dua hari lalu juga ada pesan misterius. Saya berpikir lama untuk membalasnya karena mungkin pengirimnya hanya iseng. Saya berharap ia tahu sendiri saya siapa dan bisa menghargai saya.
  

 

Minggu, 21 Oktober 2012

Bagaimana Hari Saya Nanti

Matahari  selalu menandai permulaan dan pengakhiran  sepanjang waktu. Tetapi selalu saja ada pertanyaan bagaimana hari saya nanti. Harusnya saya sudah belajar dari hari-hari kemarin bahwa hari ini adalah  hari yang saya tanyakan.

Belajar memang tak akan selesai berapapun dekade yang kita lewati. Belajar yang paling sulit bagi saya adalah belajar berintrospeksi.
Kadang-kadang memang merasa bisa, tetapi nyatanya hal itu belum sepenuh hati. Pikiran seringkali berlawanan dengan perasaan. Wapaupun begitu saya berharap perasaan akan segera bisa menyesuaikan diri dengan pikiran.
Dan sepertinya apa yang saya terima saat ini membantu mempercepat penyesuaian itu.

Esok matahari akan menandai permulaan lagi.
Memompakan semangat baru  bersama waktu.


Bojonegoro

Sabtu, 20 Oktober 2012

Menjalani Waktu

Hidup sama artinya dengan menjalani waktu. Siapa yang langkahnya kuat akan cepat sampai tujuan.Dan tentunya yang tidak punya semangat akan terlambat.

Tidak terasa tahun sudah semakin tua dan generasi tahun berikutnya sudah bersiap-siap menjemput giliran. Adakah perubahan yang kita rasakan? Seharusnya ada. Pasti ada. Perubahan positif seberapapun kecilnya harus ada.

Dan apabila belum ada, masih ada waktu dua bulan untuk mempercepat langkah sambil menyelam dan minum air,hmm hmm, sehingga ada rasa puas ketika meninggalkan tahun ini.

Ya saya hanya bisa berteori. Inipun sekedar teori daripada melamun tidak ada arti.
Sebenarnya saya sendiri juga belum yakin apakah ada kemajuan kinerja saya.
Tetapi kadang-kadang saya berpikir evolusi telah terjadi. Dan saya harus menerima ini dengan besar hati.
Perubahan ini adalah perubahan citarasa secara perlahan dan tidak menimbulkan guncangan.

Saya berharap proses terus berjalan seiring dengan waktu dan akan menghasilkan buah yang manis, lebih manis dari waktu-waktu sebelumnya.






Jumat, 19 Oktober 2012

Flamboyan Tua di Luar pagar

Senja muram jatuh. Di dalam kelas suasana sedikit hening karena murid mengerjakan tugas. Badan terasa letih di akhir jam belajar. Tujuh jam nonstop saya mengajar karenanya saya harus beristirahat walau di kelas. Untuk itulah saya memberi tiga buah soal yang cukup untuk dua jam pelajaran ke depan.

Saya duduk sambil memeriksa pekerjaan murid. Sesekali satu dua anak maju mendekati saya untuk minta penjelasan dan ada pula yang menanyakan apakah pekerjaannya sudah betul.

Sekeliling mulai sunyi karena beberapa kelas sudah kosong. Di luar pagar tampak pohon flamboyan tua masih gagah dan bertambah kekar seperti petarung yang memperlihatkan otot-ototnya.
Flamboyan tua ini usianya hampir sama dengan usia sekolah kami. Tiga puluh dua tahun. Tiga puluh dua tahun telah berlalu berarti tigapuluh dua generasi sudah berganti.

Setiap kali saya mengajar di deretan kelas ini selalu melihatnya karena pintu dan jendela kelas menghadap ke sana.
Ketika saya mengajar pagi sering terdengar suara riuh burung yang berlompatan di sana.
Bergembira di antara dahan-dahan besar dan menyelinap di rimbun dedaunan.

Flamboyan tua menjadi saksi bisu semua yang terjadi di dalam kelas. Pada suatu hari nanti dia akan kehilangan pecinta beratnya. Karena harus beristirahat untuk masa pensiunnya.