Kamis, 18 Oktober 2012

Saya Meniru Siapakah?

Saya menulis status di facebook dengan kalimat yang meluncur begitu saja. Belum satu menit ada yang bertanya ucapan saya meniru siapa? Saya kesal. Meniru siapa? Meniru siapa?

Saya tidak tahu jawabannya karena saya tidak tahu siapa yang punya kesamaan dengan ucapan saya. Tadi pagi, saya mendengar suara burung tekukur di kejauhan. Suara itu dulu sering saya dengar di desa kelahiran ayah saat saya masih kanak-kanak. Ketika itu musim kering, tanah merekah dan rumpun bambu kecoklatan. Ada pilu dalam suara perkutut di sana kala itu.

Lalu saya menulis "Perasaan tidak punya batas untuk melintasi bukit kecintaan, menuruni jurang kebencian serta melewati lembah kerinduan"


Jadi saya tidak tahu saya meniru siapa.



Rumpun Bambu di Desa Asal Ayah

Rabu, 17 Oktober 2012

Harapan Saya

Azan subuh sudah terdengar, selesai sahur anak sulung saya berangkat lagi ke jakarta. Sebentar rasanya bertemu. Hanya semalam.Itu pun karena mencuri waktu dari perjalanan dinas ke Kupang. Saya terbangun saat dia memeluki saya dari belakang serta mengelus dan menciumi punggung saya.

Kini dia sudah pergi untuk penerbangan jam 06.30 nanti. Beginilah, sunyi merambati saya lagi. Semalam saya juga harus menyerah kepada anak kedua karena ia sudah mengambil keputusan untuk Makasar dengan alasan Indonesia adalah tempat di mana pun dia berada, untuk sekurangnya setahun kedepan.

Pada akhirnya saya menyerah untuk pilihan anak-anak. Saya hanya berdoa agar Tuhan senantiasa menjaga mereka dari segala kesulitan.

Jam 04.30 si bungsu datang. Pekerjaannya luar biasa. Sebagai pegawai Pusat Data Bank yang dipekerjakan di Bali menyita sebagian besar waktunya.
Mudah-mudahan ia tetap sehat dan tidak segera kembali ke kantor pusat.
Itulah harapan saya saat ini.


Selasa, 16 Oktober 2012

Hari ini Murid Saya Nurut

Gerimis pagi membuat saya ingin waktu tidak cepat bergulir. Masih ingin menarik selimut dan terlena kembali dalam nyenyak tidur yang semalam terlambat.
Saya masih mengingatnya. Saya belum lulus uji untuk mengabaikan dan melupakan.

Namun saya bisa menikmati segala yang ada dalam hidup ini dengan sepenuhnya. Rasa manis akan menjadi begitu nikmat setelah kita mencicipi rasa pahit. Dan itu akan terus berulang dalam kehidupan.

Seperti biasa ketika mengajar, semangat menyala, dan sungguh menggairahkan, tak ada insiden di kelas. Saya yakin hari ini saya memberi dan mereka menerima dengan sepenuh hati. Seperti sebuah kerjasama yang menguntungkan, hilang kejenuhan saya dan mendapatkan hiburan hingga dua jam terasa cepat berlalu.

Cuaca hari ini masih terasa sangat terik dan udara gerah.

Minggu, 14 Oktober 2012

Apakah Malam ini akan Turun Hujan?

Udara terasa panas.Kami menghabiskan senja menyusuri desa demi desa untuk membuang kebosanan di dalam rumah. Tak terasa sudah terlampau jauh sehingga saya memutuskan sekalian berkunjung ke rumah adik.
Obrolan panjang lebar selepas makan malam membuat malam berjalan tanpa terasa.
Di rumah saya lihat lagi obrolan di yahoo. Saya mendapat satu permintaan pertemanan. Saya tahu, calon teman itu adalah salah satu dari mereka yang sudah berdebat dengan saya. Perdebatan sengit saya melawan lima orang.Dan yang keenam ini tidak terlalu ekstrim. Dialah yang barusan meng-add saya sebagai teman.
dua hari perdebatan berlangsung. Puas rasanya menghadapi arogansi sekelompok orang dengan jurus jitu yang tidak menohok pendapat mereka melainkan dengan pengetahuan.
Pada akhirnya tidak seorangpun yang semula menyebut saya kafir tidak bisa mengata-ngatai saya lagi kecuali bertanya-tanya saya muslim apa jika tidak mempunyai identitas golongan? Islam dengan 5 rukun Islam dan 6 rukun iman adalah identitas saya yang universal. Dan saya hanya mengakui Islam yang Rohmatan Lilalamin. Saya cinta damai.
Itu yang saya katakan.

Perdebatan ini dimulai dari kebencian saya jika ada muslim yang suka menggunakan kata-kata kafir, laknat, dajjal dsb. kepada orang lain hanya karena berbeda mazhab dan agama. Lalu menyebut nama Tuhan dengan berteriak seperti mau perang. Sebenarnya saya hanya ingin mengatakan bahwa sikap yang seakan-akan kita yang paling benar lalu mencaci-maki, mencela dan mengkafirkan orang itu tidak mencerminkan Islam yang benar.Sebaliknya mencederai Islam.



Auu panasnya udara malam ini, beberapa menit lalu tedengar suara rintik hujan namun sudah pergi lagi. Apakah malam ini akan turun hujan.
Kalau boleh saya meminta turunlah hujan yang deras. Saya akan menguji diri apakah saya masih bisa bersedih mendengar suara hujan.

Sabtu, 13 Oktober 2012

Bunga Setengah Hati

Bunga ini dibuat dengan setengah hati. Dari inspirasi setengah hati. Karena hati yang tak bisa menjaga rasa sehingga kehilangan setengahnya. Tetapi saya sudah katakan saya akan menggenapkan kembali rasa yang hilang itu.






Dan bunga ini akar mekar semuanya pada waktunya.
Terima kasih Tuhan.

Tiga Hari tanpa Caecillia Hassan

Tiga hari kami tidak chatting karena kawan ini sedang cuti tahunan dan hanya ngobrol di facebook saja. Rencananya Senin depan ia berangkat untuk travelling ke Lagos. Ada rasa sepi juga tidak ngobrol, walaupun obrolan kami selama ini hanya berkisar pada keadaan sehari-hari tentang kesehatan, pekerjaan, cuaca, masakan dsb.

Obrolan facebook tidak senyaman obrolan di Yahoo. 20 hari ke depan. Gadis itu tak akan bercerita tentang keluarganya. Tiga ibu, sebelas saudara tinggal dalam satu rumah. Pekerjaan ayah petani. Pantaslah jika Caecillia hanya satu tahun sekali  pulang kampung yaitu pada hari natal. Walaupun hanya perlu empat jam dengan bus menuju kampungnya.

Terkadang ada rasa iba, bahwa hanya dia seorang yang bersekolah sampai Perguruan Tinggi. Sedang saudara-saudaranya perempuan yang sudah menikah ikut suaminya. Yang lain membantu ayahnya di sawah.
walau begitu semangatnya tinggi. Ia masih akan melanjutkan cita-citanya melanjukan kuliah lima tahun lagi setelah mengumpulkan uang. Waktu saya tanyakan kapan ia menikah, ia bilang menunggu lulus kuliah. Great!

Saya jadi ingat anak perempuan saya. Begitu besar semangat saya menyekolahkan dia sampai S2 ternyata belum tamat Sarjana ia menikah tanpa bisa saya larang. Akhirnya saya mengalah dan terus menyertainya sampai lulus walau terlambat tiga tahun. Masih ingat saya saat mengejar-ngejarnya sampai ke Sumatera rumah mertuanya, mengambilnya dan menjebloskannya lagi ke kampus. sementara bayi dan suaminya saya suruh tinggal bersama neneknya. Ternyata baru satu bulan suaminya menyusul. Berikutnya anaknya menyusul. Habis sudah. Waktunya hanya untuk mengurus keluarga. Pulang lagi ke Sumatera, Saya susul lagi dengan bujukan walau saya begitu kecewa waktu itu. Tetapi sudahlah, akhirnya ia lulus juga dan bisa bekerja.


Jumat, 12 Oktober 2012

Mengurus Murid Kenapa Menjadi Berat begini.

Dulu saya selalu bertanya-tanya mengapa banyak kawan yang bermasalah dengan muridnya? Ternyata memang benar, menghadapi murid sekarang ini berarti berhadapan dengan masalah. Masalahnya selalu sama dan itu-itu saja. Kelihatannya sederhana, melihat-lihat hp saja. Tetapi ini membuat kesal. Pasalnya aturan sudah jelas, dilarang mengaktifkan hp saat belajar.

Selalu saja ingin marah di depan kelas jika sudah terjadi hal seperti ini. Dan ini lama-lama terasa mengganggu perasaan juga. Terkadang juga terpikir untuk apa saya memberatkan diri untuk melayani mereka dengan sebaik-baiknya, sedang banyak dari mereka yang tidak menurut.
Berapa kali sudah tak terhitung kalinya saya mengeluarkan mereka, merampas hp, memarahi mereka. Namun...

Yah dalam seminggu mengajar sekarang, sama kesalnya dengan kekesalan selama mengajar satu tahun beberapa tahun lalu.
Ini bisa saja menjadi gejala bahwa guru juga akan banyak yang terkena serangan jantung kali.
Ah gak mau.