Minggu, 20 November 2011

Bulan Kebosanan


Bulan November sepertinya menjadi bagian dari waktu yang membosankan. Tidak banyak perubahan jumlah postingan para blogger yang saya ikuti. Saya pikir hanya saya yang mulai malas posting, ternyata rata-rata mereka menulis hanya satu judul dalam bulan ini.Bahkan beberapa blogg tidak bertambah dan ada yang sudah tidak aktif lagi.

Hari ini keletihan selama seminggu terakhir mulai berkurang. Perjalanan selama lima hari ke Jawa Timur membuat kondisi fisik dan mood tidak terlalu baik.
Acara pernikahan itu sudah terlewati.Dan sekarang rekondisi seperti semula sedang berjalan. Mengenali lagi keadaan dan kebiasaan di rumah, lingkungan dan tempat kerja.
Beruntung saya punya asisten, mahasiswa PPL yang sedang praktik mengajar. Kusuma Dewi, gadis yang sangat setia dan penurut. Walaupun beberapa RPPnya saya coret untuk diulang kembali, ia tidak tampak kesal.
Dan dengan penuh tanggungjawab ia selesaikan semua tugas yang saya limpahkan kepadanya. Sore nanti kami akan berkonsultasi dan mengajar bersama lagi.
Saya senang ngobrol dengannya, ia selalu mengabarkan semua kegiatannya seperti cerita seorang anak kepada ibunya. Mmm..ibunya sudah tidak ada.

Sabtu, 05 November 2011

Oooo....Cukup Senang


Jam empat pagi hari ini saya sudah di dapur. O..O ada panggilan yang tak terjawab. Sayang saya baru tahu dan saya harus segera berangkat. Kalo saja tadi saya tahu wah pasti menyenangkan karena cukup lama kami tidak ngobrol.
Siang ada enam panggilan lagi.aaah saya pasti membuat kesal. saya panggil balik namun...
Tetapi saya cukup senang juga masih diingat teman. Seharian kemarin adik saya juga mengatakan kekesalannya jika menelepon saya. Begitu pula adik saya di Sumbawa barusan juga mengatakan kesal karena saya sulit dihubungi.
ya...ya memang banyak yang harus saya kerjakan. Sedangkan hp berada di kamar.

Sore ini saya menghubungi teman lagi dan gagal lagi.Barangkali rasa penasaran ini akan membuat kami lebih enjoy bercerita pada suatu saat nanti.

Jumat, 04 November 2011

Gempa sesaat lalu

Mengejutkan suara getaran atap rumah malam ini pada pukul 23.05 WITA.Menyadari ini gempa bumi saya segera menuju pintu depan sambil memanggil anak saya di lantai dua/
Hanya beberapa detik saja dan suasana tetap sepi tak ada seorangpun yang panik. Gempa ini bergerak naik turun sehingga tidak begitu terasa bergoyang.
Saya ingin mengabarkan tetapi pada siapa, malam begini kerabat juga sudah pada tidur. Akhirnya ya sekarang baiknya tidur saja, mata saya sudah sangat mengantuk
Saya berdoa agar saya melihat lagi hari esok.Dan harus lebih baik dari hari ini.
Selamat malam.

Kamis, 03 November 2011

Hentakan Hujan yang Sama

Hentakan suara hujan di atap fiber glass sore ini masih sama dengan hujan tahun lalu. Bedanya suasana hujan sore ini tidak lagi berarti apa-apa.Hujan enggan berlama-lama bisa dinikmati.Beberapa menit saja berlangsung kemudian meninggalkan basah di dedaunan dan ranting pepohonan. Butir-butirnya berjatuhan ketika udara kembali bergerak.
Indahnya butiran air hujan yang masih menempel di pucuk daun dan di sudut-sudut ranting, sebenarnya tidak ada istimewanya, hanya perasaan rindu yang membuat pemandangan ini menjadi indah.
Betapa manusia mempunyai rasa rindu, rindu akan apa yang kadang-kadang tidak kita tahu.
Tidak kurang-kurang penyair yang meratapi kerinduannya kepada sesuatu yang samar, seperti Amir Hamzah dalam Buah Rindu, Y.E. Tatengkeng dalam Rindu Dendamnya. Berpuluh-puluh sajak Perancis Jacquez(?) juga berbicara tentang rindu akan Hujan yang Turun di Bress.Belum lagi Kahlil Gibran dalam Sayap-sayap Patahnya.
Kerinduan kepada kekasih yang tidak pernah dilihatnya sampai akhir hayat.
oooooh

Rabu, 02 November 2011

Tanaman saya sudah gondrong

Begitu sibuknya sampai-sampai hari libur pun saya tak punya waktu untuk mengurus tanaman. Ada tiga tanaman hias yang perlu perawatan saya yaitu bonsai beringin dan pohon Dewa Ndaru.
Setelah hujan usai sore ini ketiganya saya pangkas. Aroma daun Dewa segar merangsang dan menyehatkan. Saya suka baunya yang khas saat pucuk-pucuk rantingnya dipangkas. Daun-daunnya yang muda kecil kemerahan mengkilat membuat mata tak bosan melihatnya. Sebagian ranting tanaman ini melindungi bingkai jendela dari terik matahari di siang hari. Dan menjadi hiasan dari balik jendela kaca.
Matahari sore sudah menyiramkan cahaya keemasannya. Saya ingin beristirahat dan menunggu lagi kalau ada kabar dari luar sana. Tenyata sama sekali tidak ada kabar yang masuk di ponsel saya. Ya biarlah saya menulis saja. Menulis ini mengantar rasa kantuk yang tadi terabaikan. Saya ngantuk sekarang, saya mau menuruti kelopak mata saya yang mulai redup dan pasti kuyu. Baik, selamat tinggal matahari saya akan menyongsong senja dengan mimpi-mimpi yang sudah melayang-layang di benak saya. Dag..

Selasa, 01 November 2011

Dua November 2011

Sejak akhir Oktober harapan akan bulan November ini harus lebih baik dari sebelumnya terus bergulir dalam pikiran saya. Ada satu moment penting dalam kehidupan saya yang terlindas begitu saja. Moment itu telah berubah menjadi kegetiran dan tidak nyaman lagi untuk diingat-ingat. Moment itu ternyata menjadi awal kehancuran hidup saya.
Sejak ikrar janji itu diperdengarkan seribu jarum siap ditusukkan ke ulu hati saya.
Saya bertemu manusia yang super egois dan sombong.
Dalam minggu pertama perkawinan saya, karakter saya dibunuhnya secara perlahan. Berbagai kata dan kalimat yang menyakiti perasaan saya diumbar sampai-sampai saya hanya bisa menggeleng dan berlinangan air mata. Saya hanya bisa menyebut kata " Ibu!..Ibu!" setiap kali kepedihan saya tak tertahankan. Saya yakin ibu akan menangis andai beliau memahami hati dan perasaan anaknya yang tercabik saat itu.

Namun...sekarang saya sudah menjadi orang tua yang kuat. Sampai detik ini Ibu saya melihat saya sebagai perempuan yang beruntung dengan anak-anak yang baik dan tidak kekurangan suatu apapun.
Setiap kali Oktober datang saya gelisah. Ada satu hari di bulan itu yang membuat saya tidak nyaman. Saya benci tanggal itu, saya tersiksa sehingga saya menganggap tanggal itu tak ada. Dan barulah apabila bulan Oktober tergantikan saya merasa lega seolah terbebas dari sebuah belenggu.
yah..Selamat tinggal Oktober dan biarkan saya memulai bulan baru dengan perubahan' Saya ingin menuai harapan baru pada bulan ini.
Semoga tercipta lagi keindahan di taman hati dan perasaan saya. Amien.

Terbang Malam

Tepat pada 00.00 saat ini, terdengar gemuruh mesin pesawat membelah kesunyian malam. Suara itu menimbulkan rasa kacau dan menakutkan seperti suara air bah yang akan melanda. Panjangnya malam ini memperdalam kesedihan dan kesendirian.
Tetapi sebenarnya dalam kesedihan ini tersimpan kenangan yang sudah menyuburkan semangat hidup saya. Kesedihan ini bergayut di dada, memberat seperti butir-butir air hujan di ujung daun menunggu detik kejatuhannya.
Kesedihan ini tak punya suara untuk diteriakkan. Berjuta kata tidak akan bisa mengungkapkannya.
Bahwa manusia punya kelebihan dibandingkan makhluk lain, adalah apa yang ada di dalam dadanya.Kalbu.Kalbu manusia kaya akan rasa.Dan sayatan kesedihan yang ada di dalamnya lebih tajam dari sayatan mata pisau.
Hati manusia yang memerintahkan perasaan untuk bersedih dan sebaliknya.Apabila pikiran tidak pandai mengendalikan hati niscaya hati manusia akan melakukan semua kehendaknya dengan semena-mena.
Karenanya menahan kesedihan adalah pengendalian.Biarkan rasa itu pergi, terbang bersama malam mencari landasannya sendiri.